Pada era digital saat ini, internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap hari, media sosial menjadi makanan yang dikonsumsi hampir setiap individu. Platforms seperti Instagram, TikTok, dan Facebook menyajikan dunia yang penuh dengan sorotan, unggahan, dan cerita kehidupan seseorang.
Ada yang memperlihatkan prestasi, ada yang berbagi kebahagiaan, tetapi ada pula yang memperlihatkan kesedihan sebagai sarana meluapkan kegalauannya. Intinya, aplikasi-aplikasi ini tidak hanya memungkinkan kita untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi wadah banyak orang memamerkan kehidupannya.
Salah satu tren yang berkembang dalam budaya media sosial saat ini adalah flexing. Flexing adalah kebiasaan memamerkan kekayaan, status sosial, atau pencapaian pribadi secara terbuka, dengan tujuan untuk memperoleh pengakuan atau pujian.
Para pelaku flexing ingin menunjukkan kepada dunia betapa suksesnya mereka, baik melalui barang-barang mewah yang mereka miliki, gaya hidup yang terlihat glamor, maupun pencapaian pribadi yang mereka anggap prestisius.
Flexing adalah ekspresi dari kebanggaan diri yang terkadang berlebihan. Tidak hanya sekadar menunjukkan prestasi atau pencapaian, tetapi lebih dari itu, sering kali orang-orang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan hanya untuk mendapat pengakuan dan pujian dari orang lain.
Beberapa bahkan rela berutang, menyewa barang-barang mewah, atau meminjam sesuatu untuk sekadar menunjukkan kehidupan yang mewah. Semua dilakukan demi sebuah pengakuan dari dunia maya yang fana.
Dalam banyak kasus, ini bahkan sampai pada titik seseorang merasa tidak cukup dengan apa yang mereka miliki, dan merasa perlu untuk terus “berpura-pura” menjadi lebih dari apa adanya, dengan harapan mendapatkan pujian dan validasi dari orang lain.
Fenomena flexing, yang sering terlihat dalam perilaku media sosial, dapat memunculkan sejumlah masalah moral dan sosial budaya. Salah satunya adalah keterasingan sosial, yaitu individu merasa tertekan untuk memenuhi standar hidup yang tampaknya sempurna, meskipun itu sering kali jauh dari kenyataan sehingga menciptakan perasaan tidak puas dan kesenjangan emosional dalam masyarakat.
Selain itu, flexing memperburuk nilai materialisme, mengutamakan pencapaian dan barang-barang mewah sebagai ukuran kesuksesan, sementara mengabaikan nilai-nilai spiritual dan kontribusi positif terhadap masyarakat.
Dari sudut pandang moral, fenomena ini dapat menciptakan ketidaktulusan, karena individu sering kali menyembunyikan aspek kehidupan yang tidak sesuai dengan citra ideal yang ingin mereka tampilkan, merusak nilai kejujuran dan integritas.

Dampak lain yang signifikan adalah pengaruh negatif terhadap kesehatan mental, yaitu perbandingan sosial yang konstan dapat memicu stres, kecemasan, dan perasaan rendah diri. Media sosial, sebagai platform utama penyebaran flexing, memperburuk norma sosial yang materialistik dan individualistis, menggeser perhatian dari masalah sosial yang lebih penting, seperti ketidaksetaraan dan ketidakadilan.
Secara keseluruhan, flexing menciptakan ketegangan antara pencapaian pribadi yang tampak dan kebutuhan untuk menciptakan hubungan yang autentik serta empati dalam masyarakat.
Pada akhirnya, orang berlomba-lomba mencari posisi di atas, terjebak dalam persaingan untuk menunjukkan status sosial yang lebih tinggi daripada orang lain. Dalam banyak kasus, hal ini bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Fenomena ini menciptakan budaya kompetisi yang tak berujung, yakni nilai-nilai seperti kebersamaan, kerja sama, dan kesederhanaan sering kali terabaikan sehingga keutamaan kerendahan hati, empati, dan pengorbanan demi kepentingan bersama menjadi terkikis. Dalam masyarakat yang terlalu fokus pada pencapaian pribadi, makna sejati dari saling membantu dan mendukung sering kali hilang.
Di tengah arus zaman yang semakin fokus pada tampilan dan penampilan luar, kita melihat kontras yang luar biasa dalam kehidupan Yesus. Dia, yang adalah Allah sendiri, memilih untuk hadir dalam rupa manusia dengan segala kesederhanaan.
Ketika Yesus dilahirkan, dunia tidak menyambutnya dengan kemewahan atau kemegahan. Ia lahir di sebuah kandang, dibaringkan di atas palungan, tempat yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.
Dunia yang tidak mampu merayakan kedatangannya dengan cara yang megah, memaksa-Nya untuk memilih tempat yang rendah dan tidak bernilai di mata manusia. Bahkan, ketika Malaikat Gabriel memberitahukan Maria bahwa ia akan melahirkan seorang Anak yang akan menjadi Raja, ia menegaskan bahwa Anak yang dilahirkan tersebut adalah yang Kudus dari Allah, yang akan membawa keselamatan bagi umat manusia. Namun, meskipun Anak itu adalah Raja, Ia tidak datang dengan segala kemewahan dunia.
Sebaliknya, Yesus datang dalam kemiskinan dan kerendahan hati. Paulus menjelaskan hal ini dengan jelas dalam suratnya kepada jemaat Filipi: “Dia yang sejak semula adalah Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di salib” (Flp. 2:6-8).
Meskipun Yesus memiliki status yang tinggi dan mulia sebagai Allah, Ia memilih untuk merendahkan diri-Nya, menjadi manusia, bahkan lebih rendah dari manusia pada umumnya, dengan mati di salib, salah satu cara mati yang paling hina pada masa itu. Melalui tindakan ini, Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada status atau kekayaan, tetapi dalam kerendahan hati dan pengorbanan.
Di tengah hidup kita yang penuh dengan kemudahan dan tampilan luar ini, sering kali kita merasa terjebak dalam perburuan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Meskipun kita terlahir di tempat yang layak, dengan kenyamanan yang cukup, kita sering kali merasa tidak cukup. Kita merasa perlu untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita lebih dari yang kita rasakan.

Sering kali kita membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampaknya lebih sempurna di layar ponsel kita, padahal di luar sana banyak orang yang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup (untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal). Ini adalah ironi yang mencolok: kita yang hidup dalam kenyamanan sering kali melupakan kebahagiaan sejati yang tidak ditemukan dalam pengakuan atau kemewahan, tetapi dalam syukur atas apa yang telah kita miliki.
Yesus mengajarkan kita untuk hidup dalam kerendahan hati dan kesederhanaan. Dia datang bukan untuk mendapatkan pengakuan dunia, tetapi untuk memberi hidup dan keselamatan bagi umat manusia. Yesus menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam pengakuan eksternal, tetapi dalam penerimaan diri yang tulus dan kasih yang murni.
Ketika kita merenungkan hidup-Nya, kita diingatkan untuk tidak terjebak dalam kebiasaan dunia yang selalu mengejar status sosial, kekayaan, atau pengakuan. Mengapa kita merasa perlu membuktikan sesuatu yang tidak perlu dibuktikan?
Jika Yesus, yang adalah Raja, memilih untuk tidak memamerkan kemuliaannya, mengapa kita yang sering kali belum memiliki segalanya merasa perlu melakukan hal itu? Apa yang bisa kita banggakan, selain hidup yang sederhana dan penuh syukur?
Melalui teladan Yesus, kita dipanggil untuk hidup dengan lebih sederhana, lebih rendah hati, dan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup ini, yakni kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.
Kita diajak untuk menilai kembali arah hidup kita, apakah kita terjebak dalam pencarian pengakuan dunia yang hanya sementara, ataukah kita telah belajar untuk menerima diri kita apa adanya dan menghargai hidup yang sederhana, yang penuh dengan kasih dan kedamaian batin.
Seperti Yesus yang memilih merendahkan diri dan tidak terperangkap dalam dunia yang penuh dengan kemewahan dan pertunjukan, kita pun dipanggil untuk hidup dalam rupa jelata, menjadi pribadi yang rendah hati, yang tidak terbuai oleh pengakuan dunia, tetapi selalu mengutamakan kasih dan kebaikan dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, kelahiran Yesus menjadi pengingat bagi kita bahwa kemuliaan sejati terletak dalam kerendahan hati dan pengorbanan, bukan dalam kemewahan atau pengakuan duniawi. Semoga kelahiran-Nya membawa dampak dalam hidup kita. Amin.
Selamat Natal!
Huliandro Di’Almon Pan (Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma)














