Sinode Pendidikan Sarana Mengepakkan Sayap Sekolah Katolik

Papan Tulis856 Views

Pendidikan adalah dasar dan pondasi dari sebuah Bangsa untuk melaksanakan suatu peradaban maju dan berkualitas demi tercapainya pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menyatakan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggungjawab”.

Bertolak dari kutipan di atas, maka lembaga pendidikan Katolik selalu berusaha untuk mengembangkan pembentukan karakter peserta didik lewat proses dan dinamika pembelajaran yang berlangsung baik di kelas maupun luar kelas secara utuh dengan memperjuangkan nilai (value) di dalamnya. Bisa dikatakan bahwa pendidikan karakter, menjadi salah satu kekhasan atau keunggulan dari lembaga pendidikan Katolik di mana pun berada, termasuk yang ada di Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Untuk itu, lembaga pendidikan dan sekolah Katolik yang mendidik anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa ini, selalu memberikan pendidikan yang utuh dan seimbang terkait; olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak. Tujuannya dengan pendampingan yang menyeluruh ini, diharapkan peserta didik bisa mengambil peran aktif dalam perkembangan zaman di kehidupan lingkungan sekitarnya sebagai pembaru perubahan yang baik.

Pada dasarnya, pendidikan di lembaga dan sekolah Katolik yang memiliki harapan: 1) pendidikan Katolik bertujuan agar terjadi pendewasaan pribadi sampai kepada mampu mendalami misteri keselamatan, menyadari kurnia iman dan bersujud kepada Allah dan roh kebenaran; 2) membentuk, mengubah, dan menentukan hidup manusia melalui sebuah proses agar mampu menyadari diri, menempatkan diri, mengambil sikap, dan tindakan secara bebas untuk mencapai titik tertinggi sebagai manusia.

Berkaitan hal tersebut, ketika pendidikan karakter ini benar-benar diperjuangkan dalam proses dan dinamika untuk pendampingan peserta didik lewat pembelajaran utuh, maka tidak mustahil tujuan yang diharapkan akan terlaksana dan terwujud secara nyata sebagai kekhasan serta keunggulan sebagai lembaga pendidikan dan sekolah Katolik yang berkualitas.

Guna membantu lembaga pendidikan dan sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang kembali bisa mengepakkan sayapnya pada era zaman modern dengan perkembangan teknologi yang pesat, maka Sinode Pendidikan 2023 dicanangkan guna mencari solusi atas keprihatinan atas permasalahan maupun hambatan untuk bisa menjawab tantangan zaman.

Sekolah Katolik selalu didasarkan pada tujuan utama, untuk kemuliaan Allah yang lebih besar.

Berdasarkan pencanangan Sinode Pendidikan tersebut dan telah dilaksanakannya di lembaga pendidikan serta sekolah Katolik di seluruh KAS, maka dapat diperoleh hasil seperti pada Surat Gembala Uskup Agung Semarang, 4-5 Mei 2024, sebagai berikut.

  1. Sekolah-sekolah Katolik mesti menempatkan proses pertumbuhan DISIPLIN sebagai karakter hidup yang mesti terus-menerus dihidupi oleh seluruh anggota komunitas.
  2. Sekolah Katolik, komunitas, keluarga, dan pribadi-pribadi diundang saling bergandengan tangan untuk berjejaring, saling mendukung dan bersama-sama memberikan kontribusi atau sumbangsih untuk mengembangkan pendidikan dalam semangat kolegialitas (kerja sama) dan solidaritas (belarasa). Dengan cara inilah kita saling membantu meringankan beban penyelenggaraan pendidikan.
  3. Para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan sudah seharusnya berani dan siap untuk terus belajar serta setia mengembangkan diri dalam terang nilai-nilai Kristiani melalui kesaksian hidup yang inspiratif bagi anak dan peserta didik. Karena itu bina lanjut guru, pembinaan karakter dan iman, serta iklim belajar yang mendewasakan perlu dilakukan secara terus-menerus. Dengan usaha ini, keluarga dan sekolah Katolik bukan hanya menjadi tempat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, tetapi sungguh-sungguh akan menjadi tempat untuk belajar kehidupan.

Berdasarkan dari hasil ketiga hal tersebut, sangat penting untuk menjadi perhatian bersama dalam menindaklanjuti Sinode Pendidikan di komunitas sekolah dan keluarga. Hal ini menuntut kesadaran akan pentingnya buah-buah Sinode ini, dengan perlu terus menggelorakan dan memperhatikan dua hal mendasar berikut ini.

Pertama, kontribusi dalam berbagi dan kesaksian hidup bagi anak-anak di sekolah dari umat, imam, suster, bruder, dan lain-lain. Kedua, seluruh yayasan dan lembaga penyelenggara pendidikan Katolik di KAS berpartisipasi aktif dalam gerak keuskupan menyelenggarakan Forum Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) atau formasi iman berjenjang dan berkelanjutan di tingkat sekolah masing-masing. Oleh karena itu, diperlukan memiliki keterbukaan hati, sabar, dan teliti serta keterbukaan pikiran untuk merespons serta menindaklanjuti segala sesuatu yang ada.

Terkait dengan hasil Sinode Pendidikan di lembaga pendidikan dan sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang kita semua harus memiliki optimisme serta kepercayaan diri yang tinggi bahwa permasalahan/hambatan ini bakal teurai dengan kolaborasi semua pihak dan terang Roh Kudus dari Tuhan sendiri. Sebab, pendidikan di sekolah Katolik bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan, keuskupan sebagai kepanjangan Gereja, orang tua, akan tetapi juga seluruh umat beriman yang ada di dalamnya.

Maka, dalam hal ini dibutuhkan spritualitas, yaitu suatu yang menggerakkan hasrat dan tindakan pribadi atau komunitas manusia, tetapi juga dapat dimaknai sebagai gerakan itu sendiri, maka bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis karena itu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan nyata untuk dilaksanakan serta wujudkan. Konsep inilah yang harus selalu diperjuangkan dan dikembangkan oleh lembaga pendidikan dan sekolah Katolik beserta keuskupan, serta seluruh umat beriman yang ada di dalamnya secara bersama-sama bekerja sama dan berkolaborasi demi tujuan bersama mengepakkan sayap kembali lembaga pendidikan dan sekolah katolik bertumbuh serta berkembang dengan baik.

Oleh karena itu, harus dapat memaknai “hidup harus dihayati dengan melangkah ke depan, tetapi hanya dapat dipahami dengan menoleh ke belakang”, artinya pengalaman pergulatan untuk mengepakkan sayapnya kembali bagi lembaga pendidikan Katolik maupun sekolah Katolik ini selalu didasarkan pada tujuan utama yaitu, untuk kemuliaan Allah yang lebih besar.

Chr. Danang Wahyu Prasetio (Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *