Pesan Kemanusiaan Pemuda Lintas Iman Jelang Natal dan Tahun Baru

News1472 Views

Sleman. Lima hari menjelangperayaan Natal, tujuh organisasi pemuda lintas agama pusat mengadakan acara tali silahturahmi di Gereja Kristen Jawa (GKJ), Minomartani, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pertemuan ini membahas koordinasi terkait upaya ketenteraman dan ketertiban menjelang perayaan Natal dan tahun baru.

Ketujuh pimpinan pusat organisasi pemuda lintas agama tersebut antara lain Ketum GP Ansor Addin Jauharudin, Sekjen Pemuda Muhammadiyah Najih Prastiyo, Ketum Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, Ketum Pemuda Kristen (GAMKI) Sahat MP Sinurat, Ketum Pemuda Hindu (PERADAH) I Gede Ariawan, dan Ketum Pemuda Konghucu (GEMAKU) Kris Tan, serta Waketum Pemuda Budha (GEMABUDHI) Wiryawan.

Acara ini dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, serta cucu Sri Sultan Hamengkubuwana X, RM Gustilantika Marrel Suryokusumo. Kapolsek Ngaglik AKP Yulianto bersama Forkompincam Ngaglik turut hadir selaku pencetus dan fasilitator acara tersebut.

Acara ini merupakan respons aktif dari arahan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait pernyataannya dalam acara pelantikan Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik periode 2024-2027, Selasa (17/12/2024), di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta Pusat.

Dalam pidatonya, Gibran menegaskan untuk membuat aduan laporan bilamana ada pihak yang mencoba mempersulit jalannya ibadah Natal. “Jika ada yang dipersulit saat menjalankan Misa Natal dan perayaan Natal, segera laporkan ke kepolisian, TNI, pemda, atau bisa langsung ke saya,” ungkap Gibran.

Ketum Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, mengatakan konsolidasi pemuda lintas iman ini merupakan tanggapan nyata dari harapan Wakil Presiden Gibran yang beberapa waktu lalu berpesan agar para pemuda bisa bersatu, apa pun latar belakang dan afiliasinya, guna bersama-sama mewujudkan kedamaian di Indonesia.

Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharuddin, juga mengatakan acara ini sekaligus menjadi pesan kemanusiaan dalam menjamin kedamaian dan persatuan NKRI.

RM Gustilantika Marrel Suryokusumo mengatakan Yogyakarta adalah simbolisasi dari keberagamaan dan kebebasan dalam beragama.

“Natal ini kita berharap dapat memberikan spirit kedamaian, persatuan, kepada kaum Nasrani (Kristiani-Red.) yang merayakan dan kita semua punya PR besar untuk membangun Indonesia kedepan lebih maju, serta men-support agenda politik keagamaan pemerintah,” ujar Addin.

Gusma mengatakan bahwa kunjungan lintas iman ini menyesuaikan tema Natal nasional 2024 “Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem” sesuai kesepakatan KWI dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Baginya, tema tersebut mengajarkan arti kesederhanaan (the power of simplicity). Dari kesederhanaan itu, lahir kepemimpinan yang akan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera kepada manusia dan alam semesta.

“Kunjungan kali ini ingin mengemukakan kesederhanaan, keterbukaan, kabar sukacita, dan kehadiran Allah di dunia. Oleh karena itu, kunjungan tali silaturahmi organisasi pemuda lintas iman kali ini kami lakukan di daerah kecil, yakni (tingkat) kecamatan atau kapanewon,” ungkap Gusma.

Dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat diadakannya acara lintas iman tersebut menjadi sebuah kehormatan bagi RM Gustilantika Marrel Suryokusumo selaku cucu Sri Sultan Hamengkubuwana X. Ia mengatakan, Yogyakarta adalah simbolisasi dari keberagamaan dan kebebasan dalam beragama.

Dengan mengutip pernyataan Sultan, Marrel mengatakan bahwa Keraton Ngayogyakarta menjunjung dan bersedia melindungi seluruh agama yang ada di Yogyakarta.

“Ini adalah bentuk konkret dari menjaga keberagaaman, bagaimana kita sesama manusia, sesama ciptan-Nya, bisa memberikan rasa aman, rasa nyaman, apa pun agamanya, apa pun kepercayaannya,” tegas Marrel.

Marrel juga menyebut filosofi Keraton Ngayogyakarta, yakni “Hamemayu Hayuning Bawana”.

Danang Maharsa, Wakil Bupati Sleman, mengatakan visi politik Sleman sebagai Rumah Bersama.

“Artinya, mempercantik ciptaan Tuhan. Itu harus menjadi tujuan bersama. Kita hanya bisa mencapai itu dengan merangkul semua pihak, apa pun agama maupun budayanya. Hubungan itu harus kita jaga, harus kita rawat hingga berbunga menjadi sesuatu yang cantik,” pungkas Marrel.

Serupa dengan Marrel, Danang Maharsa selaku Wakil Bupati Sleman berterima kasih atas dipilihnya wilayah Sleman, terkhusus GKJ Minomartani sebagai tempat diadakannya acara lintas iman tersebut. Ia juga menyoroti hubungan antara pertemuan tokoh lintas agama dengan visi politiknya dalam membangun Sleman sebagai Rumah Bersama.

“Dalam visi kami, yaitu terwujudnya Sleman sebagai rumah bersama, kami memahami bahwa Kabupaten Sleman masyarakatnya sangat beragam, baik dari suku, agama, dan keyakinan,” sebut Danang.

Baginya, keberagaman masayarakat di Sleman perlu untuk difasilitasi guna menjalin hubungan baik lewat rasa persatuan, kesatuan, dan persaudaraan.

“Kabupaten Sleman juga lewat Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) selalu memberi bantuan kepada semua agama, untuk memperingati hari perayaannya masing-masing guna merangkul semua umat beragama di Kabupaten Sleman,” ungkap Danang.

Menjadi tuan rumah dalam menyambut tamu lintas iman, menjadi kesenangan tersendiri bagi dua tetangga bersebelahan, Pendeta Kriswoyo mewakili jemaat GKJ Minomartani beserta Rm. Marcus Crisinus Sadana Hadiwardaya MSF mewakili umat Gereja Katolik Paroki St. Petrus & Paulus Minomartani.

Bagi mereka, momen pertemuan tersebut menjadi peneguh bahwa meskipun ada perbedaan agama, tetapi selalu tumbuh keinginan untuk hidup berdampingan dan saling menghargai. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *