Sleman-Di Omah Petroek Karangklethak Wonorejo, Pakem, Sleman,Yogyakarta berlangsung Sekolah Basis misum kelima. Acara ini berlangsung dari 2-5 Agustus 2024 ini adalah kolaborasi Majalah BASIS, Kepustakaan Gramedia (KPG), Periplus, Komunitas Utan Kayu dan Omah Petroek. Acara ini diikuti 75 peserta dari Jakarta, Jawa Timur dan Yogyakarta.
Sekolah Basis pada pada tahun 2024 ini mengambil tema besar Analisis Sosial Politik Membaca Tanda-tanda Zaman. Membaca tanda-tanda Zaman sendiri adalah rubrik pembuka di halaman awal Majalah BASIS.

Di katakan Pemimpin Umum/redaksi Majalah BASIS Romo G.P. Sindhunata, SJ, sekolah Basis ini bertujuan untuk belajar bersama-sama dan menjadi cerdas bersama untuk memotret dan melihat situasi dari zaman ke zaman dan masa depan dengan berbagai sudut pandang.
“Sekolah Basis ini adalah sebagai media dan belajar bersama yang diselenggarakan Basis, KPG, Komunitas Utan Kayu dan Periplus serta Omah Petroek. Tujuan dari sekolah ini adalah bagaimana kita bisa belajar bersama dari berbagai pakar maupun penulis melihat tanda-tanda zaman. Dari Omah Petroek kita memotret situasi keadaan dari berbagai sudut padang keilmuan melihat dunia ini,” terang Romo Sindhu di sela-sela berlangsungnya Sekolah Basis.

Sementara itu Romo Setyo Wibowo, SJ yang juga pemimpin Redaksi Majalah Basis mengatakan bahwa Sekolah Basis Musim Kelima edisi Domus Scriptorum (rumah bagi para penulis) mengusung tema Membaca Tanda-Tanda Zaman.
“Sekolah Basis ini adalah kelas belajar yang hendak menawarkan analisis sosial bagi situasi kita saat ini. Pemilu baru saja selesai dan pemerintahan baru sedang bersiap-siap memegang kekuasaan. Rasanya Reformasi sedang menggulung dirinya sendiri, tetapi rakyat kelihatannya merasa baik-baik saja,” terangnya.
Selain melatih para peserta untuk menulis dan melakukan refleksi kritis, Sekolah Basis hendak mengajak para peserta untuk tidak diam di tengah situasi yang mentok, untuk tidak berhenti berpikir, menulis, dan terlibat demi kebaikan bersama.

Sekolah Basis ini menghadirkan tema dan bahasan seperti: Ekonomi-Politik: Geopolitik Republik Rakyat China, Analisa Sosial: Sejarah Kerusuhan Anti Cina di Indonesia, Kelas Sejarah: Perlawanan di Jawa, Kelas Sejarah: Gerakan Mahasiswa, Analisis Sosial, Kelas Menulis Filsafat di Majalah Basis dan ditutup dengan Kelas Buku-buku Laku.
Sekolah Basis di Rumah Budaya Majalah BASIS di lereng Gunung Merapi ini menghadirkan pembicara seperti: Klaus Heinrich Raditia, Didi Kwartanada, G. P. Sindhunata, Irine Hiraswari Gayatri, Yustinus Prastowo, A. Setyo Wibowo, dan Ayu Utami.

Sekoah Basis pada pembukaan hari pertama berlangsung secara apik dan hidup. Peserta pun dengan penuh semangat mengikuti kelas ini.














