Tumpeng, Simbol Keseimbangan Manusia, Alam, dan Tuhan

News469 Views

Bantul. Komunitas Sorseng menyelenggarakan sarasehan tentang tumpeng pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di Pelataran Peziarahan Salib Suci Gunung Sempu, Kasihan, Bantul.

Hadir sebagai narasumber Serafina Adhita, sutradara film dokumenter Perayaan Kehidupan: Belajar dari Keindahan Tumpeng (2019), dan Shri Bhagavan Visvakarma S.H.A., seorang rohaniawan Hindu dari Ashram Windunada Sleman.

Usai pemutaran filmnya, Dhita mengatakan tumpeng merupakan makanan yang menyatukan kebudayaan Jawa. Tidak hanya bermakna spiritual, ternyata tumpeng menunjukkan keanekaragaman hayati masyarakat.

Berbagai macam umbi-umbian dan jenis kacang-kacangan pun dilestarikan melalui tumpeng yang sangat kompleks dan unik ini. Pada tumpeng pula dapat ditemukan berbagai macam sayuran lokal yang terjaga di setiap komunitas yang membuatnya.

“Misalnya di pesisir Gunung Kidul ada sayur rebus daun mengkudu yang tidak ada pada tumpeng di kota lain. Karena sayuran yang bertahan sampai musim kemarau di kawasan pesisir selatan Gunung Kidul, ya, daun mengkudu,” jelas Dhita.

Ia memproduksi film dokumenter ini pada 2014 – 2016 melalui proses riset selama satu setengah tahun dan proses syuting selama kira-kira delapan bulan. “Beberapa gambar yang kami peroleh dari berbagai masyarakat adat dari dari Gunung Krakatau sampai Gunung Raung, artinya membentang di sepanjang Pulau Jawa,” ungkapnya.

Serafina Adhita (tengah). Tumpeng menunjukkan keanekaragaman hayati masyarakat.

Sementara itu, Shri Bhagavan Visvakarma menyatakan esensi dari tumpeng adalah mohon kedamaian, rezeki, sehat, bahagia, berlimpah, merepresentasikan kehidupan yang seimbang, serta hubungan manusia dengan manusia. “Maka, dengan tumpeng juga kita bisa makan bersama,” tutur Shri Bhagavan.

Hubungan manusia dengan alam, segala sesuatu yang ada di sekitarnya, dipakai untuk membuat sesaji yang berupa tumpeng. Bentuk kerucut menyimbolkan hubungan manusia dengan Tuhan. “Intinya, hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan itu harus seimbang,” tegas Shri Bhagavan.

Ia menuturkan, apabila hubungan antarmanusia bagus, maka dunia akan damai. Manusia pun berperan memberikan kehidupan pada tanaman yang ada di sekitarnya. Sayur dan segala hasil bumi lainnya bisa dipakai untuk membuat tumpeng, sesaji bagi Tuhan.

Dalam sarasehan ini juga dijelaskan bagaimana semestinya menikmati tumpeng, yaitu dengan cara dikeruk dari bagian bawah atau dasarnya. Memotong bagian puncak merupakan pengaruh budaya Barat saat memotong kue ulang tahun.

Bila tumpeng dipotong puncaknya, dimaknai memotong hubungan dengan Tuhan. Sebab, puncak tumpeng menyimbolkan Tuhan Yang Maha Esa (satu butir nasi paling atas). Oleh karena itu, bentuk kerucutnya menyimbolkan hubungan spiritual manusia dengan Sang Pencipta.

Fransiskus Riyanto (berdiri). Komunitas Sorseng menjadi teman bagi para peziarah, terutama yang datang pada malam hari.

Sementara itu, mengenai komunitasnya, Fransiskus Riyanto menjelaskan Sorseng bisa dimaknai dua macam. Secara harfiah, komunitas ini biasa duduk mengobrol di bawah (ngisor) atap seng. Selain itu, Sorseng adalah akronim dari sopo rene seneng (siapa saja yang datang ke sini niscaya bahagia).

“Siapa pun yang berbaur dengan komunitas ini, hanya bersukacita. Mungkin kita punya masalah. Tetapi setelah ngobrol di sini, diharapkan ikut bersukacita, menikmati kesenangan. Kemudian, ketika turun menghadapi realitas kehidupan masing-masing, sudah membawa semangat untuk kuat menghadapi masalahnya,” terang Riyanto.

Komunitas Sorseng juga menjadi teman bagi para peziarah, terutama yang datang pada malam hari. Lewat suara obrolan maupun tawa yang terdengar sayup-sayup, para peziarah tidak merasa sendirian.

“Bagi beberapa orang, mungkin situasi landscape bukit di sini yang banyak pohon dan di beberapa tempat masih gelap, mungkin membuat perasaan kurang nyaman. Maka, kehadiran kami di sini memberi mereka kenyamanan,” ungkap Riyanto.

Tentang sarasehan ini, ia menyebutnya sebagai sesi pembelajaran edisi pertama. Tema pokoknya adalah kebutuhan dasar manusia, yakni pangan, sandang, dan papan. Tumpeng merupakan bagian dari tema pangan.

“Pada edisi berikutnya mungkin tentang keris sebagai bagian dari sandang. Juga tentang papan, bagaimana orang Jawa membangun rumah limasan maupjn joglo yang sudah teruji, termasuk untuk menghadapi gempa,” papar Riyanto.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *