Kolsani yang Penuh Kenangan

Jendela711 Views

Satu abad Kolese Ignatius. Tentu banyak kenangan tersim­pan di dalamnya. Tak mungkin semua kenangan itu dituturkan, juga andaikan kita mempunyai kesempatan yang banyak. Ter­lalu banyak kenangan akan­nya yang bisa diceritakan.

Kolese Ignatius, yang biasa dikenal de­ngan sebutan Kolsani, adalah tempat ter­akhir, di mana para calon imam Yesuit harus meng­ambil keputusannya yang definitif: men­jadi imam atau tidak. Tak mudahlah keputusan itu dibuat. Namun kenyataannya, banyak frater Yesuit berani mengambil ke­putusan untuk terus menjadi imam.

Itu antara lain disebabkan karena Kolsani bisa menjadi tempat, di mana frater-frater Ye­suit saling dikuatkan, saling mendukung, saling berbagi kekhawatiran dan ketakutan, maupun harapan. Kolsani adalah tempat di mana para frater saling diteguhkan un­tuk berani menjadi imam Yesuit. Saling mene­guhkan itu seterusnya bisa menjadi pilar yang menguatkan bagi imam-imam Yesuit untuk menjalankan perutusan selanjutnya.

Para frater Yesuit yang masuk Kolsani umum­­nya bisa dibilang sudah relatif tua. Se­bab, sebelumnya mereka menjalani Ta­hun Orientasi Kerja (TOK), minimum dua ta­hun, bisa lebih. Selama menjalani TOK, ada juga frater yang studi di perguruan ting­­­gi untuk mempelajari bidang-bidang khu­sus. Di Kolsani semuanya lalu berkumpul men­jadi satu dengan status yang sama, yakni maha­siswa teologi. Dari suasana kerja, kembali ke dalam suasana belajar. Ini tentu menjadi penga­laman yang mengasyikkan.

Bagi banyak Yesuit, Kolsani memang me­ning­galkan kesan yang dalam. Ambil contoh, Romo Franz Magnis-Suseno misalnya. Selama TOK, ia bekerja di asrama Kolese Kanisius Ja­karta, dua tahun lamanya. Ia lalu masuk ke Kolsani (1964). Baginya, Kolsani adalah pe­labuhan ketenangan. Di sini, selama em­pat tahun ia bisa membaca dan berefleksi. Katanya, itu membuat dia kerasan. Di Kolsani, semula Romo Magnis mengalami culture shock. Namun, itu diterimanya sebagai ba­gian dari proses inkulturasi.

Bagi Romo Magnis yang berasal dari Jer­man itu, menjadi mahasiswa bersama fra­ter-frater Jawa menjadi kesempatan emas untuk berkomunikasi setingkat, tidak seperti romo dengan umat. Ia sadar, betapa berbeda cara bereaksi dan bergaul. Cara menangani perbedaan pendapat di antara kawan-kawan Jawa juga lain dengan cara yang ia praktikkan sejak ia kecil.

“Saya mengerti bahwa dalam komunikasi Jawa yang pertama-tama diharapkan bukan bahwa kita langsung mengucapkan apa yang kita anggap benar, melainkan agar lawan bicara tidak merasa kecewa atau diremehkan. Beri dia rasa terhormat dulu, baru bawa ‘ke­be­naran’-mu,” tulis Romo Magnis.

Kiranya pengalaman demikian kelak ikut mengantarkan Romo Magnis menjadi inte­lektual dan guru bangsa yang sungguh me­nyelami perasaan bangsa Indonesia. Penga­laman ini kiranya juga ikut mewarnai pemikirannya ketika ia menulis bukunya yang terkenal, Etika Jawa.

Pengalaman istimewa juga dituturkan oleh Romo Karl-Edmund Prier SJ, pakar musik liturgi Indonesia itu. Waktu itu ia ikut aktif dalam kegiatan seksi liturgi Kolsani (1966). Ia diminta Fr. Waibel SJ untuk mengarang lagu Ordinarium Misa dalam bahasa Indonesia. Ia menolak, karena merasa tidak pernah be­lajar mengarang lagu. Namun, Fr. Waibel meyakinkannya, “Kamu pasti bisa.”

Akhirnya ia mengerjakannya, apalagi ia memang tertarik untuk ikut merintis pem­­baruan liturgi yang waktu itu sangat di­dam­bakan. Ia lalu menulis ordinarium untuk “Misa Raya”. Tanggal 18 Desember 1966, Gereja Kotabaru sore itu penuh orang untuk ikut dalam Misa perdana dengan Ta­ta Perayaan Misa baru dan menggunakan bahasa Indonesia. Seusai Misa diadakan saresahan. Di tengah pro-kontra, usaha Romo Prier itu dipuji oleh para romo.

Kejadian tersebut menjadi peristiwa historis bagi Romo Prier. Katanya, itu adalah awal dari panggilannya untuk menjadi pe­musik liturgi Indonesia. Kegiatan Seksi Liturgi terus berlanjut. Romo Prier pun makin mematangkan dirinya dalam kegiatan itu. Setelah studi teologi di Kolsani, kegiatan itu tidak berhenti. Malah, Romo Provinsial A Sunarya SJ menyetujuinya untuk mendirikan Pusat Musik Liturgi.

Tahun 1971-1974, Pusat Musik Liturgi ber­kantor dan berkegiatan di Kolsani. Demi­kian­lah Kolsani ikut membentuk Romo Prier yang kemudian terus memberikan dirinya bagi kehidupan musik liturgi Indonesia, sampai ia dianugerahi doktor kehormatan karena jasanya itu oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Bagi Romo Henk van Opzeeland, kenangan yang mengesan selama studi di Kolsani adalah kegiatan ekstrakulikulernya. Setiap hari Kamis pada tahun 1951, para frater Kolsani diutus ber­dua-dua ke desa-desa, naik sepeda, me­makai “topi prop”. Mereka berangkat pagi, pulang sore atau malam.

Mereka disangoni setumpuk kartu ke­luar­ga Katolik dari zaman Jepang. Mereka ber­tugas mencari, apakah keluarga-keluarga itu masih ada. Di antara mereka adalah frater-frater Belanda, yang sudah bisa bisa berbahasa Jawa sehingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan keluarga-keluarga yang dikunjungi.

Kebanyakan keluarga itu adalah petani atau buruh tani. Maka, mereka juga hanya bisa menyuguhkan makanan yang sederhana, nasi dengan lauk ikan asin. Romo van Opzeeland mengenang, makanan itu enak rasanya. Ia sangat senang ada di antara keluarga-keluarga yang miskin dan sederhana itu. Kata­nya, pergaulan dengan orang-orang amat sederhana dan miskin itu ternyata mem­persiapkan dia untuk kelak hidup di an­tara orang miskin, ketika ia sebagai pastor paroki yang bertugas di Pademangan, Jakarta.

Umat dan masyarakat di Pademangan kebanyakan adalah kaum miskin. Seba­gian tinggal di empang. Romo van Opzeeland kerasan dan senang hidup di antara mereka. Ia pun tidak merasa asing, ka­rena dulu pernah mengalaminya semasa ia masih frater di Kolsani.

Saya sendiri juga mempunyai kenangan yang indah di Kolsani. Di tempat ini saya te­tap bisa mengembangkan pekerjaan jur­nalistik saya. Kolsani juga menentukan bagi perjalanan sastra saya. Di Kolsani saya menulis novel Anak Bajang Menggiring Angin. Waktu itu saya masih muda, imajinasi masih seluruhnya hidup. Rasanya tak mungkin saya menghasilkan karya semacam itu, bila Kolsani, tempat tinggal saya waktu itu, tidak men­jadi tempat yang memungkinkan saya untuk memetik keindahan dan menuliskan keindahan dalam karya sastra saya itu.

Itulah beberapa contoh, betapa formasi di Kolsani jelas ikut menyumbangkan bagi ke­rasulan dan pekerjaan para Yesuit di kelak kemudian. Memang di Kolsani, kita harus belajar teologi. Namun, teologi itu terintegrasi dengan seluruh hidup dan kerasulan kami. Itulah sebabnya Kolsani juga membiarkan kami berkembang di bidang kami, walau pun tugas utama kami adalah belajar teologi.

Banyak Yesuit telah menyumbangkan ja­sanya bagi Gereja dan masyarakat dan hampir se­mua dari mereka pernah tinggal dan belajar di Kolsani. Diam-diam selama 100 tahun ini, Kolsani demikian banyak berjasa bagi Gereja dan masyarakat Indonesia. Sepatutnya kita semua ikut bersyukur atas usia seabad Kolsani tercinta ini.l

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *