Praktik Baik PPR Menyantuni Kearifan Lokal

Papan Tulis526 Views

“Tujuan akhir pendidikan adalah mendisiplinkan pikiran, bukan sekadar mengisinya; melatih pikiran agar kekuatannya bisa digunakan bukan sekadar memenuhi kumpulan catatan tentang ‘katanya’.” (Tyron Edwards)

Jika kita mendengar kata visi dan misi, tentunya memiliki suatu tujuan (angan-angan), yaitu bagaimana akan dilaksanakan (dihidupi). Tentunya untuk menghidupi visi dan misi tersebut membutuhkan adanya suatu usaha, kerja, kemauan, kesadaran, tanggung jawab, atau motivisi yang dilakukan agar dapat mencapai dan mewujudkannya secara nyata.

Kata visi dan misi adalah suatu dasar yang dijadikan sebagai pedoman dan konsep awal atau bisa dikatakan sebagai fondasi awal dalam merancang atau melaksanakan suatu program arah dan tujuan lembaga maupun organisasi.

Jika sebuah lembaga atau organisasi sudah memiliki suatu visi dan misi yang baik dan bisa didasarkan pada kearifan lokal yang ada, tentunya hal ini dapat dijadikan sebagai suatu tuntunan, pedoman, arah tujuan, atau pijakan untuk mencapai keunggulan, kemandirian, dan keberhasilan dari sebuah sekolah. 

Berkaitan hal ini, ada tiga contoh Sekolah Dasar (SD) yang sudah merancang, melaksanakan visi dan misi yang didasarkan pada kearifan lokal yang ada dalam proses pendampingan pembelajaran.

Blekothek, kesenian khas SD Kanisius Kenalan. (Foto: Padeprokan Karsa Jati)

Sekolah yang dimaksud adalah SD Kanisius Blongkeng yang beralamat di Jalan Gulon – Margosoka Km. 2, Mandungan, Bringin, Kecamatan, Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Berikutnya, SD Kanisius Kenalan yang beralamat di Jalan Jagalan-Suralaya, Borobudur, Km. 4, Malan, Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan SD Prennthaler yang beralamat di Suren, Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tiga contoh sekolah ini sudah memberanikan diri untuk merumuskan suatu pola pendidikan lain daripada yang lain, yaitu “pendidikan berkearifan lokal”, dengan mengedepankan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sebagai dasar.

Konsep Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) itu meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi.

Konteks: melihat anak didik berdasarkan latar belakang yang dimiliki secara utuh dan mendetail dengan tidak menyamakan proses pendampingan untuk semuanya. Melihat karakter anak didik secara cura personalis dengan memberikan kekebasan ruang kerativitas untuk menampilkan diri sesuai dengan karakternya sendiri tanpa harus mengubahnya, atau dalam istilah lain menjadi pribadi yang autentik.

Pengalaman: dalam pendidikan tidak ada proses yang instan, yaitu membutuhkan formatio berjenjang untuk membentuk karekter anak didik sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang harus dilalui, baik secara spiritual, afeksi, sosial, dan psikomotor. Para anak didik diberikan pengalaman untuk megembangkan potensi untuk dididik dan didampingi, selanjutnya diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri lewat keseharian. Inilah cara untuk membentuk karakter autentik yang kuat dan tangguh dengan mengelaborasikan pengalaman-pengalaman nyata dalam keseharian.

Refleksi: dalam pendidikan selalu menekankan hal ini dengan cara setiap selesai pembelajaran, baik di kelas maupun luar kelas, para anak didik diajak untuk selalu merefleksikan seluruh pengalaman yang telah dilalui, untuk dijadikan sebagai dasar melangkah berikutnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan selalu memaknai dari pengalaman untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, atau istilahnya memiliki semangat magis.

Aksi: selalu melihat hasil refleksi dari pengalaman sebelumnya dan selalu melihat nilai-nilai untuk dijadikan dasar dalam menentukan pemilihan langkah ke depan yang lebih baik, benar, dan tepat.

Evaluasi: dalam hal ini yang selalu ditekankan pada anak didik adalah tidak ada seorang pribadi yang sempurna, artinya pasti ada kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. Akan tetapi, dengan evaluasi yang dilakukan, kekurangan dan kelemahan yang dimiliki bisa diperbaiki dan akhirnya akan menjadi perkembangan yang baik untuk proses ke depannya.

Aktivitas di SD Kanisius Blongkeng. (Foto: Fransisca Maya D./SD K Blongkeng)

Pendidikan berkearifan lokal ini, tidak membiarkan begitu saja anak didiknya untuk melaksanakan sesuatu yang monoton dan rutinitas, akan tetapi memberikan kekebasan ruang kreativitas untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas yang berkualitas dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab yang dimiliki.

Hal ini sesuai dengan ajaran dari dua tokoh Bapak Pendidikan Nasional kita, yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Dr. Driyarkara, SJ. Dua tokoh ini memiliki pandangan dan pemahaman tentang pendidikan yang konsepnya sama, yaitu mendasarkan pada pendidikan pribadi yang berkarakter tanpa mengesampingkan hakikat manusia yang sesungguhnya, yaitu pribadi yang bahagia dan merdeka.

Ki Hajar Dewantara memiliki ajaran yang sering disebut dengan Saka Guru, yaitu “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Sebetulnya, maksud dari ajaran Ki Hajar Dewantara itu apa? Maksudnya, Ing Ngarsa Sung Tuladha adalah di depan harus memberikan contoh, Ing Madya Mangun Karsa, di tengah harus membangun niat, dan Tut Wuri Handayani, di belakang harus mendorong.

Sementara itu, Dr. Driyakarya, SJ mengedepankan pendidikan humanis, yakni pendidikan didefinisikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani.

Pendidikan itu adalah pelaksanaan (pemberlakuan) nilai-nilai. Dalam hal ini, pendidikan seharusnya mampu membawa anak didik untuk mengalami, menghayati nilai-nilai yang dihidupi, sehingga anak didik membangun nilai-nilai yang dihidupi tersebut dalam kepribadiannya.

Anak didik diarahkan agar ia mampu mengenal, menerima, menghayati, dan mengamalkan apa yang telah diajarkan sebagai dasar kehidupan, sebagai nilai yang tertinggi di dalam kehidupannya. Sebab, menurut Dr. Driyakarya, SJ, mendidik itu memanusiakan manusia muda dan mendidik itu perbuatan yang menyebabkan manusia menjadi manusia, atau dengan kata lain memanusiakan manusia untuk bisa merdeka dan lepas bebas sebagai pribadi yang utuh.

Bertolak dari pernyataan diatas, sekolah Katolik selalu berusaha untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas anak didik secara optimal dan utuh, guna pembentukan karakter. Sebab, dengan adanya batasan-batasan dan ruang kebebasan yang kurang, tidak akan bisa mencerminkan kemampuan pribadi yang sesungguhnya untuk mengekspresikan kemapuan yang ada pada dirinya secara optimal. Sebaliknya, ketika ruang kebebasan kreativitas dan kemerdekaan diberikan, maka kepribadian yang utuh terkait karakter akan terwujud. 

Bisa dikatakan bahwa pengetahuan dan kreativitas itu butuh diberi ruang dan kemerdekaan, artinya bebas dari aturan-aturan yang mengikat pribadi untuk sebatas tunduk pada suatu peraturan yang bisa mematikan daya kreativitas yang dimiliki.

Untuk itu, SD Kanisius Blongkeng, SD Kanisius Kenalan, dan SD Prennthaler sebagai lembaga pendidikan Katolik yang mendidik dan mendampingi anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa ini, memberikan fasilitas-fasilitas itu sebagai dukungan, motivasi, dan dorongan untuk mengembangkan potensi dan bakat yang ada pada dirinya dengan merangkulnya dalam pola pendidikan yang memerdekakan, bertanggung jawab dengan mengolah kearifan lokal sebagai dasarnya.

Sekarang kita bisa melihat, mendengar, membaca, ataupun sebagainya bahwa pemerintah menerapkan dan melaksanakan tentang pendidikan karakter yang diperlihatkan pada P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang merupakan pembelajaran lintas disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar.

Kegiatan pembelajaran di SD Prennthaler. (Foto: Oktavian Denta)

P5 menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), yang berbeda dari pembelajaran berbasis proyek di dalam kelas. Berkaitan dengan model pembelajaran P5 ini, SD Kanisius Blongkeng, SD Kanisius Kenalan, dan SD Prennthaler, semua sudah dilaksanakan secara hakiki (mutlak), artinya semua itu sudah diperjuangkan dan dilaksanakan sebagai kekhasan dan keunggulan yang dimiliki.

Di SD Kanisius Blongkeng, SD Kanisius Kenalan, dan SD Prennthaler, pendidikan karakter adalah sesuatu yang harus dihayati dan dijalankan oleh anak didik yang ada di dalamnya, apalagi mereka dalam masa pendidikan dasar sehingga pengetahuan dan spiritual terkait karakter ditekakankan untuk dapat dilaksanakan secara konkret di lingkungan sekolah.

Tujuannya, hal ini menjadi kebiasaan praktik baik yang dilaksanakan anak didik sehingga ketika kembali di keluarga dan masyarakat dapat diterapkan dengan baik. Dengan adanya visi dan misi yang menekankan pada pendidikan karakter berdasarkan kearifan lokal ini, dijadikan sebagai arah tujuan dan pedoman di SD Kanisius Blongkeng, SD Kanisius Kenalan, dan SD Prennthaler untuk mengedepankan kemandirian dan keungulan yang menjadi kekhasan.

Pola dan proses pendidikan yang memberikan ruang kreativitas dan memerdekakan, akan dapat membawa anak didik pada ilmu pengetahuan dan spiritualitas yang berkarakter nyata dalam kehidupan masyarakat luas pada nantinya. Sebab, dasar utama yang dibentuk dan diwujudkan kepada anak didik adalah kesadaran, bukannya tekanan atau paksaan semata. 

Tentunya, visi dan misi inilah yang dapat menjadikan kekhasan dan keunggulan SD Kanisius Blongkeng, SD Kanisius Kenalan, dan SD Prennthaler untuk bisa bertahan dan berkembang selama ini. Pemberian ruang kreativitas dan memerdekakan yang bertanggung jawab akan membentuk pola pikir (mindset) dari anak didik,

Christophorus Danang Wahyu Prasetio (Mahasiswa MM Prodi SML USD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *