Yogyakarta. Membaca Dekat Vol. 16 hadirkan langsung penulis novel Anak Bajang Mengayun Bulan, Rm. G.P. Sindhunata, SJ pada Kamis, 29 Oktober 2026 di Bentara Budaya Yogyakarta.
Acara yang rutin diadakan setiap pekan ini menjadi ruang pertemuan bagi penulis dan pembaca untuk membaca isi novel, menyampaikan pendapat, serta menggali berbagai persoalan yang muncul melalui penggalan-penggalan cerita dari novel tersebut.
Sejumlah peserta yang hadir dalam acara turut memberikan beberapa tanggapan dan pendapat berdasarkan interpretasi serta pengalaman hidup mereka masing-masing setelah membaca bagian novel yang dibahas.
Membaca dekat dimulai dengan seluruh peserta diminta untuk membaca salah satu bagian novel yang diambil dari bab lima yang menceritakan konflik antara Begawan Swandagni dan Dewi Sokawati. Bagian tersebut dipilih oleh penyelenggara karena menjadi awal dari berbagai persoalan dalam cerita.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta memberikan tanggapan terhadap cara Rm. Sindhu membangun konflik melalui dialog antartokoh. Yadi, salah satu peserta, menyoroti penggunaan kata dan ungkapan dalam novel yang memiliki makna lebih luas daripada arti sebenarnya, yaitu “jagat” yang berarti rahim. Ia melihat adanya pertentangan antara cinta dan nafsu yang menjadi dasar sebuah munculnya persoalan dalam cerita tersebut.
Komentar lain juga datang dari Taufiq, salah satu peserta yang merasa bahwa konflik yang hadir dalam novel ini benar-benar menggambarkan kehidupan nyata banyak orang, termasuk dirinya.
“Pengalaman saya pribadi sebagai seorang disabilitas, yang lahir normal, kemudian menjadi difabel dan akhirnya orang tua dari beberapa teman-teman disabilitas saya itu saling menyalahkan. Dosa yang lalu diungkit. Padahal tidak ada hubungannya. Anak tetaplah anak. Kalau di dalam Islam, anak itu suci, fitri,” ungkap Taufiq.

Setelah mendengarkan berbagai tanggapan dan pendapat dari para peserta, Rm. Sindhu memberikan penjelasan mengenai gagasan yang melatarbelakangi penulisan novel tersebut.
“Saya sendiri sebagai penulis tidak pernah membayangkan bahwa karya ini dibaca lalu ada begini macam interpretasi,” tutur Rm. Sindhu.
Rm. Sindhu juga menjelaskan bahwa sebuah karya sastra dapat memiliki makna yang lebih luas daripada apa yang dibayangkan oleh penulisnya. Setiap pembaca memiliki pengalaman dan sudut pandang masing-masing yang dapat memengaruhi cara mereka memahami cerita.
“Teks itu sendiri yang berbunyi, bukan bagaimana si penulis ini mengkhayalkan atau mengimajikasikan ceritanya,” papar Rm. Sindhu sembari menambahkan bahwa teks sastra dapat menjadi lebih kaya melalui berbagai penafsiran yang muncul dari pembacanya.
Rm. Sindhu juga sempat berdiskusi mengenai pengalamannya yang memberikan kesan tersendiri karena memiliki arti yang sangat bermakna untuk peserta yang hadir di Bentara Budaya.
Peserta sangat antusias dan memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk mengeluarkan pendapat masing-masing dari isi bacaan yang telah diberikan, dan ternyata sangat beragam sekali komentar yang dibawakan dari pengalaman pribadi maupun dari teks yang diberikan.
Kegiatan seperti membaca dekat ini dapat terus hadir dan mengajak lebih banyak orang untuk selalu terus membaca dan tidak hanya mengajak peserta untuk membuka buku saja, namun juga menumbuhkan rasa cinta terhadap bacaan.
Emeriks Noviana Endah Purwati & Vincentius Yovie Krisan Saputra









