Bantul. Selasa, 1 Oktober 2024, seluruh umat Paroki St. Theresia Sedayu, Bantul, D.I> Yogyakarta merayakan hari jadi ke-97 sekaligus pesta nama St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus sebagai pelindung paroki. Perayaan kali ini mengambil tema “Hidup Menggereja dalam Kebudayaan dengan Semangat Iman, Harapan, dan Kasih.”
Upacara didahului dengan pemberkatan patung St. Theresia di SD Pangudi Luhur Sedayu oleh Rm. Antonius Koko Kristanto, Pr dan Rm. Antonius Hadi Cahyono, Pr, dilanjutkan dengan perarakan, dan masuk ke gereja yang berjarak sekitar lima ratus meter dari arah timur dengan menyanyikan lagu Santa Theresia Teladan dengan diiringi rebana, gong, dan kendang.
Rm. Koko mengatakan sudah saatnya kaum muda bergerak, diberi ruang dan kesempatan berkembang dan bertumbuh untuk menghargai budaya sehingga upaya regenerasi tetap berjalan. “Hal itu sudah dimulai dari Gereja St. Theresia Sedayu ini, karena sudah banyak hal diambil alih dari kaum tua oleh kaum muda. Contohnya mengenai panitia pesta nama kali ini, banyak remaja mulai dilibatkan sehingga ada perubahan yang terlihat,” terang Rm. Koko.

Lagu inkulturasi, suatu tantangan
Misa peringatan dibuat istimewa karena ada nuansa budaya yang kental dalam balutan musik inkulturasi gaya Kalimantan. Terlihat dalam pilihan lagu Misa yang pure dari Kalimantan dalam buku Madah Bakti, mulai dari lagu pembuka hingga lagu penutup.
Guna mendukung suasana, selain menggunakan alat musik organ, juga digunakan iringan musik khas Kalimantan seperti sape, gong kecil, gendang, dan suling untuk membawa suasana khas bumi Kalimantan. Lagu-lagu yang dibawakan yakni Kami Bawa ke Bukit Tuhan, Bagai Bumi Tersiram Hujan, Hujan Rahmat di Ladang, Terima Kasih Kami Lambungkan,danTerima Kasih Tuhan. Altar pun dihias dengan aneka ornamen Kalimantan sehingga suasana benar matching.
Stainlaus Ivan Davin Radipta, penggerak dan pelatih kor Lingkungan St. Chritophorus, Perumahan Pesona Alam Sedayu, mengatakan perayaan kali ini ingin membawa nuansa lain sehingga ada variasi, berbeda dari biasanya, yakni ingin mencoba lagu dalam gaya inkulturasi Kalimantan.
“Memang, ini adalah bentuk uji coba bagi kor kami. Awalnya, itu usulan kami dari seksi kor untuk memberikan nuansa inkulturasi sesuai temanya. Maka, kami usulkan lagu bergaya inkulturasi Kalimantan dan ternyata dikuatkan teman panitia lainnya. Pastinya, ini merupakan sebuah tantangan dan kami berhasil melaluinya,” ungkap Davin bangga.
Diakuinya, jumlah anggota kor utama sebenarnya kurang ideal, sekitar lima belas orang. Namun, Davin kami bersyukur karena dibantu oleh kelompok kor dari lingkungan lain. Bahkan, untuk mendukung suasana tersebut, mereka juga menggandeng pemain musik inkulturasi dari Pusat Musik Liturgi (PML) agar feel-nya dapat masuk.

Banyak di antara peserta kor yang merasa pesimistis untuk menyanyikan lagu dalam gaya Kalimantan. Namun, berkat adanya ketekunan, kesabaran, serta kegigihan dalam berlatih, lagu-lagu tersebut dapat ditampilkan dalam Misa pesta nama Paroki St. Theresia tahun ini.
Salah satu anggota kor, Agnes Katriana Rudatin ketika ditanya berapa kali latihan, ia mengatakan, “Sudah sekitar satu bulan, dari awal September sudah dilatih lagunya dan kami juga latihan sendiri melalui YouTube karena belum pernah sama sekali bernyanyi dalam gaya Kalimantan,” ungkap Agnes.
Ia mengaku senang karena sekarang jadi tahu lagu inkulturasi gaya Kalimantan dan ternyata juga enak didengar serta dinyanyikan. “Kami pun tambah perbendaharaan lagu Gereja. Kami bersyukur punya Mas Davin sebagai pelatih karena mencoba untuk mengeksplorasi lagu Kalimantan dalam pesta nama pelindung Paroki St. Theresia kami kali ini,” imbuh Agnes.














