Saya cukup yakin, setiap kita mengalami keterpesonaan atas sesuatu yang kita lihat, alami, dan rasakan sering membuat kita merasa nyaman, betah, dan ingin untuk berlama-lama dalam pengalaman itu. Menyaksikan keindahan alam yang sangat memukau membuat kita merasa nyaman, bahagia, dan memilih mengambil waktu yang lebih lama untuk menikmati keindahan itu.
Perasaan yang bahagia atas cinta dan kasih sayang yang diberikan seseorang membuat kita berada dalam kebetahan atau dalam zona nyaman sehingga sulit bagi kita untuk memutuskan melanjutkan apa yang menjadi tugas atau misi prioritas kita.
Apa yang semu?
Sesuatu yang semu dapat kita saksikan pada tujuan yang hendak kita capai, tetapi tampaknya kita belum pada tujuan yang sesungguhnya. Kita meyakini bahwa puncak yang kita capai itu adalah puncak yang tertinggi, tetapi nyata masih ada yang lebih tinggi dan kita tidak menyadari itu. Itulah secara sederhana arti kesemuan itu.
Kita terlelap pada keterpesonaan sesaat yang kita alami sekarang. Pilihan dan keputusan kita berhenti pada kesenangan dan kegembiraan terhadap pencapaian kita sekarang. Kebahagiaan Petrus, Yakobus, dan Yohanes setelah menyaksikan pesona Ilahi dan penampakan kemuliaan Allah di Tabor, membuat mereka lupa dan tidak menyadari tugas perutusan Yesus yang sesungguhnya.
Ketertarikan dan kenyamaan atas pengalaman mulia di Tabor, menghentikan usaha penyelamatan yang seharusnya diperjuangan dengan nyawa dan penderitaan yang dahsyat. Kata Petrus, “Tuhan, biarlah kami mendirikan tiga tenda di sini, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.”
Petrus terlarut dalam kebahagiaannya yang terdalam, yakni peristiwa kemuliaan di atas gunung. Barangkali ia menyadari bahwa tiada lagi penderitaan yang harus dihadapi karena pengalaman Tabor memberinya kenyamanan tetapi sekaligus memberinya keengganan untuk berjalan lebih jauh lagi dan memilih jalan penderitaan sebagai puncak dari pewartaan Yesus.
Ketiga murid yang menemani perjalanan Yesus ke atas Gunung Tabor mewakili perjalanan kemuridan kita dalam menemukan kebahagiaan dan menyaksikan cinta Kristus yang berpuncak pada pengurbanan diri-Nya di atas salib dan mati karena manusia. Perjalanan kita itu diwarnai dengan banyak sikap yang sering kali berakhir pada keputusan untuk berhenti dan tidak melanjutkan misi itu.
Pada permulaannya kita mungkin dengan riang gembira menanggapi panggilan dan misi perutusan Allah itu karena kita mengharapkan kehabagiaan. Dan, Allah dengan senang hati menyajikan dan menyediakan itu bagi kita dalam seluruh perjalanan hidup kita. Tetapi maksud Allah tetap dalam rancangan-Nya sendiri, dalam artian Allah memiliki tujuan-Nya sendiri dalam tugas perutusan Putra-Nya, yaitu jalan penderitaan, salib, dan mati.
Kegagalan manusia pada akhirnya jatuh dalam keegoisan dirinya yang tidak mau menuruti dan menaati kehendak Allah. Ia bertahan dalam keinginan dirinya yang utuh hingga dia berhenti pada satu momen yang membuatnya merasa bahwa hidup ini sudah cukup dan tidak perlu lagi lanjutan perjalanan itu.
Kitalah Petrus dan kedua murid lainnya yang mengikuti Yesus di Tabor, merasa nyaman dan tidak mau berusaha lagi karena menganggap bahwa kita sudah mencapai apa yang kita inginkan, yaitu menyaksikan kemuliaan Allah dan peristiwa Transfigurasi Tabor. Zona nyaman yang kita rasakan dalam momen dan pengalaman itu membuat kita memilih berhenti dan tidak berjuang pada tujuan dan cita-cita yang sesungguhnya.
