Di berbagai jenis media saat ini tidak jarang kita lihat kasus-kasus besar yang terkait dengan relasi romantis, seperti kekerasan dalam pacaran. Beberapa kasus tersebut sampai harus diselesaikan secara hukum.
Kekerasan dalam pacaran bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan verbal melalui ucapan-ucapan yang menjatuhkan harga diri, kekerasan fisik melalui tindakan melukai tubuh pasangan, kekerasan online seperti penyebaran chat atau video pribadi dengan motif pencemaran nama baik, atau kekerasan seksual.
Kekerasan dalam pacaran merupakan perilaku salah satu pasangan berusaha mengontrol, melarang, atau mengendalikan perilaku pasangannya sehingga menyebabkan rasa takut, kehilangan kebebasan pribadi, atau membuat ketergantungan yang tidak sehat pasangan di dalam relasi romantis.
Menjalin relasi romantis merupakan salah satu hal penting dalam tahapan perkembangan manusia, khususnya mulai dari masa remaja hingga dewasa awal. Secara alami, baik laki-laki maupun perempuan, merasakan ketertarikan pada lawan jenis dan memunculkan kebutuhan untuk berhubungan lebih dekat dalam relasi romantis atau biasa disebut pacaran. Relasi ini ditandai dengan adanya keintiman dan afeksi, termasuk di dalamnya dorongan seksual, yang membedakannya dari relasi lainnya, misalnya relasi persahabatan.
Jika seseorang mengalami perasaan tersebut dan mulai terlibat dalam relasi romantis, biasanya orang akan lebih bersemangat menjalani hari-harinya dan suasana hatinya didominasi oleh sukacita. Tidak hanya itu, suatu relasi dekat dan romantis juga menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial-emosional orang-orang muda, yang berdampak positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan psikologisnya.
Keterlibatan dalam relasi romantis juga dapat meningkatkan motivasi belajar, kerja, dan motivasi untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, yang dapat berbuah dengan meningkatnya beraneka prestasi. Tentu saja, semua manfaat tersebut hanya akan terasakan ketika relasi romantis yang dibangun adalah relasi yang sehat.
Relasi yang sehat tidak hanya dibangun oleh perasaan, tetapi juga dibutuhkan keterampilan berpikir dan bertindak secara rasional, yakni berupa pemikiran untuk menghargai pasangan sebagai pribadi unik yang perlu terus berkembang, kemampuan melihat suatu hal dari perspektif pasangan dan bukan melulu dari sudut pandang diri sendiri, serta ada kelekatan yang aman dalam arti tidak ada rasa posesif dan cemburu saat pasangan melakukan kegiatannya sendiri tanpa melibatkan kita.
Relasi yang sehat tersebut akan meningkatkan kesejahteraan personal dan interpersonal karena dapat mengurangi tekanan-tekanan psikologis, dapat menjadi tempat dan sarana “healing”, mendukung perkembangan pribadi, menambah makna hidup, serta adanya dukungan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.
Sebaliknya, relasi yang tidak sehat atau toxic akan berdampak pada rendahnya tingkat kesejahteraan dan fungsi psikososial dari pribadi-pribadi yang terlibat dalam relasi tersebut. Relasi toxic biasanya diawali dengan ketidakseimbangan kekuasaan, ketidaksesuaian antara relasi yang diharapkan dengan relasi yang menjadi kenyataan, serta munculnya pelanggaran dan kekerasan atau pelecehan baik secara fisik, seksual, dan emosional/psikologis.
Lantas, bagaimana mengenali apakah sebuah relasi sehat atau tidak alias toxic? Tentu saja, sebenarnya tidak ada ketentuan baku mengenai relasi sehat dan toxic yang berlaku bagi semua relasi romantis, karena tiap relasi bersifat unik karena juga dibentuk oleh dua orang yang berbeda. Namun, setidaknya ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menilai apakah relasi seseorang sehat atau toxic.
Sebuah relasi, termasuk relasi romantis, dikatakan sebagai relasi yang sehat jika ada rasa saling percaya, terbuka berbagi bermacam-macam perasaan dan nyaman menjadi diri sendiri tanpa kehilangan privasi, dapat saling menetapkan batasan yang sehat dengan mengungkapkan kebutuhan atau keberatan dengan nyaman, saling menghargai dan tidak merendahkan satu sama lain, ada cinta tulus dan afeksi yang ditunjukkan dengan kebutuhan untuk menjaga kedekatan fisik, serta komunikasi yang baik.
Tentunya relasi yang sehat bukanlah relasi tanpa konflik, tetapi relasi yang mampu mengatasi perbedaan pendapat yang memicu konflik tanpa ada unsur serangan personal. Ada kalanya konflik yang terjadi justru dapat menguatkan relasi karena menjadi sarana mengungkapkan kebutuhan dan aspirasi pribadi yang diperlukan untuk dapat saling memahami pasangan.
Relasi yang sehat juga ditandai dengan adanya saling memberi dan menerima. Tentunya saling memberi dan menerima ini bukan berarti selalu 100% setara. Ada kalanya satu orang lebih membutuhkan bantuan dan dukungan dibanding lainnya, atau satu orang lebih banyak memilih untuk berperan sebagai pelindung. Ketidaksetaraan ini tetap sehat sepanjang masing-masing pribadi merasa baik-baik saja.
Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa suatu relasi antarmanusia itu bersifat dinamis, demikian juga dalam relasi romantis. Relasi dapat berubah dan tidak selalu sehat. Jika relasi menjadi tidak sehat, tentunya akan mengganggu kesejahteraan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, kita perlu mengenali tanda-tanda relasi yang tidak sehat.
Indikasi sederhana suatu relasi dikatakan tidak sehat adalah ketika hal-hal buruk sering terjadi melebihi hal-hal baik, yaitu sering muncul perilaku yang menyakitkan salah satu atau keduanya. Beberapa tanda relasi toxic lainnya adalah ketika ada usaha salah satu mengontrol perilaku pasangannya, mulai ada kecemasan untuk mengutarakan pendapat, merasa harus menghentikan minat positif yang disukai, banyak kritik berlebihan mengenai apa yang dilakukan atau baju yang dipakai, tertekan untuk menjadi diri sendiri, merasa bahwa melewatkan waktu berdua adalah suatu kewajiban, kehilangan privasi pribadi, mengabaikan kebutuhan diri karena terus memenuhi keinginan pasangan, serta komunikasi yang minim.
Beberapa hal tersebut mungkin dapat bersifat sementara dan dapat diatasi bersama, baik secara mandiri atau melalui konsultasi dengan ahli. Jika menyangkut masalah yang lebih serius, seperti perilaku kasar dan kekerasan, maka yang menjadi perhatian utama sebaiknya adalah menjaga keselamatan dan keamanan diri, dan bersiap untuk melepaskan relasi tersebut jika memang tidak ada upaya kuat untuk membangun relasi yang sehat kembali.
Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma


