Menjelang libur Tri Hari Suci, SMP Stella Duce 2 Yogyakarta (Stece 2) menyelenggarakan Gelaran P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) di aula sekolah yang beralamat di Jl. Suryodiningratan Yogyakarta ini.
Kegiatan yang merupakan puncak dari rangkaian acara kegiatan P5 tahun ini adalah usaha untuk menampilkan berbagai hal yang pernah dilakukan dalam rangkaian kegiatan P5 dengan memperhatikan segala bakat yang ada pada anak untuk berkreasi dalam seni.
Gelaran diawali dengan tarian Gelegar Nusantara yang merupakan rangkuman tari dari seluruh penjuru Nusantara. Acara puncak dari Gelaran P5 ditandai dengan pementasan teater “Petualangan Timun Mas”.
Kisahnya disadur, diolah, dan dikembangkan berdasarkan imajinasi anak dalam menangkap alur cerita. Petualangan Timun Mas ini dipadu dengan bahan cerita dongeng daerah seperti Malin Kundang, Nyi Roro Kidul, dan lainnya untuk mencoba memaparkan adat masyarakat Indonesia, seperti sesajen, larungan, debat, pemilihan suara, dan lainnya sebagai ekspresi dari kegiatan P5.
Penampilan teatrikal ini dikemas dengan apik dan mencoba mengungkapkan kekayaan seni yang ada di masyarakat Indonesia. Gelar budaya ini terungkap dalam satu rangkaian adegan teater dengan memperhatikan unsur seni drama, tari kreasi, tembang, karawitan, band, angklung, dan paduan suara.
Kemampuan akting anak dan keterampilan dalam hal seni yang kreatif itu membuat suasana Gelaran P5 mampu menjadi daya tarik tersendiri. Semua ini tak lepas dari kerja sama seluruh peserta didik kelas VII dan VIII yang berproses selama tiga bulan.
Para guru membagi ke dalam bidang drama, properti, tata rias dan kostum, dokumentasi, tari, paduan suara, musik, dan sound. Bahkan, persiapannya tak kalah heboh dengan yang tampil di panggung.

Jauh-jauh hari sebelum proses latihan berlangsung, para konseptor cerita anak-anak didampingi oleh tim guru membuat skenario. Tentunya ini diiringi dengan literasi sana-sini agar menghasilkan cerita yang pas untuk para remaja. Bisa menghibur sekaligus mengedukasi.
Para pemeran pun tidak berkecil hati ketika diberi ketegasan oleh tim konseptor maupun pendamping agar menghayati aktingnya. Tim ini memiliki semangat yang tak pernah padam hingga anak-anak tetap terjaga kekompakannya sampai pertunjukan terlaksana dengan sangat baik.
Pertunjukkan terlihat indah dengan adanya tangan kecil yang berhari-hari mempersiapkan properti seperti pepohonan, bebatuan di gua, sesajen yang dipakai Mbok Sri memohon untuk diberikan kekayaan dan seorang anak, ranting pohon untuk membuat api-apian Malin Kundang, lapis legit, bahkan menggerakkan selembar kain warna biru bak air laut selatan.
Luar biasa kerja keras mereka hingga merelakan beberapa waktu setelah pulang sekolah untuk membuat segala kebutuhan panggung saat teater berlangsung.
Penonton memuji keindahan itu karena didukung adanya suara pemeran yang lantang meski sesekali terdengar suara pemeran kurcaci di belakang panggung yang sulit sekali untuk diminta diam. Tidak mudah mengkoordinasi segerombolan kurcaci yang sangat aktif bahkan sempat mengintip pertunjukan dari sambungan kain hitam.
Sesekali suara pemeran tidak terdengar jelas karena mikrofon yang digunakan meleset dari gerak pemeran. Bukan karena ketidakahlian pengoperasian mikrofon, hanya saja anak-anak belum terbiasa bergelut di dunia teater seperti ini.
Lucunya lagi, mikrofon sudah aktif tetapi dipukul-pukul oleh para pemeran untuk memastikan suaranya akan terdengar. Petugas pun tidak tinggal diam dengan berusaha untuk menjaga suara mikrofon tidak mengganggu pertunjukkan.

Penampilan yang apik tidak lepas juga oleh tangan kreatif bagian tata rias dan kostum. Hanya berpengalaman corat-coret wajah sendiri, tetapi berakhir dengan memperindah wajah para pemain. Perlu diapresiasi ketekunan mereka untuk mencari bahan coretan untuk pemeran maupun penari supaya terlihat menghayati peran skenario dalam cerita petualangan Timun Mas.
Bahkan, ada yang merelakan peralatan kosmetiknya dipakai untuk mempercantik tampilan para pemain peran. Jerih letih para tim wardrobe dibayar lunas oleh para penari yang dengan tegas memperlihatkan gemulainya mereka dan lantunan musik yang berpadu.
Di balik itu, ada seorang penari yang realitasnya sedang kurang sehat. Namun, karena melihat teman-teman yang lain sudah memperjuangkan yang terbaik, penari ini berani mengambil keputusan untuk tetap tampil meski harus melawan lungkrah tubuhnya karena kecapekan selama berlatih.
Tidak hanya pemeran, penari, pemusik yang berjuang keras dalam pertunjukan ini. Ada tim paduan suara yang berjuang keras supaya suaranya terdengar lantang dan jelas tanpa ditemani pengeras suara.
Di sisi lain mereka juga harus berjuang menghafalkan lirik lagu, gerakan, dan ekspresi untuk menyampaikan pesan lagu yang dipersembahkan untuk penonton. Daya juang yang tidak sepele yang harus dilakukan supaya dapat memadukan antara pemain dalam cerita petualangan Timun Mas.
Masyarakat luas dapat melihat hasil karya anak-anak dengan baik karena di balik itu semua ada tim dokumentasi yang selalu setia mendokumentasikan kegiatan selama persiapan sampai dengan pertunjukan teater ini selesai. Mereka luar biasa berinisiatiff menggunakan peralatan pribadinya untuk menghargai hasil karya teman-temannya dalam video maupun foto.
Tim dokumentasi yang hebat selalu mau belajar dan terus belajar mencari celah bagian mana yang harus dikenang. Dokumentasi menjadi pengingat bahwa mereka pernah memeriahkan gelar budaya sebagai wujud akhir perjalanan P5 berlangsung.













