Tanam Mangrove, Rawat Ciptaan demi Generasi Mendatang

Feature181 Views

Semangat merawat bumi diwujudkan melalui peringatan Hari Mangrove Dunia 2026 yang mengusung tema “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang”.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026 di kawasan pesisir Pasir Sakti, Lampung Timur ini menjadi ajakan bersama untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini didukung Komunitas Jesuit Kolese Kanisius Jakarta dan diikuti masyarakat setempat. Hadir pula tujuh mahasiswi dari Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur yang sedang studi di Yogyakarta dan Solo.

Mereka didampingi Astuti Sitanggang bersama mahasiswa dari Binus University dan mahasiswa dari STIE Gentiaras, Orang Muda Katolik (OMK), umat dari Bakauheni, para Suster Hati Kudus, anggota WKRI, serta komunitas peduli lingkungan dari Keuskupan Tanjungkarang.

Seluruh peserta bergabung bersama masyarakat setempat dalam aksi penanaman mangrove dan edukasi lingkungan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap rumah bersama.

Ketua Kelompok Tani Mangrove Pasir Sakti, Samsudin, mengingatkan kepedulian terhadap bumi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, sekecil apa pun.

“Sekiranya orang-orang yang datang hari ini betul-betul cinta dengan bumi. Kalau tidak cinta bumi, pasti tidak akan datang hari ini di sini,” tutur Samsudin.

Ia mengenang kondisi pesisir Pasir Sakti pada tahun 1995 ketika hampir seluruh kawasan mangrove telah hilang sehingga garis pantai semakin rentan terhadap abrasi.

Berangkat dari pengalaman itu, ia bersama masyarakat perlahan mengembalikan hutan mangrove melalui penanaman yang dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, bumi terus menerima berbagai beban akibat aktivitas manusia, sementara balasan yang diberikan manusia sering kali belum sebanding.

“Apa timbal balik kita kepada bumi? Tanam. Payung yang terbaik itu adalah pohon,” tegasnya.

Samsudin juga menegaskan, upaya menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Menanam pohon di pekarangan sempit maupun menggunakan pot atau polybag tetap menjadi bentuk kepedulian yang berarti.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak seluruh peserta untuk memiliki semangat pengabdian yang tulus. Ia menyebutkan terdapat tiga karakter kelompok tani.

Pertama, kelompok yang harus selalu didorong agar mau bergerak. Kedua, kelompok yang hanya aktif ketika ada program dan bantuan. Ketiga, kelompok “sejati” yang tetap bekerja, baik ada maupun tidak ada bantuan.

Semangat kelompok terakhir itulah yang diharapkan tumbuh dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Tujuh mahasiswi dari Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur yang sedang studi di Yogyakarta dan Solo ikut menjaga kelestarian ekosistem mangrove.

Selain membagikan pengalaman, Samsudin juga memberikan penjelasan mengenai teknik penanaman mangrove. Bibit yang akan ditanam harus telah beradaptasi dengan air asin karena mangrove hanya dapat tumbuh optimal pada habitat pesisir yang dipengaruhi pasang surut.

Setelah pengarahan, para peserta diajak menaiki perahu menuju lokasi penanaman dan menanam bibit mangrove secara bergotong royong.

Moderator Laudato Si’ Keuskupan Tanjungkarang, Rm. Laurensius Totok, Pr mengajak seluruh peserta melihat persoalan lingkungan sebagai persoalan iman sekaligus tanggung jawab bersama.

Ia mengingatkan, berbagai kota pesisir kini menghadapi ancaman tenggelam akibat kerusakan lingkungan dan aktivitas manusia.

“Kota-kota di pantai terancam tenggelam. Jangan lupa, Jakarta juga salah satu kota yang terancam tenggelam,” ucapnya.

Ia menjelaskan penurunan muka tanah di Jakarta yang mencapai sekitar 11 sentimeter setiap tahun merupakan dampak dari penyedotan air tanah yang tidak terkendali serta pembangunan yang masif.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan alam.

Mengutip ajaran Paus Fransiskus, Rm. Totok mengajak umat untuk tidak bersikap tak acuh terhadap kerusakan bumi.

“Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk sadar akan kondisi bumi ini supaya kita mencoba memperbaikinya walaupun kecil,” ujar Rm. Totok.

Ia juga menegaskan bahwa kepedulian terhadap alam berakar pada kehidupan iman sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudate Deum.

Apabila bumi hanya dipandang dari sisi ekonomi, eksploitasi akan terus terjadi dan kerusakan lingkungan semakin sulit dipulihkan.

Rm. Totok turut mengapresiasi perjuangan Samsudin yang sejak tahun 1995 berupaya mencari bibit mangrove hingga ke berbagai daerah demi menghidupkan kembali kawasan pesisir Pasir Sakti.

Baginya, langkah itu menjadi teladan bahwa perubahan besar selalu diawali dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan tekun.

Aksi penanaman mangrove pada Hari Mangrove Dunia 2026 menjadi simbol kolaborasi berbagai komunitas lintas daerah dalam menjaga ciptaan.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya menanam bibit mangrove, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa merawat bumi merupakan panggilan bersama.

Pemulihan ekosistem mangrove diharapkan mampu melindungi pesisir dari abrasi, menjaga keanekaragaman hayati, menyerap karbon, serta mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.

Makra Genoveva Irim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *