Semangat Aggiornamento dalam Gereja Katolik: Perspektif Jean-Francois Lyotard

Jendela898 Views

Gereja Katolik dengan semangat pembaruan aggiornamento yang digaungkan oleh Paus Yohanes XXIII dan terealisasi dalam Konsili Vatikan II sungguh berpengaruh besar dalam perkembangan hidup meng-Gereja di era modern ini. Apalagi, aneka pembaruan itu bukan hanya terbatas pada lingkup Gereja, melainkan termasuk dalam penempatan diri Gereja di tengah masyarakat, lingkungan sekitar, dan umat beragama lain.

Hal ini yang membuat semangat untuk berdialog dan membuka diri dengan umat beragama lain mulai digaungkan dan dihayati oleh Gereja hingga saat ini sehingga inklusivitas dalam keberagaman sungguh menyatukan pihak Gereja dengan masyarakat yang tampak dari adanya dukungan untuk senantiasa eksis dan mewartakan Injil di tengah dunia dengan aneka penyesuaian dengan lingkungan atau masyarakat setempat.

Semangat inilah yang kiranya membarui Gereja dalam karya pelayanan pastoral dan pewartaan iman Gereja yang tadinya tertutup dan terbatas hanya pada lingkup Gereja, sekarang terbuka kepada semua orang dengan tujuan akhir, yakni bonum commune.

Kiranya, semangat pembaruan diri Gereja memiliki keterkaitan dengan ajaran yang diajukan oleh Jean-Francois Lyotard selaku filsuf postmodern yang lahir dan besar di Inggris. Lyotard menyatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi titik tolak pemikirannya, yakni penolakan terhadap metanarasi, pluralitas narasi, dan pentingnya lokalitas dan pluralitas.

Penolakan terhadap metanarasi

Keterkaitan itu dapat kita lihat dari adanya cita-cita yang hendak dicapai oleh pihak Gereja dengan melihat situasi yang kurang bersahabat pada masa itu sehingga pewartaan dan kehadiran Gereja itu terkesan eksklusif dan bukan inklusif terhadap pihak luar. Hal ini tentunya berkenaan dengan kakunya penerapan ajaran Gereja pada masa itu yang tampak dari penerapan ritus Latin dalam Ekaristi yang berlaku di seluruh dunia tanpa mempertimbangkan konteks sosial masyarakat setempat dan gaya misa Tredentin yang sungguh minim keterlibatan atau partisipasi umat di dalamnya.

Penerapan secara universal inilah yang kiranya hendak dibarui oleh pihak Gereja dengan melihat situasi dan kondisi umat secara universal dan perkembangan iman umat yang nyatanya lebih masuk dan menerima dengan pewartaan secara lokal, berdialog, dan pengakuan akan ungkapan iman dalam berbagai adat dan suku bangsa yang ada di dunia ini. 

Pembaruan inilah yang kiranya menjadi angin segar bagi Gereja dan umat Allah dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman mereka yang sesuai dengan ajaran Lyotard mengenai peralihan antara metanarasi dengan aneka ajaran atau dogma yang diterapkan secara universal meskipun dipaksakan kepada narasi-narasi kecil yang lebih terarah kepada pluralitas, lokalitas, dan imanen sehingga lebih kontekstual dan aktual dengan kehidupan beriman umat Allah.

Pluralitas narasi

Pluralitas narasi berkenaan dengan adanya aneka narasi kecil yang berkembang dan lahir dengan aneka macam sudut pandang sesuai dengan kebutuhan atau penghayatan setempat sehingga bersifat lokal dan imanen. Hal ini sungguh berkaitan dengan pembaruan pihak Gereja yang secara khusus dibahas dalam Konsili Vatikan II, yakni pentingnya inkulturasi, inklusivitas, dan relevansi kontekstual.

Tentunya, pandangan ini terarah pada keinginan Gereja untuk membuka diri dengan dunia dan hadir secara konkret dalam kehidupan masyarakat yang tampak dari penggunaan bahasa lokal dalam perayaan liturgi atau doa-doa yang sekaligus makin banyak lahir lagu-lagu dalam bahasa lokal maupun gaya lokal yang makin memperindah dan memperkuat penghayatan iman umat tetap dengan esensi yang tidak berubah dari perayaan liturgis itu sendiri.

Hal ini juga tampak dari penyesuaian tradisi Gereja Katolik pada budaya lokal yang bisa kita lihat dari perpaduan antara praktik keagamaan dengan kebudayaan dalam kerangka “inkulturasi atau akulturasi”. Tentunya, secara nyata dapat kita lihat di daerah Jawa, yakni Candi Hati Kudus yang memadukan antara candi Hindu dengan patung Hati Kudus Yesus gaya Jawa yang sungguh makin memperindah suasana inkulturasi itu sendiri. Penerimaan akan narasi lokal sesuai konteks budaya sehingga bisa dipadukan antara doa-doa atau perayaan liturgi Gereja dengan budaya setempat.

Pentingnya lokalitas dan pluralitas

Kebenaran sepenuhnya tidak dapat dipaksakan berlaku secara universal karena masing-masing wilayah dan masyarakat itu memiliki dinamika, ajaran hidup, dan paham-paham yang berbeda sehingga penyesuaian dan penerimaan akan perbedaan itu mesti diupayakan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan meng-Gereja yang secara khusus dilakukan dengan keterbukaan diri untuk berdialog dan saling menghargai antaragama yang sesuai dengan isi dokumen Gereja Nostra Aetate.

Dialog dengan pendekatan secara inklusif akan memudahkan Gereja untuk masuk dalam situasi dan realitas umat karena adanya kemauan Gereja untuk memahami dan merangkul kehidupan mereka dengan aneka persoalan hidup mereka. Bisa jadi, penyelesaian akan masalah pastoral tersebut secara lokal ialah dengan memahami dan mengenal konteks masyarakat setempat yang bisa kita namakan dengan kebijaksanaan pastoral yang tidak serta-merta semua medan karya pelayanan pastoral dapat diselesaikan dengan cara atau metode yang sama. Butuh melihat aspek lokalitas dan pluralitas di dalamnya sehingga penyelesaiannya dapat disesuaikan dengan konteks masyarakat setempat.

Kesimpulan

Ajaran Lyotard yang berkembang pada era postmodern amat berkaitan dengan pembaruan yang dilakukan oleh Gereja dengan semangat aggiornamento yang digagas oleh Paus Yohanes XXIII. Tentunya, pembaruan ini akan berimplikasi baik pada kemajuan dan perkembangan Gereja ke depan, khususnya dalam perkembangan iman umat karena Gereja sungguh hadir di tengah masyarakat dan bersedia untuk mau terbuka dengan situasi zaman kini yang tampak dari semangat inklusif Gereja.

Hal ini tentunya akan makin memudahkan Gereja untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia dengan memahami dan menerima tradisi lokal dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tradisi lokal tetap dengan berusaha untuk menjaga inti dari ajaran dan tradisi Gereja yang diteruskan dari para rasul (traditio apostolica).

Bonaventura Ricky Yosan (Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Santo Thomas Medan)

Sumber:

Gaut, Willy. Filsafat Postmodernisme Jean-Francois Lyotard. Flores: Penerbit LEDALERO, 2011

Setiawan, Johan dan Sudrajat, A. Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya Terhadap Ilmu Pengetahuan. Jurnal Filsafat, 28(1). 2018

Paus Yohanes Paulus II. Nostra Aetate (Pada Zaman Kita). terj. R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1991.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *