Sekolah Basis 2025: Menimba Inspirasi dari Andalusia untuk Dialog Peradaban

News1343 Views

Sleman. Sekolah Basis kembali menggelar kelas reflektif dan lintas iman yang telah menjadi ciri khasnya. Kelas VII Sekolah Dasar 2025 kali ini mengangkat tema “Islam dan Dialog Peradaban: Belajar dari Andalusia.”

Acara berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 di Omah Petroek, Sleman, dengan pembimbing utama Rm. Dr. J.B. Heru Prakosa, SJ, Dosen Universitas Sanata Dharma sekaligus Anggota Penasihat Komisi Hubungan Antara Umat Katolik dan Umat Muslim di Dewan Kepausan Vatikan.

Tema “Islam dan Dialog Peradaban” dipilih berdasarkan realitas keragaman budaya dan peradaban di Indonesia. Keragaman ini dipandang sebagai peluang untuk saling belajar antarkelompok, meskipun tidak selalu mudah.

Menurut Rm. Heru, keragaman dapat menjadi jembatan untuk memperkuat pemahaman dan toleransi antarmasyarakat. “Tantangan terbesar,” ujarnya, “adalah kecenderungan dalam diskusi untuk merasa diri paling benar dan kurangnya kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri serta belajar dari orang lain.”

Ia menegaskan bahwa kunci kemajuan Indonesia adalah saling mendengarkan dan tidak merasa selalu benar sendiri.

Tujuan utama program ini adalah membangun semangat belajar lintas tema seperti Jinnah, Bersyafat, dan Islam guna membuka cakrawala pengetahuan peserta. “Program ini mendorong peserta untuk tidak hanya memahami fakta secara permukaan (superficial), tetapi juga mendalami kompleksitas dan kerumitan persoalan yang ada, sesuai dengan semboyan (Majalah Basis, yaitu) ‘menembus fakta’,” papar Rm. Heru.

Andalusia dipilih sebagai contoh penting karena sejarahnya menunjukkan keragaman dan kekuatan corak Islam yang inklusif. Di wilayah ini, Islam, Yahudi, dan Kristen pernah hidup berdampingan secara harmonis dan saling belajar. Kejayaan Andalusia menjadi bukti bahwa peradaban tumbuh dari keterbukaan terhadap ilmu, seni, dan kebudayaan.

Semangat inklusivitas inilah yang diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia agar tidak terjebak dalam fanatisme, fundamentalisme, atau sikap tertutup, melainkan terbuka untuk belajar dari perbedaan.

Dalam kelas ini, para peserta diajak menelusuri kembali semangat dialog dan kolaborasi yang pernah berkembang di tanah Andalusia. Rm. Heru menekankan bahwa semangat tersebut penting untuk diteladani dalam konteks Indonesia masa kini.

“Peradaban tidak tumbuh dalam ruang tertutup, melainkan dalam lompatan dan penghargaan terhadap hal yang berbeda,” tegasnya.

Diskusi ini menekankan pentingnya dialog, keterbukaan, dan semangat belajar dalam menghadapi keragaman, dengan mengambil pelajaran dari sejarah Andalusia dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, baik akademisi, pegiat budaya, maupun penulis. Salah satu peserta, Esti Susanti, seorang penulis dan aktivis literasi, membagikan pengalamannya. “Saya memang menyukai filsafat sejak muda. Guru-guru filsafat saya kebanyakan para romo dari Serikat Jesus (SJ). Awalnya sulit, tapi karena dibaca dan dibahas berulang-ulang, lama-lama saya mengerti. Saya ikut Sekolah Basis karena ingin menjadi bagian dari penulis Basis, bukan hanya pembaca,” ungkapnya.

Sebagai penulis puisi bertema subjektivitas perempuan Protestan, Esti menilai Sekolah Basis sebagai pengalaman yang memperdalam perjalanan spiritual dan intelektualnya. “Meskipun saya bukan dari latar belakang filsafat formal, saya serius belajar Filsafat Timur. Akurasi makna bahasa itu penting bagi saya, karena dari situlah pemahaman tumbuh,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa filsafat Timur dapat menjadi penyeimbang bagi dunia modern yang materialistik dan kompetitif, sekaligus pengingat bahwa pemikiran Timur dan Barat sama-sama berharga.

Bagi Esti, Sekolah Basis bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga tempat meneguhkan panggilan hidup dan spiritualitas. “Basis ini tempat saya diingatkan kembali pada panggilan hidup saya. Di sini, saya belajar bahwa filsafat tidak berhenti pada logika, tapi menyentuh kehidupan dan iman,” katanya.

Ia juga mengapresiasi penyajian materi yang argumentatif dan teratur, karena mencerminkan kedisiplinan berpikir yang menjadi ciri khas Sekolah Basis.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Basis 2025 menegaskan komitmennya sebagai ruang dialog lintas iman dan lintas disiplin, tempat peserta belajar berpikir sekaligus menemukan makna hidup bersama dalam perbedaan. Harapan dari kegiatan ini adalah agar peserta terus membuka diri untuk mendengarkan perbedaan dan membangun semangat saling belajar.

Ke depan, ada kemungkinan tindak lanjut berupa pembentukan komunitas alumni atau program lanjutan dengan tema-tema baru yang tetap mengusung semangat keterbukaan dan kolaborasi.

Yasinta Sagulu, Henrikus Bima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *