Bantul. Umat Wilayah Maria Rosari, Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta mengenang peristiwa pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib hingga wafat-Nya dalam bentuk tablo pada Jumat pagi, 29 Maret 2024.

Bertempat di halaman Gereja Santo Yakobus Alfeus Pajangan atau Taman Doa Wajah Kerahiman, tablo dimainkan oleh 22 orang anggota Misdinar St. Tarsisius dan Orang Muda Katolik (OMK) St. Ignatius Loyola.
Sutradara tablo, Wahyu Wijaya, memaparkan penggarapannya memakai teknik backing tracks karena kekurangan alat apabila harus memakai mikrofon. “Setiap pemain yang mengucapkan dialog tentu membutuhkan banyak alat. Jadi, awalnya kami take audio vokal mereka dulu, lalu diedit dengan narasi dan macam-macam sampai akhirnya jadi seperti tadi,” ungkap Wahyu usai tablo.

Produksi tablo Kisah Sengsara Yesus ini melibatkan sekitar 35 personel, meliputi bagian kostum, pengisi renungan, vokalis lagu pengantar, pemain keyboard, dan tim dokumenter karena direncanakan dibuat video dan diunggah di YouTube.
Wahyu mengaku cukup sulit untuk mengumpulkan para pemain dalam sesi latihan. Maka, latihan hanya dilakukan sebanyak empat kali, satu kali seminggu. Gladi bersih dilakukan pada Minggu Palma, 24 Maret 2024, kemudian langsung tampil.

“Ini kedua kali saya memproduksinya. Kalau nggak salah, (yang pertama) dulu tahun 2020. Rasa yang saya tangkap itu hampir sama. Menurut saya pribadi, saya jadi lebih mendalami penebusan dan apa yang dialami Tuhan untuk kita semuanya,” pungkas Wahyu berefleksi.
Ada “insiden” kecil yang terjadi usai tablo. Tubuh pemeran Yesus langsung lemas dan harus dipapah kedua pemain ke pendapa untuk diberi pertolongan. Rupanya—menurut informasi umat setempat, pemeran Yesus ini belum sarapan, sementara itu sore harinya ia masih bertugas passio dalam Perayaan Jumat Agung.














