Ibu saya penggemar sayur-sayuran. Bila ibu lain lebih memilih berbelanja di pusat perbelanjaan modern, ibu saya lebih suka blusukan di pasar tradisional. Ia tampak asyik sekali membolak-balik sayuran dan buah-buahan. Sementara saya membawakan dompetnya. “Kula gendongke, Nyah. Seikhlase (Mau saya pikulkan, Nyonya? Bayarnya seikhlasnya),” terdengar suara lirih dari samping saya.
Saya menoleh ke wanita setengah baya memakai selendang dan keranjang di punggungnya. Rupanya ia buruh gendong. Semula, ibu saya menolak. Namun, setelah mengetahui tas kresek yang disediakan penjual sangatlah tipis, barulah ia mau menggunakan jasa buruh gendong itu.
Ia menemani ibu saya berkeliling pasar. Dengan cekatan ia menerima barang yang sudah dibayar lalu diletakkan di keranjangnya. Saya bertanya padanya, “Ibu kerja mulai siang, ya, Bu? Apa nggak capai kalau belanjaannya banyak?”
Dengan Bahasa Jawa halus ia menjelaskan, “Ya tidak, Mbak. Hasilnya buat biaya sekolah anak. Saya bekerja setelah selesai mengurus rumah dari siang sampai jam lima sore. Lalu, saya lanjut mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”
Saya mengamati wajahnya yang basah bermandikan keringat. Punggungnya yang bungkuk akibat memikul beban berat. Uniknya, wajahnya terus dihiasi senyum ramah. Ibu itu sabar mengikuti pelanggannya berbelanja. Setelah tugasnya selesai, ia menerima berapa pun upah yang diberikan. Sungguh luar biasa pengorbanannya bagi keluarga.
Saya teringat pula keledai yang dipakai Yesus saat memasuki kota Yerusalem. Binatang yang dianggap bodoh, lambat, dan biasa mengangkut beban berat itu dipakai-Nya untuk menjalankan misi terakhir-Nya di dunia ini.
Begitu pula keterlibatan kita di Gereja. Ada orang-orang yang tak tampil dan menonjol. Mereka bukanlah ketua bidang, ketua lingkungan, atau pemimpin kelompok kategorial, tetapi mereka selalu sigap bila dimintai bantuan.
Bidang yang tak tersorot seperti menyiapkan konsumsi petugas Misa, menyegarkan bunga dekorasi altar, membersihkan tempat lilin di sekitar patung, atau menjaga kendaraan umat saat Misa. Mereka melayani dalam diam, ketulusan, dan kesederhanaannya. Tanpa bantuan mereka, Misa tak akan berlangsung rapi dan lancar
Terkadang kita berpikir untuk menyenangkan hati Tuhan, kita harus punya talenta yang istimewa. Padahal yang paling Tuhan perlukan yaitu kesediaan, hati yang terbuka, dan kesetiaan mengerjakan hal-hal kecil.
Ibu kuli panggul pasar dan keledai yang ditungganggi Yesus bukanlah sosok yang istimewa. Mereka tidak diperhitungkan di mata dunia. Namun, mereka mau berjuang dan berkorban untuk orang yang dikasihinya.
Tak ada pribadi yang terlalu lemah, kecil, dan bodoh yang tidak bisa berkarya bagi Tuhan. Apa saja peran kita, sesederhana apa pun tugas yang dipercayakan pada kita, ingatlah hal ini: Tuhan memerlukan kita untuk membantu menyalurkan belas kasih-Nya bagi sesama.
Ivonne Suryanto













