Menjadi umat Kristiani pada zaman ini tentu tidaklah mudah. Kita mempunyai berbagai macam tantangan, baik dari dalam diri kita, maupun pengaruh dari luar.
Walau begitu, kita patut berbangga kehidupan spiritual yang kita jalani saat ini sungguh dijiwai oleh semangat Roh Kudus, yang secara alami tumbuh dan berkembang sejak awal mula dalam kelompok kecil Kristiani, yakni keluarga.
Kekukuhan dan tangguhnya iman seorang Kristen bermula dari keluarga sebagai tempat kehadiran Kristus sendiri, karena di dalam Dia ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan, serta menyempurnakannya dengan sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Flp. 2:1-2), dan hal itu pula yang dihadirkan oleh setiap keluarga Kristen yang dijiwai oleh kuasa Roh Kudus.
Praktik keluarga Kristen yang baik sejak dulu hingga saat ini menjadi fondasi yang kukuh dan kekuatan spiritual yang luar biasa bagi setiap umat Kristen, contohnya dalam praktik pemahaman akan bentuk pewahyuan dari Allah.
Tentu ini menjadi semangat, tekad, dan motivasi sendiri untuk bagaimana setiap orang memahami pewahyuan dari Allah di tengah pluralitas yang ada saat ini.
Pewahyuan atau kata dasarnya “wahyu” berasal dari bahasa Arab: waha yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi, dalam bahasa Inggris: revelation (to reveal), latin: revelare (dari velum:”selubung”), yang artinya membuka selubung, menyingkapkan selubung, sedangkan dalam bahasa Ibrani (PL): Khazon artinya penglihatan, dari kata kerja Khazah, artinya melihat, memandang, mengamat-amati, dan dalam bahasa Yunani (PB): Apokalyptein, artinya menyingkapkan, mengambil selubung, menyatakan atau kata apo-kalypto, artinya pernyataan Allah yang tak kelihatan, misterius, yang tak mungkin dihampiri manusia dengan kemampuannya sendiri.
Sering kali makna atau istilah wahyu muncul dalam banyak fenomenologi agama sehingga menghadirkan perspektif yang berbeda dari setiap orang yang memahaminya. Contoh saja, wahyu sendiri dipahami sebagai isi atau objek yang mana mengartikan wahyu sebagai tanda-tanda suci dalam alam, vision-penampakan, ataupun mimpi.
Namun begitu, jika melihat problematik pengertian tentang wahyu saat ini sangatlah banyak, bahkan menimbulkan sistem pemahaman yang ekstrem, misal dalam masyarakat tradisional wahyu sering dimengerti sebagai wangsit, artinya tidak selalu dari Allah, tetapi bisa dari nenek moyang, leluhur, dan dewa-dewi, meskipun istilah wahyu sendiri sudah digunakan dalam Kitab Suci Kristen.
Menghayati pewahyuan dari Allah ini, tentu kita akan berpusat pada sosok Yesus Kristus, yang mana menjadi pemenuhan dan penggenapan janji keselamatan Allah bagi umat manusia, sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan putra-Nya yang tunggal, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
Kasih yang menjadi dasar pewahyuan Allah ini pun berlangsung dalam sejarah umat manusia, bahkan dirasakan oleh setiap pribadi umat beriman lewat pengalaman kesehariannya.
Pewahyuan Allah sendiri dalam konsep iman Kristiani dapat dipahami sebagai pemberian diri Allah atas dasar belas kasih yang dianugerahi kepada manusia, dan jika manusia menanggapi, manusia tidak hanya menerima diri Allah tetapi juga mengalami kesatuan dengan-Nya, yang berpuncak pada keselamatan umat manusia itu sendiri.
Perlu kita sadari bahwa peristiwa keselamatan umat manusia ini tidak hanya diupayakan oleh satu sisi saja, yakni Allah, melainkan keselamatan yang dimaksud adalah partisipasi, keikutsertaan, ikut ambil bagian dan bersatu dalam seluruh hidup Allah, yang berpuncak dalam Yesus Kristus lewat karya dan sabda-Nya.
Sebagai umat Kristen yang beriman, pemahaman akan wahyu ini hendaknya kita hayati secara mendalam di tengah kemajemukan masyarakat, karena dalam iman Kristen kita mempunyai kekhasan paham wahyu yang berbeda dari agama dan kepercayaan lain, agama Kristiani memandang wahyu bukan pewahyuan melalui ajaran, Kitab Suci, atau cara-cara lainnya, melainkan seorang pribadi yang konkret, yaitu Yesus Kristus, maka Yesus Kristus bukan hanya mewahyukan atau menyatakan diri Allah, tetapi Ia adalah Sang Wahyu itu sendiri, karena seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Dia (Kol. 1:19)
Para pembaca yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, di tengah pluralitas yang ada khususnya agama di Indonesia, kita ditantang menghidupi paham wahyu Kristiani ini, yakni menghadirkan sosok Yesus Kristus di tengah kemajemukan tanpa menyakiti, menyinggung perasaan orang lain yang berbeda dengan kita.
Penghadiran ini kita hayati dalam sikap hidup dan kualitas diri yang baik yang tercermin dalam kehidupan di tengah masyarakat. Menjadi pribadi kasih dan pembawa damai, terwujud dalam menyikapi perbedaan secara dewasa, dan bijaksana dengan tidak mengandalkan keegoisan diri tetapi menggunakan hati dengan bersikap legawa, agar suasana damai sejahtera tetap terpelihara.
Kita juga dapat menunjukkan kualitas diri dengan memberikan pengampunan bagi mereka yang entah dengan sengaja maupun tidak sengaja menyakiti kita. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dengan perdamaian dengan semua orang! (Rm. 12:18).
Sebagai umat Kristiani pula kita diajak untuk saling memberikan nasihat atau masukan yang positif tanpa menjatuhkan mereka yang berbeda. Mulailah untuk peduli dan tidak bersikap masa bodoh dengan orang lain, hadirlah sebagai penengah tanpa keberpihakkan kepada salah satu, serta memberikan nasihat yang positif dan membangun, demi lahirnya suasana damai di tengah masyarakat.
Dengan begitu kita benar-benar menghadirkan Yesus Kristus sebagai wahyu Allah di tengah tengah pluralitas masyarakat, karena kita yang dibenarkan oleh karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Rm. 5:1).
Fr. Albino Febryan Dwi Putra, SSCC
Mahasiswa Prodi S-1 Filsafat Keilahian Fakultas Teologi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto













