Jakarta. Dalam pertemuan dengan para pemuka dan umat beragama di Masjid Istiqlal, Paus Fransiskus mengunjungi Terowongan Silaturahim yang menghubungkan masjid dengan Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga.
Gagasan untuk membangun Terowongan Silaturahim muncul saat Presiden Joko Widodo meninjau perkembangan proyek renovasi Masjid Istiqlal pada 7 Februari 2020. Waktu itu, Jokowi mendengarkan usulan pembangunan terowongan tersebut dan langsung setuju.

Terowongan ini diharapkan tidak hanya menjadi penghubung tanah, melainkan juga menjadi ikon toleransi di Indonesia. Di dalamnya ada diorama dan karya seni yang menggambarkan praktik tolerasi serta saling menghormati di antara masyarakat Indonesia yang memeluk agama berbeda-beda. Terowongan ini juga diharapkan dapat mempererat pesaudaraan, persatuan dalam kebinekaan, serta silaturahmi antarumat beragama.
Pembangunan fisik Terowongan Silaturahim sepanjang 28,3 meter dengan anggaran 37,3 miliar rupiah ini dilaksanakan mulai 25 Januari 2015 dan selesai tanggal 20 September 2021. Karya seni yang ditampilkan dalam terowongan diperoleh lewat lomba yang melibatkan banyak seniman.

Pada 24 April 2022 dilakukan presentasi karya para peserta yang lolos kualifikasi. Empat hari kemudian, pada 28 April 2022, Tim Juri memutuskan karya seniman Sunaryo sebagai pemenang lomba dengan menawarkan konsep Wot (Jembatan) Hati.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menerangkan, “Yang Mulia, Terowongan Silaturahim ini menghubungkan dua tempat ibadah. Di dalamnya banyak simbol yang sangat artistik, indah, dan melambangkan toleransi beragama yang sangat intensif.”

Setelah itu, Paus Fransiskus memberikan tanggapan secara umum, “Saya mengenang dengan senang hati bahwa masjid ini dirancang oleh arsitek Friedrich Silaban, seorang Kristen yang memenangkan sayembara desain. Ini membuktikan, dalam sejarah bangsa ini dan dalam budaya yang berkembang di sini, masjid, seperti tempat ibadah lainnya, adalah ruang dialog, ruang untuk saling menghormati dan hidup bersama dengan damai di antara agama-agama dan berbagai kepekaan rohani yang berbeda.”
Tentang Terowongan Silaturahim, Paus Fransiskus menyebutnya sebagai simbol yang bermakna, yang memperkenankan dua tempat ibadah agung tidak hanya saling “berhadapan”, tetapi juga saling “terhubung”.

“Sungguh, lorong ini memungkinkan perjumpaan, dialog, dan kemungkinan nyata untuk menemukan dan membagikan ‘mistik’ hidup bersama, berbaur dan bertemu … mengambil bagian dalam gelombang yang, meskipun agak kacau, dapat menjadi pengalaman nyata persaudaraan dalam iring-iringan solidaritas, penziarahan suci,” tutur Paus Fransiskus mengutip Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium (EG) 87.
“Saya mendorong Anda bersama-sama mengembangkan spiritualitas dan mengamalkan agama masing-masing (agar) dapat berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat yang terbuka, yang didasarkan atas sikap saling menghargai dan mengasihi, mampu melindungi diri dari kekerasan hati, fundamentalisme, dan ekstremisme yang selalu berbahaya dan tak pernah dapat dibenarkan,” lanjutnya.
Di hadapan para tamu, Nasaruddin Umar menyampaikan, “Sejak saya bertugas sebagai Imam Besar di Masjid Istiqlal ini, saya telah menegaskan secara kuat bahwa Masjid Istiqlal bukan hanya rumah ibadah umat Islam, tetapi juga rumah besar untuk kemanusiaan.”

Ia berprinsip humanity is one sehingga siapa pun boleh masuk dan mendapatkan manfaat dari Masjid Istiqlal. “Siapa pun boleh masuk untuk mencari kebaikan bagi umat manusia melalui masjid ini. Sejak awal, Masjid Istiqlal berupaya untuk melayani semua orang,” tegas Nasaruddin.
Masjid Istiqlal juga berfungsi untuk merawat toleransi dan moderasi umat beragama di Indonesia. Pembangunan Terowongan Silaturahim menjadi bukti peran Masjid Istiqlal sebagai melting pot, khususnya warga bangsa Indonesia yang majemuk, yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
“Kehadiran Yang Mulia Paus Fransiskus di masjid terbesar di Asia atau terbesar ketiga setelah Mekkah dan Madinah ini, tentu saja memberikan kehormatan kepada kami semua, segenap bangsa Indonesia. Kami sangat berbahagia, Paus Fransiskus memberikan apresiasi kepada bangsa dan komunitas kami dengan mengunjungi tempat suci kebanggaan kami. Insya Allah, pesan dan cita-cita yang disampaikan Yang Mulia Paus Fransiskus akan diwujudkan dan dilaksanakan oleh kita semua,” janji Nasaruddin.
Di antara tamu yang hadir, tampak Jusuf Kalla (Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12), M. Quraish Shihab (Direktur Pusat Studi Al-Qur’an), Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama Republik Indonesia), Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan), Budi Arie Setiadi (Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia), Rosan Roeslani (Menteri Investasi), serta Sinta Nuriyah (Ibu Negara Indonesia keempat).

Sementara itu, sebagai salah satu undangan, Ulil Abshar Abdalla merasa terharu ketika melihat Paus Fransiskus turun dari mobil yang sederhana dengan sedikit kerepotan. “Di sini saya ketemu teman-teman tokoh antaragama. Luar biasa. Saya menganggap ini kunjungan yang dalam bahasa kami sebagai orang Islam, barokah,” ungkap Ulil.
Baginya, untuk Indonesia juga luar biasa karena negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dikunjungi oleh pemimpin Gereja Katolik dari Vatikan. “Ini persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan yang luar biasa. Menandakan Indonesia sebagai negara Muslim yang membuka tangannya untuk semua tokoh antaragama dan mengulurkan tangannya untuk semua pemeluk agama,” nilai Ulil.
Ia berharap persaudaraan antariman makin membaik setelah kunjungan Paus Fransiskus. “Kita sudah cukup lama mengembangkan dialog antaragama di Indonesia. Tokoh-tokohnya kita kenal. Gus Dur, Rm. Magnis, Th. Sumartana, Pdt. Yewangoe, dan lain-lain. Kedatangan Paus semoga lebih memperuat lagi dialog, persahabatan, dan silaturahmi antaragama,” harap Ulil.








