Satu Ginjal Ayah untuk Mikhael

Feature684 Views

Awal Oktober 2024, Mikhael Taufan Bayu Lindha Pamungkas baru pulang sekolah dijemput ayahnya. Saat itu, Mikhael masih kelas 6 SD. Sampai di rumah, Mikhael langsung makan. Sementara itu sang ibu, Theresia Rahmadhoni Sugihartati, sedang istirahat. Namun, Mikhael cuma makan sedikit. Setelah itu, ia ikut tidur di samping ibunya.

“Tiba-tiba dia mengalami kejang  cukup lama dan mulutnya berbusa. Kakaknya langsung memanggil ambulans dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Tim medis ambulans mengatakan, anak ini tetap harus dibawa ke rumah sakit karena kejangnya tidak ada gejala-gejala seperti demam atau apa pun,” kisah Lilik Hartopo, sang ayah.

Bersama ibu dan B. Lintang Rosari Wahyu L.P., kakaknya, Mikhael dilarikan ke IGD RS Bethesda Yogyakarta. Sampai di IGD, Mikhael langsung menjalani CT Scan, cek saraf, dan sampel darahnya diambil untuk diperiksa semuanya.

Hasil CT Scan menunjukkan otak dan saraf-sarafnya bagus, tidak ada tanda-tanda epilepsi atau semacamnya. Namun, dari hasil cek darah diketahui Mikhael mengalami pelemahan fungsi ginjal. Maka, ia harus menjalani rawat inap.

Tidak sampai setengah jam di bangsal, Mikhael sudah harus dipindah ke ICU untuk mendapat perawatan intensif. Selama lima hari Mikhael berada di ICU. “Malamnya, dokter memanggil saya dan istri untuk menjelaskan kondisi Mikhael. Ternyata, Mikhael mengalami gagal ginjal. Mendengar itu, tulang saya seperti lepas semuanya. Saya nggak tahu, apakah saya bisa ngomong pada waktu itu. Nggak nyangka saya. Kelihatan anaknya itu baik-baik saja sebelumnya, kok tiba-tiba divonis seperti itu,” ungkap Lilik pilu.

Warga Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta ini masih tidak percaya. Namun, istrinya mampu menenangkannya dengan mengatakan, “Kita harus cari jalan yang terbaik buat Mikhael.”

Dokter pun mengatakan, besok paginya Mikhael harus menjalani cuci darah dan dipasang HD Cath (Hemodialysis Catheter). Sejak itulah Mikhael mulai menjalani cuci darah seminggu dua kali tiap Rabu dan Sabtu di RS Bethesda.

November 2024, Mikhael dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta untuk menjalani biopsi dan renogram untuk mengetahui sampai seberapa jauh kerusakan ginjal Mikhael.

Dari hasilnya, diketahui kerusakannya memang cukup parah. Fungsi dan kerusakan kedua ginjalnya masing-masing tinggal 6% dan 8%. Maka, satu-satunya jalan, Mikhael yang saat ini terdaftar sebagai siswa kelas VII SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta ini tetap harus menjalani cuci darah rutin.

Dokter menyarankan metode CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), yakni teknik cuci darah melalui rongga perut (peritoneum) yang dilakukan oleh pasien secara mandiri di rumah.

Lilik dan Mikhael saat berziarah di Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, D.I. Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

“Cuci darah yang melalui perut, dimasuki cairan khusus untuk menarik racun-racun yang ada di dalam tubuh. Operasi untuk pasang CAPD dilakukan di Sardjito. Tapi yang pertama kali mengalami kegagalan dan harus di-repair, harus operasi lagi untuk pasang lagi. Sampai akhirnya bisa lancar sampai sekarang,” kisah Lilik.

Ia pun berpikir, “Apakah Mikhael bakal terus memakai alat itu? Padahal alat di perut itu pasti ada batas waktunya. Entah berapa tahun, itu pasti ada batas waktunya.”

Oleh karena itu, ia berkonsultasi dengan dokter mengenai bagaimana sebaiknya. Dokter tetap menyarankan sebisa mungkin harus transplantasi atau cangkok ginjal.

Mendengar itu, Lilik makin bingung. Ia tidak tahu ke mana untuk mencari pendonor dan bagaimana caranya. Dokter pun menyarankan, sebaiknya pendonornya kalau bisa dari keluarga, misalnya ayah, ibu, kakak, atau yang masih ada hubungan darah. Sebab, apabila organ yang ditransplantasi berasal dari keluarga sendiri, tingkat penolakannya kecil.

Dengan kata lain, tingkat kecocokannya tinggi. Apalagi, golongan darah pendonornya masih sama dan jelas.

“Nah, kebetulan yang cocok ya saya dan anak perempuan saya. Tapi, saya nggak mengizinkan anak perempuan saya untuk mendonorkan ginjalnya karena dia masih punya jangkauan (masa depan-Red) yang jauh. Saya nggak membayangkan nanti kalau dia harus hidup dengan satu ginjal. Saya nggak bisa membayangkan itu,” ungkap Lilik.

Maka, Lilik mengambil keputusan, dirinyalah yang akan mendonorkan satu ginjalnya untuk Mikhael. Dokter lantas mengatakan, semua biaya transplantasinya akan ditanggung BPJS Kesehatan, tetapi tidak menanggung biaya screening atau pemeriksaan pendonornya.

Lilik pun makin bingung, terlebih memikirkan dari mana ia mendapatkan dananya. Biaya yang dibutuhkan untuk screenning sebesar Rp50 juta dengan penggunaan Rp4 juta untuk screenning awal dan Rp32 juta – Rp35 juta untuk biaya pencocokan ginjal Lilik dengan Mikhael. Selebihnya akan digunakan untuk biaya perawatan Mikhael dan ayahnya pascatransplantasi yang tidak ter-cover BPJS Kesehatan.

“Biayanya sebesar itu, sementara pekerjaan saya juga kayak gini. Saya tukang servis jok kursi, istri saya buruh masak dan jualan gudeg. Jadi, untuk cari dana mungkin akan lama banget,” katanya termangu.

Guru dan teman-teman sekelas Mikhael dari SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta saat berkunjung ke rumahnya. (Foto: Istimewa)

Ia pun mencoba datang ke balai kota pada saat open house, bertemu langsung dengan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Ketika Lilik menyampaikan rencananya untuk memberikan ginjalnya kepada sang anak, Hasto merespons dengan baik.

“Ini sudah kami catat dan akan kami tindak lanjuti,” janji Hasto.

Namun, setelah menunggu satu bulan, dua bulan, hingga tiga bulan, belum ada kabar juga. “Mungkin data dari saya nggak lengkap untuk masuk ke sana,” ucap Lilik pasrah.

Walau begitu, ada seorang teman yang siap membantu. Begitu pula para mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang sedang menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampungnya. Mereka siap membantu dan menjadikannya sebagai program kerja. Itulah mengapa, mereka menggalang dana dengan memakai website kitabisa.com maupun nomor rekening sang kakak: BNI 1497567985 a.n. B. Lintang.

Sementara ini, aktivitas Mikhael makin terbatas. Tubuhnya sering merasa lemah dan daya tahan tubuhnya juga menurun. Ia jadi lebih sering izin tidak masuk sekolah, bahkan terkadang harus beristirahat di rumah atau di rumah sakit selama berminggu-minggu karena kondisinya drop. Hal ini membuat Mikhael sulit mengikuti pelajaran secara penuh seperti sebelumnya.

Meski begitu, di kamar sederhana tempat ia beristirahat, Mikhael masih menyimpan raket-raket kesayangannya. Raket itu menjadi pengingat akan mimpinya, suatu hari bisa kembali berlari di lapangan, seperti dulu. Lebih dari itu, Mikhael juga menyimpan cita-cita besar. Ia ingin tetap melanjutkan sekolah dan suatu saat menjadi seorang dokter.

Harapan itulah yang terus memberi Mikhael semangat, meski jalannya kini jauh lebih berat dari teman-teman sebayanya.

 

Pekan lalu, selama hampir satu minggu tensi Mikhael tidak stabil. Kadang sistoliknya bisa sampai di atas 200. Bahkan, saat ditensi di rumah, mencapai 253/125.

“Wah, pada saat itu saya ketakutan,” kata Lilik, umat Paroki Kristus Raja, Baciro, Yogyakarta ini.

Ia lantas menyarankan Mikhael agar tidak melakukan apa pun, hanya berbaring tidur. “Ayah tahu, kamu pasti pusing banget. Tapi kamu tolong diam, tiduran saja,” pesan Lilik.

Ia pun memberi obat nifedipine yang diletakkan di bawah lidah. Setengah jam kemudian, Lilik cek tensi Mikhael lagi dan bisa turun di 180. “Puji Tuhan,” ucap Lilik senang. “Dia sudah mulai tenang, sudah enggak kesakitan lagi. Tapi, 180 untuk anak umur 12 tahun itu masih cukup tinggi. Itu bukan tensi yang normal.”

Dalam kondisi Mikhael yang seperti itu, Lilik berdiskusi dengan anak perempuannya untuk memajukan tanggal kontrolnya. Semula, Mikhael rencana kontrol tanggal 16 September 2025, tetapi Lilik memajukannya pada tanggal 2 September 2025.

Dokter yang menangani menyarankannya untuk rawat inap. Rencana screening tanggal 10 Oktober 2025. Namun, Lilik ingin meminta perubahan jadwal dari dokter agar screening-nya bisa lebih cepat dilakukan pada bulan September 2025 ini.

Sumber: Benni Listiyo
Penulis: Willy Putranta
Transkrip: Maria Clara Yosefanie, Simplisius Cavindoro Ruly Titanio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *