Sejarah Lokal Punya Ruang Luas untuk Dikembangkan

Pendidikan Sejarah USD Hidupkan Masa Lalu melalui Historytelling

News95 Views

Sleman. Sejarah tidak harus selalu dipelajari dengan menghafalkan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa. Sejarah juga bisa hadir melalui cerita, film, konten digital, sastra, kuliner, hingga kisah sederhana dari lingkungan sekitar.

Pendekatan inilah yang diangkat Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) melalui Historytelling Competition 2026.

Rangkaian kegiatan tahunan tersebut mencapai puncaknya melalui Seminar Nasional bertajuk “Historytelling Sejarah Lokal: Cara Seru Menceritakan Kisahmu” dan Bincang Alumni pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Kompetisi yang diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK sederajat ini berhasil menghimpun 64 karya dari 37 sekolah di berbagai provinsi di Indonesia.

Seminar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom diikuti 211 peserta, terdiri atas pegiat sejarah, kreator konten sejarah, siswa SMA, mahasiswa, dan alumni. Partisipasi tersebut menunjukkan sejarah lokal memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat melalui pendekatan kreatif.

Ketua Prodi Pendidikan Sejarah USD, Dr. Hendra Kurniawan, menyampaikan kegiatan ini sejalan dengan visi keilmuan program studi yang mengembangkan pendidikan sejarah melalui pendekatan kritis, kreatif, reflektif, dan interdisipliner dalam dimensi lokal, nasional, dan global.

Pendidikan Sejarah USD tidak hanya mempersiapkan mahasiswa menjadi guru sejarah, tetapi juga mengembangkan pilihan track kompetensi tambahan sebagai Kreator Konten Edukasi Sejarah dan Edukator Kepariwisataan Sejarah.

Dekan FKIP USD, F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D., mengingatkan manfaat mengikuti kompetisi tidak semata-mata terletak pada kemenangan, tetapi juga pada proses belajar dan pengalaman yang diperoleh peserta.

Sementara itu, Dr. Tsabit Azinar Ahmad, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI), berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong penggalian sejarah lokal, termasuk sejarah mikro, untuk dihadirkan dalam pembelajaran di kelas.

Seminar dipandu Christophorus Putro Damaringtyas, M.Pd., dengan menghadirkan Dr. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S. dan Dr. Anton Haryono sebagai narasumber.

Apri yang juga mengampu mata kuliah Historytelling menjelaskan ketertarikan seseorang terhadap sejarah tidak selalu bermula dari keinginan mengetahui tanggal atau peristiwa. “Terkadang, rasa ingin tahu justru muncul dari perasaan. Terkesan oleh bangunan tua, jatuh cinta pada tokoh dalam novel, penasaran dengan foto keluarga, atau tersentuh oleh kesaksian seseorang,” paparnya.

Menurutnya, sastra dan pengalaman estetik dapat menjadi pintu masuk untuk membayangkan dan merasakan masa lalu, kemudian mendorong seseorang menelusuri fakta sejarah lebih jauh.

“Namun, cerita tidak boleh menggantikan pembuktian sejarah. Historytelling merupakan praktik menghadirkan masa lalu melalui narasi yang menghubungkan fakta, manusia, peristiwa, dan pengalaman,” tegas Apri.

Diskusi berlangsung antusias dengan beragam pertanyaan dari peserta.

Sementara itu, Anton mengajak peserta melihat sejarah dari kehidupan masyarakat. Kuliner, bangunan tua, nama tempat, tradisi, dan cerita rakyat menyimpan jejak perubahan sosial, budaya, perdagangan, dan perjalanan suatu komunitas. “Sejarah tidak selalu harus dimulai dari tokoh besar, tetapi dapat ditelusuri dari kisah-kisah sederhana di sekitar kita,” jelasnya.

Diskusi pun berlangsung antusias dengan beragam pertanyaan dari peserta.

Kegiatan juga dilengkapi Bincang Alumni. Filipus Dimas Darumurti, M.Pd.Gr., mewakili alumni, mengajak para lulusan untuk terus berkontribusi bagi pengembangan program studi.

Para alumni berbagi pengalaman selama kuliah sekaligus memberikan tanggapan terhadap Kurikulum 2026 yang menghadirkan penyegaran struktur dan mata kuliah baru untuk merespons kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Pada akhir kegiatan, dewan juri mengumumkan para pemenang Historytelling Competition 2026 sebagai berikut.

Juara I, II, dan III:

  1. Juara I: Miranda Debora Setiawan dari SMA Kolese Loyola Semarang, Jawa Tengah, dengan karya Jejak Juang Jas Putih Dr. Kariadi (skor 795).
  2. Juara II: Joceline Marthen dari SMA Santo Yosef Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan karya Pantai Radji: Kisah Tragis yang Mengguncang Australia (skor 790).
  3. Juara III: Semaya Velda Wikeyta Hia dari SMA Negeri 1 Mandrehe, Nias Barat, Sumatera Utara, dengan karya TEKHEMBÖWÖ (skor 780).

Juara Favorit:

  1. Favorit Instagram: Ainissifa Nur Fadlillah dari SMA Negeri 1 Pati dengan karya Legenda Ki Ondo Rante (1.793 likes).
  2. Favorit YouTube: Ansgarius Saheca Rubby Nanjaro dari SMA Santa Angela Bandung dengan karya Bukan di Jakarta: Mengapa Kantor Pusat KAI Ada di Bandung? (139 likes).

Melalui kegiatan ini, Pendidikan Sejarah USD menunjukkan bahwa belajar sejarah berarti mengembangkan lebih dari sekadar pengetahuan masa lalu. Mahasiswa dibekali kemampuan meneliti, berpikir kritis, berkomunikasi, bercerita, dan memanfaatkan media untuk menghadirkan pengetahuan sejarah kepada masyarakat.

Sejarah bukan hanya tentang memahami masa lalu, melainkan juga tentang membangun kemampuan membaca kehidupan dan menjawab tantangan masa depan.

Apri Damai Sagita Krissandi/Humas USD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *