Allah telah menciptakan kita manusia dengan berbagai perbedaan yang ada. Perbedaan itu dapat kita temui mulai dari beragam suku bangsa, ras, kebudayaan, beragam agama. Namun, perbedaan sendiri bukan merupakan sesuatu tantangan ataupun ancaman. Setiap perbedaan yang ada diciptakan Allah untuk kita manusia, yakni saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Pengalamanku sebagai seorang pelajar kelas XI, di salah satu wilayah Indonesia, tepatnya Kabupaten Bogor, memberikan dampak yang signifikan bagi perjalanan imanku.
Saat ini, aku belajar di sekolah yang berbasis Kristen Protestan, sedangkan dahulu aku belajar di sekolah swasta Katolik. Dapat dikatakan, mayoritas yang bersekolah di SMA Citra Bekat Bogor adalah anak-anak Kristen Protestan.
Kami, para siswa Katolik, merupakan salah satu minoritas di sekolah. Namun, walau ada berbagai perbedaan agama, kami tidak pernah memusuhi atau menjelekkan agama lain. Kami mau dan mampu berteman dengan siapa saja yang saja dan saling melengkapi kekurangan yang ada.
Aku memiliki seorang teman yang beragama Islam, dia satu angkatan denganku. Kami sudah berteman sekitar satu tahun. Aku sebelumnya tidak terlalu dekat dengan dia. Saat awal kelas 10, dia merupakan murid pindahan dari sekolah lain. Dia adalah orang yang sangat pendiam kala itu.
Aku paham, dia sedang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Memang tidak mudah baginya, karena aku pernah mengalaminya juga. Dari awal kelas 10, aku selalu mencoba untuk berkenalan dengan dia. Mulai dari menanyakan nama, bertukar nomor kontak, menanyakan kabar, hingga mengajaknya untuk makan bersama saat jam istirahat.
Namun, dia masih suka menolak ajakanku. Tidak banyak orang yang mau mengajaknya mengobrol karena sudah pasti mereka akan memilih teman-teman mereka yang lebih mudah untuk diajak berkomunikasi. Dari situ, aku memiliki tekad untuk membantunya bersosialisasi dengan lingkungan barunya.
Setiap istirahat, dia selalu pergi menemui teman satu SMA-nya dulu di kelas 11.1. Dia selalu mengajaknya untuk makan bersama karena dia belum memiliki banyak teman kala itu. Namun, seiring berjalannya waktu, temannya sudah mulai mendapatkan lingkup pertemanan di kelas barunya. Hal ini mengharuskan dia untuk makan di kelas kami.
Aku selalu melihat dia, duduk di bangkunya saat istirahat dan makan di tempatnya. Walau aku sudah mengajaknya untuk makan bersama, tetapi dia selalu menolak ajakanku. Namun, aku tidak mungkin menyerah karena penolakan-penolakan itu.

Seiring berjalannya waktu, dia sesekali mau untuk makan bersama kami. Itu merupakan suatu kemajuan yang cukup berpengaruh untuk dia mendapatkan banyak teman seperti sekarang. Perlahan, dia mulai membuka diri kepadaku dan pada akhirnya aku berhasil memenuhi tekadku, yaitu untuk membantu dia merasa diterima di sini, di kelas ini dan di sekolah. Karena tekad dan semangatnya pula, dia bisa bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya, walau awalnya tidak mudah.
Walau membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi tidak ada yang mustahil. Dengan sedikit dorongan, kami dapat mewujudkan tekad dan mimpi di tengah-tengah perbedaan ini. Aku memiliki banyak teman dengan agama yang berbeda-beda, mulai dari Hindu, Buddha, Kristen Protestan, Islam, hingga Konghucu dan Katolik. Dari banyaknya perbedaan itu, kami bisa saling menerima dan menghargai, menciptakan hubungan yang harmonis dalam lingkup sekolah dan pertemanan kami.
Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa perbedaan yang ada bukan merupakan suatu hal yang harus dihilangkan, bukan suatu halangan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. Perbedaan yang ada justru menjadi kekayaan yang sudah sepatutnya kita syukuri. Kita dapat belajar banyak hal dari perbedaan tersebut.
Hubungan yang harmonis dengan umat beragama lain membawa perasaan damai dan bahagia. Kita hanya perlu saling terbuka dan peduli serta peka terhadap sesama kita. Setiap agama sudah pasti mengajarkan kebaikan dan ketulusan. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan dan mengajarkan kebencian. Setiap agama itu baik, tidak ada yang buruk. Semua tergantung dengan cara pandang kita dan bagaimana kita menyikapinya.
Semua hal yang berbau kebencian yang datang dari suatu agama merupakan salah satu tantangan kita di dunia. Terkadang, kita suka terbawa emosi yang meluap akibat ujaran kebencian yang dilakukan salah satu oknum dari suatu agama. Bahkan, terkadang kita langsung menganggap suatu agama itu buruk karena ulah satu oknum tersebut.
Oleh karena itu, kita harus lebih bijak lagi dalam menyikapi hal tersebut. Dengan kita mengeluarkan emosi kita yang menggebu-gebu karena ujaran kebencian mereka, justru membuat mereka senang karena itu merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk kemudian menggunakan kata-kata dan emosi kita untuk balik menyerang kita. Hal itu akan membuat kita dipandang sebagai agama yang tidak baik, agama yang mengajarkan kebencian.
Dalam pengajaran agama, kita diajak untuk saling mengasihi dan memaafkan setiap orang. Walau tidak mudah, kita tidak boleh dengan mudahnya menyerah. Tuhan tahu kita mampu, Tuhan tidak akan pernah memberikan kita tantangan yang lebih dari kemampuan kita. Tuhan akan selalu memberikan solusi serta jalan yang terbaik untuk kita.
Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir, tetaplah percaya dan berdoa kepada Tuhan dan teruslah berusaha menciptakan hubungan yang baik antara satu agama dengan agama lain, satu suku dengan suku yang lain.
Setiap perbedaan itu indah dan harus kita pertahankan. Pertanyaanya apakah kita mau dan mampu untuk membangun solidaritas dengan perbedaan yang ada? Berkah Dalem.
Veronica Arlene G. (Sekolah Citra Berkat, Citra Indah Jonggol)














