Jorge Mario Bergoglio, SJ merupakan Paus (pimpinan katolik tertinggi) ke-266. Ia mengambil nama St. Fransiskus Assisi untuk jabatan paus. St. Fransiskus Assisi merupakan orang kudus yang memiliki teladan yang baik bagi semua orang, yaitu berani meninggalkan seluruh kekayaan duniawi yang dimiliki kemudian dengan berani pula menghayati dan menghidupi semangat kemiskinan Tuhan.
Nama Fransiskus yang memiliki teladan tentang kemiskinan itu tidak hanya digunakan untuk jabatan paus saja, nilai kemiskinan itu benar-benar dihidupinya sebagai pimpinan tertinggi agama Katolik dan sebagai kepala negara Vatikan. Paus menjadi sorotan publik, khususnya di Indonesia, karena kesederhanaannya ketika datang ke negara ini.
Sebagai kepala negara khususnya Vatikan, seharusnya Paus mendapatkan haknya sebagai pemimpin suatu negara jika ingin berangkat atau sedang melakukan kunjungan ke negara lain. Sangat dimungkinkan jika Paus ingin menaiki peswat pribadi, melihat Vatikan merupakan negara yang kaya.
Hal tersebut tampaknya tidak berlaku bagi pemimpin umat Katolik sedunia ini. Beliau justru memilih menaiki pesawat komersial Alitaliadari Bandara InternasionalLeonardo da Vinciatau Roma Fiumicino menuju Bandara Soekarno Hatta. Beliau berangkat bersama dengan para wartawan dari Roma menuju Indonesia selama 12 jam 45 menit. Duduk di kursi 1C dan sempat berterima kasih kepada para wartawan yang telah menemani perjalanan jauhnya.
Tidak hanya menggunakan pesawat komersial, banyak kesederhanaan yang dilakukan oleh Paus Fransiskus sehingga menarik perhatian warga Indonesia di banyak kalangan. Salah satu contoh kesederhanaan yang dilakukan oleh Paus Fransiskus adalah tidak mengenakan atribut-atribut mewah yang sangat mungkin ia dapatkan ketika ia menjabat sebagai seorang Paus.
Salah satu contoh dari barang-barang tersebut ialah jam tangan yang ia kenakan bermerek Casio seri MQ24-7B2. Jam tangan tersebut hanya dijual dengan harga Rp290.000,00 – Rp400.000,00.
Hal lain juga disoroti oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo (Uskup Agung Jakarta), yaitu sepatu yang dikenakan oleh Paus pada saat kunjungan ke Jakarta tempo lalu. Kardinal berkata, biasanya seorang Paus menggunakan sepatu berwarna putih atau merah, sedangkan Paus Fransiskus memilih menggunakan sepatu hitam yang lusuh dan sudah berlekuk-lekuk.
“Kemarin saya sengaja memperhatikan sepatunya. Saya ‘kan dekat, ya, melihat sepatunya,” kata Uskup Agung Jakarta tersebut di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Rabu, 4 September 2024.
Dalam kunjungannya selama tiga hari di Indonesia, Paus juga tidak memilih menginap di hotel mewah, melainkan di Kedubes Vatikan di Jakarta Pusat. Hal tersebut sangat kontras dengan apa yang pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada saat Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Jakarta. Banyak tamu negara yang menginap di hotel-hotel mewah.
Sangat terlihat perbedaan antara harga hotel mewah dengan Kedubes. Dari segi fasilitas, tentu hotel mewah memiliki fasilitas yang sangat baik untuk ditinggali. Melihat dari tarifnya, Presidential Suite Grand Hyatt Hotel (hotel yang ditempati para tamu Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN) memiliki harga 85,15 juta per malam.
Dalam perjalanannya dari bandara, Paus Fransiskus hanya menggunakan mobil Toyota Kijang Innova Zenix yang memiliki harga yang jauh lebih murah daripada mobil-mobil yang digunakan para pejabat, yaitu Mercedes Benz Tipe GLZ yang memiliki harga Rp2,5 miliar dan Jeep Rubicon dengan harga Rp2 miliar.
Sebagai seorang pemimpin, tentu saja ini bisa menjadi masalah mengingat keamanan menjadi nomor satu. Dalam mobil tersebut terlihat Paus yang duduk di sebelah sopir. Posisi duduk di sebelah sopir untuk orang yang selevel dengan si sopir. Kesederhanaanya sungguh menjadi bukti bahwa hidup sederhana bukan hanya sekadar motivasi tetapi kesederhanaan yang benar-benar dihidupinya sebagai seorang pemimpin.

Teladan bagi para pimpinan negara
Sosok Paus ini dapat menjadi teladan bagi banyak orang, terkhusus bagi para pemimpin negara di Indonesia. Jarang kita lihat seorang pemimpin atau petinggi negara, khususnya dari Indonesia, yang memilih hidup sederhana. Kasus korupsi di Indonesia masih sangat tinggi. Banyak yang tidak memikirkan nasib orang-orang yang miskin. Banyak pejabat yang mementingkan kepentingan perutnya daripada perut banyak orang. Hal tersebut jelas ada dan masih menjadi suatu masalah yang besar bagi bangsa ini.
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia juga dihebohkan dengan salah satu pejabat tinggi negara yang menaiki jet pribadi. Indonesia juga sekarang dihebohkan dengan kasus-kasus yang mementingkan salah satu pihak paslon gubernur. Mengapa itu semua terjadi?
Pada dasarnya seorang pemimpin itu bertugas untuk mengayomi rakyat. Namun, banyak pemimpin yang justru menjadikan kekuasaan itu sebagai cara dia untuk bisa semena-mena. Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) merajalela.
Pada dasarnya penting bagi kita semua ketahui bahwa sebagai pemimpin haruslah mengayomi dengan baik. Sarana dan tujuan. Pada saat menjadi seorang pemimpin, tentu Anda akan mendapatkan fasilitas yang mewah, uang Anda banyak, mendapatkan mobil dinas yang mewah, tetapi dari sini penting kita semua ketahui bahwa itu semua adalah sarana.
Banyak orang yang salah kaprah ketika hendak terjun ke dalam dunia politik. Banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kursi di pemerintahan, tentu hidup mereka akan jauh dari kata sulit.
Pada dasarnya mereka semua hal yang mewah yang seharusnya menjadi sarana justru malah menjadi tujuan mereka sehingga banyak para pejabat yang terus-menerus memperkaya diri dan malah melakukan korupsi. Maka, perlu untuk diketahui dahulu sarana dan tujuan dalam melakukan sesuatu. Jangan melakukan atau mengejar sesuatu yang sebenarnya itu sarana.
Paus datang secara terbuka dan dengan pesan yang jelas mengenai kesederhanaanya sebagai seorang kepala negara di Vatikan. Mengingatkan kepada kita semua mengenai arti dari sebuah kepemimpinan yang tulus, murni bagi kemajuan, kesejahteraan banyak orang.
Thomas Aquinas Aditya (Seminaris Seminari Menengah St.Petrus Canisius Mertoyudan Magelang)














