Sejarah Paskah, dari Yahudi ke Kristen

Pelita1539 Views

Kata Paskah berasal dari bahasa Ibrani “Pesakh” (dalam bahasa Yunani “pascha”). Kata pesakh sendiri berasal dari akar kata “psh” yang memiliki banyak arti dalam Alkitab, yakni melewati, melindungi, dan berjingkat.

Ketiga arti tersebut didasarkan pada perjalanan Exodus bangsa Israel dari tanah Mesir. Arti melewati dikaitkan pada peristiswa saat Tuhan “melewati” rumah orang Israel yang pintunya diberi tanda darah domba sehingga mereka selamat dari tulah kematian di Mesir (Kel. 12:13).

Melindungi dikaitkan pada gambaran Tuhan menjaga dan menyelamatkan umat-Nya yang setia (Yes. 31:5). Sementara arti kata berjingkat mula-mulanya merujuk pada tarian ritual saat orang berjalan berjingkat menuju altar dalam keadaan religius yang khidmat.

Dalam tradisi Yahudi, Paskah (pesakh) mengingatkan penyertaan Allah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, seperti tercatat dalam Kitab Keluaran (Kel. 1-15).

Paskah dimaknai oleh orang Yahudi bukan sekadar ritual, melainkan ketetapan Allah (Kel. 12:17) agar Israel tidak pernah melupakan kemerdekaan yang diberikan-Nya. Selain itu, tradisi Yahudi secara historis dimaknai sebagai peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Oleh karena itu, inti peringatan Paskah Yahudi: sukacita atas kebebasan dan pengakuan bahwa pertolongan datang dari YHWH (Tuhan).

Berbeda dengan tradisi Yahudi, bagi umat Kristiani, Paskah adalah hari memperingati kematian dan kebangkitan Yesus Kristus di Yerusalem 2.000 tahun yang lalu. Dalam perhitungan penanggalan Kristen, Paskah didahului oleh Tri Hari Suci, yang meliputi Kamis Putih, peringatan Perjamuan Terakhir Yesus dengan para murid; Jumat Agung, hari Penyaliban-Nya; dan Sabtu Suci, transisi antara Penyaliban dan Kebangkitan. 

Awalnya, dalam tradisi Gereja, Paskah dimulai setelah ibadah Vigili Paskah, yakni momen sakral yang diadakan di antara senja Sabtu Suci hingga fajar Minggu Paskah. Ibadah ini ibarat “jembatan” antara penantian dan sukacita kebangkitan Kristus. Dalam tradisi Katolik Roma, vigili memiliki empat bagian: perayaan cahaya yang difokuskan pada lilin Paskah, nubuat, pemberian sakramen baptisan dan penerimaan serta misa Paskah.

Meskipun sejarah Paskah Kristen berasal dari tradisi Yahudi, umat Gereja memaknainya secara baru. Bagi umat Kristen, Paskah bukan lagi sekadar peringatan keluarnya Israel dari Mesir, melainkan peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Salib menjadi lambang pembebasan manusia dari hukuman dosa.

Sebagaimana Paskah Yahudi merayakan kebebasan fisik dari perbudakan, Paskah bagi umat Kristiani dimaknai sebagai merayakan kebebasan rohani: Kristus mengorbankan diri-Nya sebagai “domba Paskah” yang menghapus dosa dunia. Kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya menjadi bukti kasih Allah yang memulihkan hubungan manusia dengan Penciptanya.

Yesus sendiri merayakan Paskah Yahudi bersama murid-murid-Nya, seperti tercatat dalam Injil (Mat. 26:17-29; Mrk. 14:12-25; Luk. 22:7-38) pada momen itu, Yesus mengubah ritual Paskah menjadi simbol penebusan dosa.

Saat mengambil roti dan anggur, Ia berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu… Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19).

Dengan pemaknaan yang berbeda, dari sebelumnya, peringatan Paskah Kristiani adalah peringatan atas Kristus yang menderita, disalibkan, mati, dan bangkit. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Yesus memakukan semua dosa manusia. Yesus telah berkorban bagi manusia dan membebaskannya dari penghukuman dosa.

Selamat Paskah! Kristus Bangkit, Alleluya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *