Sebarkan Harapan, Nyalakan Terang

Pelita562 Views

Belakangan ini banyak orang, terutama anak muda, merasa kecewa, bingung, bahkan pesimistis melihat arah negeri ini. Persoalan-persoalan politik seolah jadi tumpukan masalah yang membuat segelintir anak-anak muda ingin kabur ke luar negeri, mencari cercah harapan indah di sana.

Sebagai orang Kristen, kita diajarkan untuk tidak gampang putus asa. Yesus sendiri pernah hidup pada zaman yang tidak kalah gelap: dijajah, penuh ketidakadilan, dan banyak orang munafik berkuasa.

Namun, apa respons-Nya? Dia tidak kabur. Dia hadir, menyembuhkan, mendengarkan, dan memberi harapan. Setelah wafat di kayu salib, pada akhirnya Ia bangkit, membuktikan bahwa terang selalu menang atas gelap.

Ini bukan soal idealisme kosong. Iman kita mengajarkan untuk mengubah dunia, bukan melarikan diri darinya. Paulus pernah bilang dalam Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Jadi, kalau dunia sedang gelap, tugas kita bukan mengeluh terus, tetapi jadi terang. Simple, tetapi dalam.

Selain bersandar pada Kristus, sebagai warga negara Indonesia kita juga bersandar pada Pancasila yang bukan sekadar hafalan saat upacara. Kalau kita renungkan, nilai-nilainya sungguh selaras dengan ajaran Kristiani: kasih, keadilan, persatuan, kebijaksanaan, dan iman.

Sila kelima misalnya, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” itu sangat Injili. Yesus juga bicara soal keadilan, bukan cuma legalitas, tetapi keadilan hati tentang bagaimana semua orang bisa hidup layak, bermartabat, dan dikasihi.

Maka, saat kita menilai kebijakan pemerintah, melemparkan kritik tentu boleh, tetapi kasih jangan hilang. Kita dipanggil bukan cuma jadi kritikus, tetapi juga pembawa damai yang menyuarakan kebenaran tanpa kebencian, memperjuangkan keadilan tanpa kekerasan.

Yesus tidak datang untuk menambah masalah. Dia datang untuk menjadi solusi. Kita juga bisa jadi bagian dari solusi itu. Entah lewat tulisan, gerakan sosial, pelayanan, edukasi, atau sekadar menyebarkan harapan lewat media sosial.

Kita punya Tuhan yang tidak pernah tidur. Jadi, kita juga tidak boleh “tidur” dalam iman dan kepedulian. Seperti pepatah Latin “Vox populi, vox Dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan), suara itu lahir dari hati yang penuh kasih, bukan benci.

Mari kita sebarkan harapan, nyalakan terang. Dunia boleh gelap, tetapi Kristus sudah menang. Sekarang giliran kita meneruskan terang-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *