Sunarti, namanya sederhana seperti orangnya. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di rumah saya sudah cukup lama. Badannya kurus. Ia hanya lulusan SD. Setamat SD, ia sudah bekerja sebagai ART di Jakarta.
Seumur hidupnya, ia berkarya sebagai ART. Justru, dalam kehidupannya yang sederhana dan pekerjaannya yang kadang dipandang sebelah mata, saya menemukan beberapa mutiara kehidupan.
Mutiara pertama yaitu kedisiplinan. Jam kerjanya dimulai pukul 07.00. Namun, Sunarti sudah sampai ke rumah saya pukul 06.45. Kadang, saya malas kalau ia datang terlalu gasik (awal), karena saya mesti segera bangun dari lelap. Saya tidak bisa bersantai sambil mendengarkan lagu-lagu favorit saya.
Setelah saya renungkan, kedatangannya sebelum jam kerja menyadarkan saya untuk tidak bermalas-malasan di pagi hari. Inilah mutiara pertama yang saya temukan dalam diri ART saya. Kedisiplinan Sunarti datang dan pulang kerja.
Mutiara kedua yang dimilikinya adalah bekerja dengan senyum dan riang gembira. Setiap kali saya membukakan pintu untuknya, ia selalu berkata, “Wah, Mbak Ivonne sudah terlihat rapi dan wangi nih.”
Ia menyapa saya dengan wajah yang semringah. Kadang, saya tersipu-sipu mendengar pujiannya. Karenanya, saya jadi terbiasa mandi pagi yang menyegarkan badan dan jiwa.
Pekerjaan menyapu dan mengepel dilakukannya dengan senyum dan raut wajah yang cerah. Kadang, ia bersenandung pelan. Padahal, saya masih sering bersungut-sungut kala bekerja.
Saya tergelitik untuk bertanya, “Mbak Narti, kok wajahnya ceria sekali?”
“Mbak Ivonne, saya bekerja untuk mendapat rezeki halal untuk keluarga, mengapa saya mesti sedih? Saya bersyukur masih bisa bekerja untuk membantu suami saya dan membahagiakan anak-anak dengan gaji saya,” sahutnya sambil tersenyum.
Oh, Mbak Narti, pekerjaanmu yang sederhana itu kaulakukan dengan gembira dengan hati penuh syukur.
Suatu ketika sebelum pulang kerja, ia mengetuk pintu kamar saya. Sunarti bertanya dengan wajah yang polos. “Mbak Ivonne, apakah punya amplop putih kecil?”
“Ya, ada. Sebentar, saya ambilkan. Untuk apa amplopnya?” tanya saya.
“Mau saya gunakan untuk menyumbang tetangga saya yang baru punya cucu.”
Saya melihatnya memasukkan semua gajinya hari itu sebesar 50 ribu ke amplop putih itu.
“Loh, Mbak, kok diberikan semua gajimu? Apa nggak sayang?”
“Ah, tidak, Mbak. Saya bahagia bisa menolong orang lain,” jawabnya sambil tersenyum ringan.
Sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri adalah mutiara kehidupan ketiga yang saya temukan dalam diri ART saya ini.
Di lain kesempatan, Sunarti bertanya dengan malu-malu bertanya, “Mbak Ivonne, apakah soto di depan rumah Mbak itu enak, ya?”
“Ya, lumayan,” jawab saya.
“Saya mau membelikan suami dan anak-anak,” jawabnya dengan suara riang.
“Lalu, apa kamu juga beli untukmu?” tanya saya.
“Ah, tidak, Mbak, uang saya terbatas. Cukuplah saya melihat kebahagiaan di wajah suami dan anak-anak saya. Saya ikut bahagia bila orang yang saya cintai bahagia,” tuturnya.
Ah, betapa mulianya dirimu, Mbak. Kau tak memiliki rasa egoistis sama sekali. Semua hasil keringat dan jerih payahmu, kauberikan untuk membahagiakan orang-orang yang kaucintai.
Mutiara terakhir adalah kejujuran. Terkadang masih ada uang yang tertinggal di kaus olahraga ayah saya. Bahkan, pernah dompet ayah saya tertinggal di saku kaus jersey-nya.
Dompet dan uang itu semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh. Ia sama sekali tidak membuka dompet itu. Sunarti berkata, “Saya tidak mau mengambil yang bukan milik saya, Mbak Ivonne. Biarlah saya tidak berharta, tapi saya tidak mau mencuri.”
Dalam diri orang sederhana ini, Tuhan mengajarkan saya untuk tetap bersikap jujur walau ada kesempatan untuk berbuat tidak jujur.
Sunarti, penampilan dan hidupmu yang sederhana ternyata menyimpan mutiara-mutiara kebijaksanaan yang bagus untuk direnungkan.
Kutatap mega di atas langit sana sembari berkata dalam hati, “Kadang keindahan hidup bukanlah pada jabatan, harta, kepandaian, dan kekuasaan. Namun, justru keindahan itu muncul dalam kesederhanaan dan menjalani hidup dengan gembira. Di mata saya, pekerjaan sederhana Sunarti yang dilakukan dengan kejujuran, kedisiplinan, kegembiraan, kasih, dan ketulusan mampu berkilau laksana mutiara.”
Ivonne Suryanto














