Tubuhmu adalah Bait Allahmu!

Jendela700 Views

“Hidup tidak selalu tentang teoretik, namun juga harus praktik dan refleksi (praksis)” (Y.B. Mangunwijaya, Pr)

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mencatat terdapat 1.680 kasus penemuan mayat dan 451 aksi bunuh diri di seluruh Indonesia pada awal tahun 2023. Jumlah kasus bunuh diri tersebut cenderung meningkat daripada tahun sebelumnya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri, misalnya tidak dibelikan sepeda motor oleh orang tua, seorang anak gantung diri. Dari banyaknya kasus bunuh diri pada awal tahun 2023, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada tiga orang melakukan bunuh diri setiap harinya.

Kasus bunuh diri yang terjadi menjadi suatu keprihatinan yang harus segera diatasi. Selain melanggar nilai moral, kasus bunuh diri tentunya juga memengaruhi iklim di lingkungan sekitar. Orang yang melakukan aksi bunuh diri telah kehilangan akal sehatnya. Mereka tidak memikirkan secara lebih jernih tentang cita-cita, orang tua, saudari-saudara, teman, dan apa pun itu yang mereka miliki.

Faktor kesehatan mental

Menurut KBBI, mental adalah batin dan watak, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Berbicara soal mental, kata mental memiliki hubungan dengan kata jiwa. Jiwa adalah aspek manusia yang paling utama.

Menurut Louis leahy, jiwa merupakan prinsip kesadaran, interioristas, pemikiran, dan kebebasan. Jiwa manusia berada dalam tubuh manusia yang bersifat “tidak kelihatan” tetapi realitasnya ada. Antara jiwa (roh) dan raga (badan) harus dinamis sehingga dapat menjadikan manusia sempurna adanya.

Jiwa manusia memengaruhi tindakan raga manusia. Apabila jiwa memiliki gangguan khusus, tentunya raga juga bertindak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh jiwa. Gangguan jiwa juga berarti gangguan mental. Gangguan seperti ini menyebabkan tindakan manusia menjadi tidak benar atau menyeleweng.

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang di dalamnya disadari individu sehingga terwujud kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di dalam komunitasnya.

Kesehatan mental sangat penting bagi setiap orang. Mental yang sehat akan mendukung seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Terkhusus dalam berkegiatan, bekerja, belajar, berolahraga, dan sebagainya. Kesehatan mental sangat didamba-dambakan oleh setiap orang sehingga kesehatan mental mahal harganya.

Gangguan kesehatan mental dapat dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali. Gangguan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal seseorang. Pikiran yang berlebih (overthink) menjadi salah satu faktor gangguan kesehatan mental. Narkoba yang merusak saraf otak juga merupakan pengaruh dari kesehatan mental. Faktor sosial, misalnya merasa kesepian, diskriminasi atau stigma, KDRT, dan sebagainya.

www.freepik.com

Faktor-faktor tersebut tentunya mengganggu kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental yang terganggu secara berlebihan dapat mendorong seseorang menjadi depresi. Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional yang berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Dari perasaan yang negatif tersebut, munculah pikiran yang negatif sehingga dapat membahayakan diri sendiri, misalnya bunuh diri.

Gejala depresi dapat dilihat dari gejala fisik dan emosional (mental). Tanda awal seseorang mengalami depresi adalah lelah atau tidak ada energi, meskipun sudah beristirahat, gelisah atau sulit berkonsentrasi, kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari, perubahan selera makan atau pola tidur, rasa nyeri atau sakit yang muncul tanpa sebab tertentu. Gejala awal tersebut merupakan gejala fisik.

Sedangkan gejala emosional awal terjadi depresi yang sering kali dirasakan adalah rasa sedih, cemas, atau mudah marah yang terus-menerus, hilang minat untuk bergaul dan melakukan kegiatan yang biasanya disukai, menarik diri dari orang lain dan merasa kesepian, merasa tidak berharga, tidak punya harapan, atau merasa bersalah.

Ketika seseorang telah mencapai depresi yang berlebihan, seseorang dapat melakukan tindakan-tindakan berisiko yang tidak biasanya dilakukan, bahkan menyakiti diri atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. Depresi yang berlebihan tidak hanya merusak psikis manusia, tetapi juga fisik. Perlu adanya tindakan dari orang di sekitar, bahkan dari diri sendiri. Self care sangat perlu diperhatikan oleh semua orang. Setiap orang harus peduli dengan diri sendiri.

Pandangan Gereja

Gereja Katolik memandang bahwa hidup itu adalah anugerah dari Allah. Allah menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya (bdk. Kej. 1:26). Itu berarti, manusia dianugerahkan akal dan budi oleh Allah sendiri. Akal dan budi yang manusia miliki seharusnya dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk memuliakan nama Tuhan.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2281, menyatakan bahwa bunuh diri bertentangan dengan kecenderungan alami manusia untuk melestarikan dan mengabdikan hidupnya. Kasus bunuh diri tidak dibenarkan oleh Gereja Katolik, apa pun itu alasannya. Bunuh diri merupakan praktik yang bertentangan terhadap ajaran Kristus sendiri, yaitu supaya menjaga tubuh karena tubuh manusia adalah bait Allah (bdk 1Kor. 6:19).

Ajaran Gereja Katolik untuk menjaga tubuh adalah ajaran yang sangat manusiawi. Manusia yang terdiri dari jiwa dan raga harus bisa menjaga kedua aspek tersebut. Namun, satu hal yang sering terjadi adalah raga manusia yang tidak terjaga karena jiwa manusia juga tidak terjaga. Terjadi ketimpangan dalam diri manusia sendiri yang menyebabkan kerusakan pada kedua aspek manusiawi.

Melalui KGK 2281 dan surat Paulus kepada jemaat di Korintus, dapat disimpulkan bahwa Gereja Katolik tidak menoleransi tindakan bunuh diri. Hal itu karena memang tidak sesuai dengan ajaran Gereja, yaitu “Tubuhmu adalah Bait Allah”. Tindakan bunuh diri tidak sesuai dengan ajaran moral dan teologis, tetapi juga secara psikologis dan kesehatan mental. Seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri tentunya memiliki gangguan mental dan jiwa.

Banyaknya kasus bunuh diri seharusnya menjadi perhatian khusus bagi Gereja Katolik. Pendampingan Iman Remaja (PIR) dan kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) harus lebih mendukung daya tumbuh remaja dan orang muda dalam beriman. Iman harus membantu remaja dan anak muda dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Iman yang tumbuh dalam diri mendukung perkambangan psikis dan mental seorang anak dan remaja.

Refleksi sebagai Sarana Selfcare

Kata refleksi berasal dari bahasa Inggris reflection yang bersumber dari bahasa Latin Reflexio yang berarti tindakan mengasah kembali. Dalam bahasa Inggris, kata reflection berarti bayangan, pantulan. Dalam KBBI, kata refleksi berarti “gerakan, pantulan, di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban atas suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar”. Dari tiga sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa refleksi adalah suatu pantulan dari sebuah peristiwa yang telah berlalu yang dapat mengubah pola pikir dan emosi seseorang.

Melalui refleksi, seseorang diajak untuk semakin mengenal dirinya sendiri. Refleksi adalah salah satu metode untuk mengenal perasaan yang dirasakan. Tidak hanya perasaan, tetapi juga tindakan dan pemikiran yang telah dilakukan.

Dari perasaan dan tindakan yang telah dialami, seseorang bisa menarik makna. Makna tersebut yang sebenarnya dibutuhkan oleh seseorang. Makna dari setiap tindakan, pikiran, dan perasaan akan memenuhi kebutuhan manusia yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri.

Keheningan sangat dibutuhkan dalam melakukan refleksi. Susasana yang hening akan membantu batin dan pikiran menjadi lebih tenang/teduh. Batin dan pikiran yang tenang mendukung proses penelitian perasaan dan pikiran yang telah dialami. Dari situlah akan menumbuhkan kesadaran (awareness) sehingga seseorang dapat semakin sadar dengan dirinya sendiri.

Kesadaran yang tumbuh dalam setiap pribadi akan sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Pada akhir dalam proses berefleksi, hendaknya membangun niat konkret yang akan dilakukan. Pengalaman yang telah direfleksikan akan menumbuhkan niat baik sesuai dengan perasaan dan pikiran yang telah dilalui. Niatan tersebut alangkah baiknya jika benar-benar dilakukan karena niat tersebut keluar dari kesadaran sendiri.

Seseorang yang melakukan aksi bunuh diri dapat dimungkinkan karena orang tersebut kurang dapat mengaktualisasikan dirinya. Sesorang tersebut kurang dapat memahami apa yang menjadi perasaan dan pikirannya sehingga ia mengambil keputusan yang tidak tepat karena pikiran dan perasaan yang dirasakannya. Pikiran dan perasaan ini harus selalu disadari dan diambil maknanya, salah satu metodenya adalah dengan melakukan refleksi.

Refleksi harus dilakukan secara rutin dan konsisten. Buah dari refleksi harus benar-benar dapat dijalankan oleh setiap orang yang melakukan refleksi. Dengan demikian, seseorang hidup tidak hanya sekadar teori atau idealisme yang telah ada, tetapi sesuai dengan apa yang dibutuhkan dengan dirinya. Proses refleksi ini mengajarkan seseorang tidak hanya hidup berdasarkan teori, tetapi juga praktik. Sebab, niat yang telah dibangun dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Joseph Quathino Putranto Wibowo (Seminaris Tahun Keempat Seminari Mertoyudan)

SUMBER:

  1. Leahy, Louis. 2001. Siapakah Manusia? Yogyakarta: Kanisius.
  2. Meilanny Budiarti Santoso, Dessy Hasanah Siti Asiah, Chenia Ilma Kirana, Bunuh Diri dan Depresi dalam Perspektif Pekerjaan Sosial. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 4 No: 3 Hal 390 – 447 Desember 2017
  3. Unicef Indonesia. 2022. Apa Itu Depresi?: Kenali tanda-tanda depresi pada anak serta kiat untuk membantu mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *