Alam, ciptaan agung yang begitu indah dan melimpah, kini merintih kesakitan. Setiap hari, bumi kita menangisi kerusakan yang kita timbulkan. Hutan-hutan gundul, lautan tercemar, dan iklim yang tak menentu adalah bukti nyata dari dosa kita terhadap alam (Roma 8 : 22, “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluhdan sama-sama merasa sakit bersalin”).
Krisis lingkungan ini tidak hanya mengancam kelestarian bumi, tetapi juga menimpa mereka yang paling lemah dan rentan. Kaum miskin dan marginal yang paling merasakan dampak dari perubahan iklim, bencana alam, dan kelangkaan sumber daya.
Peristiwa ini juga dialami, dilihat, dan dirasakan anak-anak SD Kanisius Genuk, Kec. Ungaran Barat, Kab. Semarang, Jawa Tengah. Di lingkungan tempat tinggalnya, mereka melihat banyak lahan hijau yang beralih fungsi sebagai perumahan, sungai yang tercemar, dan sampah plastik yang kian bertambah.
Inilah yang membuat kami, komunitas SD Kanisius Genuk, berefleksi dalam menajamkan rasa kepedulian terhadap bumi sebagai tempat tinggal kita. Hasil refleksi kami wujudkan dalam aksi nyata melaui kegiatan menanam berbagai jenis tanaman di sekolah sebagai program penghijauan. Tanaman yang sudah kami budidayakan di sekolah akan kami bagikan kepada warga masyarakat.

Minggu, 3 November 2024, SD Kanisius Genuk melaksanakan aksi nyata di Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran dengan membagikan bibit tanaman terung, cabai, dan tomat kepada umat. Aksi nyata ini kami lakukan untuk mengajak umat meneruskan praktik baik menanam sayuran di rumah masing-masing.
Menanam sayuran adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Selain mendapatkan hasil panen yang segar, kita juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Panggilan untuk menghargai dan merawat ciptaan memiliki konsekuensi praktis dalam kehidupan kita sehari-hari. Langkah-langkah kecil yang dilakukan SD Kanisius Genuk seperti menanam tanaman untuk meningkatkan kualitas udara dan menjaga kelestarian tanah, menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan, mengedukasi umat untuk turut serta menjaga lingkungan, tentunya akan membawa dampak bagi bumi kita.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari umat yang antusias untuk ikut melakukan perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari lingkungan keluarga kita.
Sebagai orang Kristiani, tentunya kita memiliki kehendak yang baik dan bertindak segera dalam misi merawat bumi kita. Pertobatan ekologis adalah keharusan bagi kita semua. Kita perlu mengubah gaya hidup kita, mengurangi konsumsi, dan mendukung praktik-praktik yang berkelanjutan.
Setiap individu, komunitas sekolah, Gereja, serta masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga bumi. Pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ sungguh menggugah kita untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan alam semesta.
Iman kita yang dibangun di atas kasih Allah yang agung tidak hanya menuntun kita pada relasi personal dengan Sang Pencipta, tetapi juga mendorong kita untuk menghargai setiap ciptaan-Nya.
Iman dalam Yesus Kristus membuka jalan bagi kita untuk hidup dalam cara yang baru. Melalui iman akan Kristus, komunitas SD Kanisius Genuk memperoleh kekuatan untuk melakukan perubahan nyata.

Kami tidak lagi menjadi penonton yang pasif, tetapi menjadi aktor aktif bersama umat Katolik di Paroki Kristus Raja Semesta Alam Ungaran dalam menjaga kelestarian bumi. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mewujudkan misi Kerajaan Allah di dunia. Kita harus menjadi pelopor dalam membangun masyarakat yang ramah lingkungan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sosial.
Kesempatan luar biasa untuk menyampaikan misi merawat bumi dengan berbagi dan berkolaborasi dengan umat, berkat dukungan dari Romo Paroki Kristus Ungaran, Rm. Marcellinus Tanto, Pr yang selalui memberi ruang bagi sekolah-sekolah Katolik yang berada di wilayah paroki ini untuk selalu tumbuh dan berkembang.
Kiranya, kehadiran SD Kanisius Genuk di Paroki Kristus Raja Ungaran semakin memberi arti dan makna dalam hidup menggereja, serta selalu melangkah bersama Gereja untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas serta menghargai alam dan ciptaan-Nya.
“Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kej. 1:31).












