Sekolah adalah tempat setiap orang menimba ilmu pengetahuan dan wawasan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter baik. Di seluruh penjuru Indonesia, berbagai sekolah hadir untuk menjadi sarana generasi muda mengembangkan potensi dalam dirinya. Salah satunya adalah kehadiran sekolah Katolik yang turut berpartisipasi mendukung pendidikan di Indonesia.
Sekolah Katolik pada dasarnya memiliki visi, misi, dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas sekolah tersebut. Teladan dari pendiri atau santo/santa pelindung sekolah Katolik pun senantiasa dihidupi dalam keberlangsungan sekolah.
Pada kesempatan kali ini, saya hendak menceritakan salah satu sekolah Katolik dengan cara pembelajaran khas sehingga tentunya dapat melahirkan generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berkarakter baik.
SD Kanisius Blongkeng adalah salah satu sekolah di bawah Yayasan Kanisius Cabang Magelang yang terletak di Kecamatan Srumbung. Dalam mengembangkan sekolah ini, SD Kanisius Blongkeng mempunyai visi “Menjadi Komunitas Pendidikan yang transformatif dan menumbuhkan kemerdekaan berpikir demi terwujudnya sekolah yang unggul, peduli, dan melayani”.
Dalam upaya mencapai visi tersebut, SD Kanisius Blongkeng memiliki empat misi, salah satunya adalah menyelenggarakan pendidikan yang unggul agar peserta didik berkembang menjadi pribadi yang Pancasilais, cerdas, dan berkarakter. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat di SD Kanisius Blongkeng bekerja bersama dalam menjalankan misi sekolah.
Salah satu aspek pendukung utama di SD Kanisius Blongkeng tentu orang-orang yang berdinamika dengan sekolah tersebut. Mulai dari kepala sekolah, para guru dan karyawan, seluruh siswa, orang tua atau wali siswa, hingga masyarakat sekitar sekolah.
Budaya ramah dan saling memberi salam menjadi gambaran yang tak asing ketika kita berkunjung ke SD Kanisius Blongkeng. Apabila kita berkeliling sekolah, akan ditemukan hasil karya siswa yang dipajang di koridor sekolah ataupun di kelas-kelas. Bakat yang dimiliki siswa juga terus dikembangkan. Salah satunya tampak dalam penampilan siswa yang bernyanyi diiringi dengan permainan angklung yang sungguh merdu.
Selama proses pembelajaran, SD Kanisius Blongkeng juga terus berupaya untuk mengembangkan cara belajar yang menyenangkan dan meningkatkan daya kreativitas para siswa maupun gurunya.
Pada tahun pelajaran 2023/2024 ini, sekolah memiliki pembelajaran khas yang diwujudkan dalam metode Project Based Learning (PjBL). Hal yang menjadi landasan dari PjBL ini adalah Tuladhabhakti yang dihidupi di SD Kanisius Blongkeng.
Tuladhabhakti ini berasal dari kata “TULADHA” yang berarti teladan, contoh, guidance, “pembuka jalan”, dan kata “Bhakti” yang berarti dedikasi atau sesuatu yang hendak ditinggikan dan dihargai”. Dengan demikian, PjBL yang dilaksanakan di SD Kanisius Blongkeng harapannya dapat mengajak para siswa menemukan sarana belajar yang dapat menjadi contoh untuk banyak orang dan menumbuhkan rasa rela berkorban untuk kepentingan bersama.
Pada tahun pelajaran yang sedang berlangsung, SD Kanisius Blongkeng berfokus pada nyinau kleman (ubi kayu atau singkong) dan nyinau jahe dalam pelaksanaan PjBL. Nyinau berarti mempelajari dan mendalami. Pemilihan ide ini tidak muncul dari para guru, tetapi yang menjadi istimewa adalah karena pemilihan ide atau topik berasal dari para siswa.
Mereka berdiskusi untuk menemukan hal apa atau sumber daya apa yang ada di sekitar mereka dan belum mereka pelajari selama ini. Hasil dari PjBL ini sungguh memiliki makna dan melatih kreativitas siswa. Seperti pembuatan batik dengan motif kleman melalui metode canting atau cap dengan ukuran sapu tangan dan kain.
Hasil kain yang sudah jadi, siswa gunakan sebagai aksesori, misalnya saat penampilan angklung. Para siswa juga membuat olahan makanan dari kleman atau jahe. Tak heran jika karya-karya yang dihasilkan pada akhirnya memberikan nilai inovatif dan ekonomis. PjBL ini dapat dilaksanakan juga tak lepas dari empat prinsip yang senantiasa diterapkan, yaitu prinsip akademik, artistik, sosial, dan ekonomi.
Selain para siswa yang dikembangkan daya kreativitasnya, ternyata para guru di SD Kanisius Blongkeng juga rajin mengembangkan daya kreativitas mereka. Para guru memiliki sebuah komunitas yang diberi nama sanggar guru, yaitu kegiatan setiap hari Sabtu yang diikuti oleh seluruh guru untuk mengasah keterampilan dengan mengolah sumber daya alam yang ada di sekitar sekolah. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain karawitan, pembuatan kue, pembuatan telur asin, pembuatan bunga plastik, membuat produk olahan dari kain shibori, hingga batik canting.
Dengan demikian, SD Kanisius Blongkeng ini menjadi cerminan bagi sekolah-sekolah Katolik lainnya bahwa kreativitas individu yang ada di sekolah dapat dikembangkan melalui berbagai cara. Kreativitas yang dihidupi secara rutin dan berkelanjutan, selain memberi dampak pada pengembangan kualitas diri, menyimpan segudang dampak positif lainnya untuk organisasi dan banyak orang. Seperti munculnya inovasi-inovasi dan sikap kewirausahaan yang tetap memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar.
Semoga semakin berkembang sekolah-sekolah Katolik yang menghidupi kreativitas dan inovasi melalui proses pembelajaran dan pengembangan kualitas diri para gurunya.
Agnes Andriana (Mahasiswa Manajemen SML-Universitas Sanata Dharma)