Di mana yang sesungguhnya?
Perkataan Yesus menanggapi pernyataan Petrus terkait dengan mendirikan tiga tenda, menunjukkan suatu tugas perutusan yang lebih besar dan menuntut perjuangan dan usaha yang lebih keras, bahkan melampaui atau tidak seperti pengalaman Tabor. Misi dan puncak perutusannya adalah Yerusalem. Di sanalah menjadi tempat yang memuncakkan segala misi perutusan itu dan saksi atas penderitaan serta penolakan manusia pada suatu tugas yang memberatkan dirinya.
Yesus “menghentikan” keinginan dan kehendak hati Petrus yang terhipnotis dalam kebahagiaan sesaat di atas Gunung Tabor. Namun, Yesus menghendaki suatu puncak yang lebih tinggi dan mengharapkan kesetiaan dan ketaatan karena di sanalah Anak Manusia diadili, dihukum, dan disalibkan hingga mati. Maka, semakin jelas bagi kita bahwa perjalanan Yesus bukanlah pemuliaan di atas Tabor melainkan penderitaan dan kematiaan di Yerusalem.
Bila diselidik, tentu menjadi sangat kontras bagi kita karena justru menjadi dua momen yang sama sekali menampilkan kisah dan sejarah yang berbanding terbalik. Tabor diwarnai dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang tiada tara karena menyaksikan pengalaman dan momen Ilahi dalam peristiwa pemuliaan Yesus dengan ditampakkan Musa dan Elia.
Namun, Yerusalem pada akhirnya diliputi dengan tangisan, darah, penderitaan, kemunafikan, ketakutan, kegentaran, keterpecahan, tiada lagi kegembiraan seperti Tabor, ketidaksetiaan, pengkhianatan, duka, dan akhirnya kehampaan dalam kegelapan makam karena yang sejak lama diagung-agungkan harus mati dalam keserakahan manusia.
Penegasan Yesus
Petrus dalam inisiatifnya tampak melupakan satu hal yang penting dalam perjalanan mereka ke Gunung Tabor terkait perutusan Yesus. Ia mengabaikan kehendak Allah dan memilih untuk memuaskan kenikmatannya serta memenuhi apa yang dicita-citakannya. Ia diseret oleh kesenangan sesaat, berlindung dalam zona nyaman Tabor dan mengambil keputusan untuk tidak menjalankan sebuah tugas yang lebih besar. Yesus membantahnya, karena sesungguhnya puncak dari perjalanan mereka adalah penderitaan yang berakhir pada penderitaan, wafat, dan salib di Yerusalem.
Kebahagiaan tanpa penderitaan adalah kesia-siaan. Namun, kematian dengan berakhir pada kebangkitan adalah pasti. Pernyataan Yesus menegaskan bahwa manusia sering kali dalam sejenak peristirahatannya, lupa yang berujung pada kebetahan/kekerasanan sehingga tidak menginginkan lagi untuk melanjutkan sebuah perjalanan. Yesus menegaskan, kita meskinya tidak terpesona oleh kemewahan, kebahagiaan, kenikmatan sesaat. Kita masih perlu melanjutkan misi perutusan dan perjalanan kita yang lebih penting dan tujuan akhir dalam seluruh perjalanan kita itu. Kita harus dengan segera meninggalkan Tabor dan meneruskan perjalanan menuju Yerusalem.
Tabor, walaupun menampilkan peristiwa kemuliaan Allah, memberikan kenyamanan, tetapi membuat manusia malas dan enggan untuk beranjak dari situ dan hidup dengan keputusan agar bisa menetap. Akan tetapi, Yerusalem adalah cita-cita yang ditunjukkan atau yang diimpi-impikan. Memang, tidak selalu berada dalam zona nyaman dan terkadang diiringi segudang penderitaan. Nmaun, di sana kita akan menemukan dan menyaksikan kebahagiaan yang diwariskan Allah kepada kita melalui Putra-Nya Yesus Kristus yang tersalib.
Kebahagiaan itu tidak lagi seperti bayang-bayang Tabor, melainkan dalam kenyataan Kristus yang mati demi dosa manusia.














