PT Pohon Cahaya Memotivasi Masyarakat agar Senang Menulis

Ulang Tahun ke-14 Penerbit Percetakan PT Pohon Cahaya

News1526 Views

Yogyakarta. Penerbit Percetakan PT Pohon Cahaya merayakan hari ulang tahun ke-14 dengan Perayaan Ekaristi Syukur di kompleks perusahaan, Jl. Bantul No. 55-57 Yogyakarta, pada Jumat, 10 Mei 2023.

Perayaan Ekaristi bertema “Literasi Kuat Jadi Berkat” ini dipersembahkan oleh Rm. Andrianus Maradiyo, Pr (Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur), Rm. Laurentius Prasetyo, Pr (penulis produktif PT Pohon Cahaya), serta Rm. Invarien Alpha Andriyanto, Pr (Vikaris Pastor Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus/HKTY Pugeran).

“Perayaan ini adalah ‘malam midodareni’ untuk Hari Kebangkitan Nasional. Maka, peringatan 14 tahun PT Pohon Cahaya ini menjadi kebangkitan bagi PT Pohon Cahaya, seluruh karyawan, dan kita semua,” ujar Rm. Maradiyo.

Dalam Perayaan Ekaristi ini, Rm. Maradiyo memberkati ornamen Lima Roti dan Dua Ikan di area terbuka kompleks PT Pohon Cahaya.

Sementara itu, Rm. Prasetyo yang telah menulis hampir 15 judul buku yang diterbitkan PT Pohon Cahaya dalam kesempatan ini memperkenalkan buku terbarunya, Belajar Hidup dari Yohanes Pembaptis.

“Saya terpanggil untuk menulis karena saya menyadari bahwa melalui Yohanes Pembaptis ini ada keutamaan hidup yang perlu diperjuangkan,” ungkap Rm. Prasetyo.

Ada tiga keutamaan hidup Yohanes Pembaptis, yakni kerendahan hati, jujur, dan pemberani. “Keutamaan ini patut saya kembangkan dan hidupi sebagai seorang imam dan mudah-mudahan mengantar siapa saja kepada keutamaan yang sama,” harap imam yang berkarya di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang ini.

Selanjutnya, General Manager PT Pohon Cahaya, Yuvensius Sasongko Iswandaru, prihatin atas rendahnya minat baca masyarakat Indonesia secara umum. Maka, pihaknya menggalakkan gerakan literasi, termasuk memberikan pelatihan menulis secara gratis kepada siapa pun yang membutuhkan.

Sasongko menyebut pelatihan ini pernah diberikan kepada para ibu rumah tangga maupun warga desa, mulai dari para petani hingga kepala dukuh. “Awalnya mereka nggak mau membuat buku, apalagi menulis. Namun, setelah kami memberikan edukasi dan motivasi, akhirnya mereka mau dan senang menulis,” kisah Sasongko sembari menambahkan bahwa tulisan mereka disusun dalam sebuah buku yang diterbitkan.

Buku itu kemudian di-launching di sebuah lapangan desa dan nanggap wayang karena saking senangnya. “Dari orang-orang sederhana yang mengaku tidak bisa menulis, menjadi senang menulis dan susah dihentikan,” sebut Sasongko seraya tersenyum.

Ke depan, PT Pohon Cahaya mempunyai ide untuk membuat kedai atau angkringan yang menjadi tempat nongkrong sekaligus membaca buku digital (e-book).

“Kami bermimpi ada barcode yang ditempel di sini dan pengunjung memilih buku-buku yang akan dibaca. Di-download boleh, tapi setelah keluar dari sini hilang, sekalipun sudah di-download,” terang Sasongko.

Dari kiri ke kanan: Gus Aan Anshori, Yuvensius Sasongko Iswandaru, Rm. Laurentius Prasetyo, Pr, dan Magdalena Krisinda.

Kritis intoleransi dan panggilan bergerak

Hari berikutnya, Sabtu, 20 Mei 2023, PT Pohon Cahaya mengadakan dialog kebangsaan bertajuk “Moderasi Beragama dan Krisis Toleransi”. Acara yang juga diadakan dalam rangka ulang tahun PT Pohon Cahaya dan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini menghadirkan Rm. Dr. Martinus Joko Lelono, Pr dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta dan Gus Aan Anshori dari Jaringan Islam Anti Diskriminasi.

Dalam paparannya, Rm. Joko mengutip Prof. Ariel Heriyanto yang mengatakan bahwa nasionalisme telah menyempit. Dulu berjuang melawan penjajahan, komunisme, dan diktator, sekarang berperang antarwarga bangsa atas dasar perbedaan antaragama.

Hal ini pernah diprediksi oleh Bapa Bangsa Soekarno ketika mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Rm. Joko kemudian mengajak, “Sekarang waktunya kita mengingat kembali dan meneguhkan perjuangan demi kebaikan semua dan bukan saling bertengkar. Saatnya agama-agama menampakkan buah dari olah rohani yang diupayakan dalam bentuk kesabaran, penguasaan diri, dan perjuangan merawat negeri ini.”

Perwakilan organisasi-organisasi lintas iman di Yogyakarta hadir dalam dialog kebangsaan di PT Pohon Cahaya.

Gus Aan Anshori melanjutkan pemaparan dengan ajakan untuk mendeteksi sejauh mana tingkat keramahan terhadap perbedaan, mulai dari tingkat konservatif, moderat, sampai yang progresif.

Gus Aan mendorong agar sebagai warga bangsa, para peserta tidak manja dan berhenti saat perjuangan merawat persaudaraan mengalami kesulitan. “Itu mungkin obat pemersatu baru bereaksi. Jangan dihentikan supaya Indonesia sembuh,” pungkasnya.

 Acara ini dihadiri oleh perwakilan organisasi-organisasi lintas iman di Yogyakarta. Diskusi berjalan lancar dengan selingan lagu-lagu kebangsaan. Dalam sambutannya, Sasongko mengatakan, “Kini saatnya kita memperkuat literasi kebangsaan agar bangsa kita semakin maju.”

Pada pengujung acara diadakan doa lintas agama dengan ujud untuk PT Pohon Cahaya serta demi terciptanya damai di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *