Yogyakarta. Perkembangan Gereja Katolik di Nusantara tidak terlepas dari pertumbuhan-pertumbuhan Gereja di Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satunya adalah Gereja Hati Yesus Maha Kudus Noemuti.
Gereja ini merupakan salah satu paroki tertua di Keuskupan Atambua, Kabupaten Timor Tengah Utara. Gereja ini menjadi paroki induk untuk semua paroki yang ada di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Gereja ini tentu saja menarik perhatian masyarakat karena memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah ritual-ritual yang dilakukan menjelang Hari Raya Paskah.
Kamis, 30 Maret 2023, channel YouTube Katolikana menyiarkan talkshow dengan tema “Gereja Noemuti: Yubileum Satu Abad dan Paskah dengan Ritual”. Talkshow ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Rm. Yanuarius Uskenat, Pr, Elisabeth Haumaten, dan Victor Manbait. Mereka adalah tokoh masyarakat di Kabupaten Atambua Timor Tengah Utara.
Rm. Yanuarius Uskenat, Pr sangat senang atas sikap masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara yang begitu terbuka, disiplin waktu, dan rajin.
“Saya baru saja ditahbiskan tahun 2022, tentu saja belum banyak pengalaman bersama umat di paroki ini. Tetapi saya merasa mereka begitu welcome. Umat di sini sangat rajin dan disiplin. Selain itu, umat disini tergolong cukup banyak dan untuk aktivitas masyarakat sendiri begitu menarik bagi saya, salah satunya ritual Kure,” tutur vikaris di Paroki Noemuti ini.
Ritual Kure merupakan sebuah tradisi peninggalan dari Portugis. Dahulu, ritual Kure dilaksanakan dengan memasuki rumah adat satu ke rumah adat lainnya secara bergiliran.
Salah satu kebiasaan umat saat memasuki pekan suci ialah umat dilarang membunyikan segala sesuatu yang berkaitan dengan bunyi seperti musik atau pesta-pesta dan dilarang berkendara.
Para misionaris yang jumlahnya sangat terbatas melakukan penyebaran agama dengan berharap ajaran-ajaran agama yang telah disebarkan akan tetap terus berlangsung ketika para misionaris melakukan penyebaran di tempat lain.

Dulu, rumah adat menjadi kekuatan sumber bagi masyarakat setempat ketika terjadi perang antara suku. Dengan usaha dan kerja keras para misionaris, akhirnya masyarakat mulai beribadah di gereja, bukan di rumah adat.
Beberapa ritual-ritual yang dilakukan, yaitu ritual usir setan dari rumah adat, pembasuhan diri umat sebelum memasuki Masa Sengsara, penyerahan penghasilan umat, lalu ritual Kure dengan berdoa bergilir yang dilaksanakan seusai Misa Kamis Putih.
“Menjelang hari suci, pada hari Rabu dilakukan ritual adat, yaitu mengusir setan dengan mengelilingi rumah sambil membunyikan bunyi-bunyian menggunakan sapu atau kayu sebagai tanda mengusir roh jahat dan mempersilakan roh kudus masuk ke dalam rumah itu. Pada hari Kamis Putih pagi, patung-patung yang ditempatkan di tempat sendiri akan diturunkan untuk dibersihkan. Air yang digunakan pun bukan air yang sembarang, tetapi air yang diambil di kali Noemuti. Pengambilan air ini hanya dibolehkan oleh penjaga rumah adat yang diutus oleh romo. Setelah air diambil, kemudian romo memberkati air tersebut. Sebagian air digunakan untuk membersihkan diri seperti mulut, tangan, dan kaki. Tujuannya agar kita sudah bersih diri sebelum memasuki masa sengsara Yesus Kristus,” tutur Victor Manbait.

Sebuah tempat tentunya harus terlihat bersih, indah, dan nyaman. Begitu pula dengan rumah adat yang menyimpan patung dan salib pastinya harus terjaga dengan baik. Hal yang dilakukan untuk merawat rumah adat yaitu rajin membersihkan, menyiapkan buah jeruk dan tebu, menghias, serta menimba air.
Dalam kegiatan ini, perempuan yang terdiri dari orang tua dan anak muda harus terlibat aktif sebagai bentuk penggambaran Bunda Maria. “Sejak berusia 6 tahun sampai sekarang umur 44 tahun, saya sudah terbiasa merawat rumah adat. Cara merawat rumah adat ini yaitu dengan bersih-bersih, menyiapkan tebu, menyiapkan buah jeruk, menghias, menimba air,” ungkap Elisabeth Haumaten.
Beberapa masyarakat pastinya penasaran mengapa harus menyediakan buah jeruk, tebu, dan sagu di dalam rumah adat. Konon, masyarakat di sana saling berumusuhan dan berselisih sehingga menyebabkan perpecahan. Namun, dengan berdoa dan diajak untuk berekonsiliasi, masyarakat setempat mulai terbuka dan memahami sebuah arti persaudaraan dan kedamaian.
Ritual kure menggantikan peluru dengan buah jeruk, senjata digantikan tebu, mesiu digantikan dengan sagu. Maknanya, kekerasan diganti dengan damai, persahabatan, dan kasih.
Perkembangan zaman yang semakin modern, tentunya menjadi kekhawatiran bagi orang tua terhadap anak muda. Anak muda diharap terus merawat dan memelihara ritual Kure ini agar tidak hilang dan redup.














