Bantul. Dalam upaya menjaring para pemula untuk regenerasi pelayanan di setiap lingkungan di Paroki St. Yakobus Bantul, Tim Pelayanan Pemazmur, Dirigen, dan Kor menyelenggarakan pelatihan pemazmur, dirigen, dan kor pada Minggu, 17 November 2024 di aula Gereja St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta.
Dalam pelatihan ini, setiap lingkungan mengirimkan tiga orang peserta yang berkapasitas sebagai pemazmur, dirigen, dan (anggota) kor. Para pembicara yang mengisi pelatihan yakni Bege Carolus, Tarsicius Iwan Budi Pratama, dan Martinus Fuji Haryoko.
Bege sebagai pelatih paduan suara banyak membantu Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Yakobus Bantul dalam bernyanyi hingga mengantar mereka memenangkan festival atau lomba sampai mengadakan konser. Ia juga aktif melatih dan mendampingi kelompok paduan suara tingkat lingkungan maupun wilayah di Paroki St. Yakobus Bantul.
Iwan merupakan Ketua Tim Pelayanan Dirigen Paduan Suara Paroki St. Yakobus Bantul, sedangkan Martin adalah guru SD Kanisius Wirobrajan Yogyakarta yang memiliki kiprah dalam bernyanyi dan melatih dirigen di Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Dalam pelatihan ini, Bege membawakan materi Teori Musik, Iwan mengajarkan tentang bagaimana menjadi dirigen, dan Martin menyajikan materi Pewarta Sabda Tuhan melalui Nyanyian.
Bege dalam pemaparannya menjelaskan tentang notasi angka, not balok, garis paranada, nada not balok, serta tanda sukat/birama (time signature). “Not balok digunakan untuk keperluan bermain musik. Jadi, untuk pemain musik, not balok merupakan sesuatu hal yang bisa dibilang sebagai makanan sehari-hari. Bentuknya yang terbilang aneh, beberapa orang menyebutnya sebagai gambar kecambah, kadang-kadang membuat seseorang bingung membacanya, karena dianggap tidak semudah membaca not angka,” terang Bege.
Sementara itu, dalam sesinya Iwan mengakui dirinya tidak bisa memberikan materi yang tinggi-tinggi, teori-teori yang hebat-hebat, atau pengetahuan musik dan lagu yang luas dan mendalam, tetapi lebih kepada membagikan pengalaman atau memberikan dorongan dan semangat saja.
“Dirigen umat atau dirigen Gereja erat dengan paduan suara di gereja dalam liturgi Ekaristi Kudus. Tujuan dirigen adalah memimpin dan memberikan aba-aba atau sinkronisasi pada umat untuk bisa ambil bagian dalam liturgi Ekaristi. Selain itu, dirigen juga bertujuan memimpin dan memberikan aba-aba pada kelompok kor atau paduan suara untuk memimpin umat dalam bernyanyi. Dari situ akan terbangun suasana khusuk umat dalam merayakan Ekaristi Kudus,” terang Iwan.
Ia pun melanjutkan, “Tugas dirigen tidak sekadar itu, tetapi lebih pada melatih dan memimpin paduan suara, memilih dan menyiapkan lagu, mengajari dan mencontohkan tiap lagu, tiap kali latihan harus hadir, dan seterusnya.”
Dalam sesi berikutnya, Martin memaparkan pemazmur harus menguasai cara melagukan mazmur, memiliki suara yang lantang, dan ucapan yang jelas. Selain itu, pemazmur juga perlu menghayati, menginterpretasi, dan mengekspresikan mazmur tanggapan.
Selain itu, pemazmur hendaknya memperhatikan gesture-nya, yakni gerakan tubuh yang digunakan untuk menyampaikan pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung, tanpa menggunakan kata-kata. “Gesture merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang dapat dilakukan dengan gerakan tangan, wajah, lengan, dan tubuh,” jelasnya.

Pastor Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr, menyatakan pelatihan ini menjadi bagian pendalaman liturgi paroki pada tahun ini dan menjadi program kerja yang sangat diperlukan bagi lingkungan-lingkungan.
Menurut Rm. Merdi, para petugas yang bernyanyi serta organis, berupaya agar seluruh umat menghayati liturgi sebagai bentuk doa. “Secara keseluruhan, cantus atau bernyanyi atau lagu, apa pun itu, ancilla liturgiae. Ancilla artinya hamba. Maka, ancilla liturgiae berarti mengabdi pada liturgi atau doa,” terang Rm. Merdi.
Para peserta, sebutnya, telah merelakan diri menjadi pionir-pionir yang akan terlibat di dalam hidup liturgi. “Ketika Anda bernyanyi, menjadi dirigen, dan teman-teman yang sejak kecil sudah berlatih bermain organ, semuanya perlu diberi koridor atau jalur untuk mengabdi dan membantu dalam liturgi,” ucap Rm. Merdi.

Melihat dari 69 peserta didominasi kaum perempuan, Rm. Merdi mengatakan pemazmur dan dirigen akhirnya memang kebanyakan dari kaum perempuan. “Anda semua, di dalam gerak, tidak diajari sudah bisa. Luwes, lembut, dan lentur. Maka, Anda belajar dari para dirigen yang laki-laki supaya sisi kewanitaan yang sudah lembut dan lentur itu bisa diarahkan dengan baik demi membantu liturgi,” tutur Rm. Merdi.
Selanjutnya, Maria Dina Pratiwi selaku Perwakilan Tim Pelayanan Pemazmur, Dirigen, dan Kor menyatakan akan ada follow up dari pelatihan ini. “Pelatihan ini sebagai awal dari langkah-langkah selanjutnya yang akan direncanakan oleh tim pelayanan dalam rangka semakin berkembangnya semangat melayani di hati para umat,” ujar Dina.
Oleh karena itu, pihaknya telah merencanakan untuk membentuk komunitas pemazmur, dirigen, dan kor tingkat paroki yang beranggotakan peserta komunitas. “Karena kegiatan ini juga sebagai ajang menjaring potensi-potensi di setiap lingkungan,” pungkas Dina.








