Ketekunan, “Senjata” Ampuh Melawan Egoisme Rohani

Pertemuan Bersama Komunitas Meditasi Kristiani (MK) Semarang

News1583 Views

Semarang. Ada yang mengatakan lebih baik sibuk daripada bosan. Manusia cenderung memilih mencari-cari kesibukan yang tiada henti daripada tidak melakukan apa pun. Kesibukan mempunyai sisi positif dan negatif. Keuntungannya, manusia menjadi lebih produktif. Namun, konsekuensinya manusia merasa capai dan lelah. Hidup pun mudah terasa hampa.

Bila tubuh mengirimkan sinyal kecapaian maupun kehampaan, ada baiknya manusia mengambil rihat sejenak dari aneka kegiatan. Jeda akan membuat pikiran seseorang yang penuh jernih kembali. Salah satu cara mengambil jarak dari kesibukan tanpa henti yaitu dengan aktivitas meditasi. Berita baiknya, ada komunitas khusus yang menjadi wadah umat Katolik yang tertarik belajar bermeditasi dan mempraktikkan doa hening. Namanya Komunitas Meditasi Kristiani (MK).

Br. Bayu (kaus hijau) bersama beberapa peserta.

Komunitas Meditasi Kristiani (MK) Semarang mengadakan pertemuan bersama bertajuk “Sharing The Gift” pada Kamis, 30 Mei pukul 17.30 di Gedung Paroki Mater Dei Semarang. Acara yang mengambil tema “Apa yang kamu cari?” ini dihadiri sekitar 90 peserta asal 9 komunitas MK dari berbagai paroki di Semarang dan Salatiga (Paroki Banyumanik, Karangpanas, Lampersari, Sambiroto, Gayamsari, Katedral, Kebon Dalem, Salatiga, dan Bongsari). Tampak pula beberapa Suster SDV (Suster Panggilan Ilahi) dan wakil JARKOD (Jaringan Persaudaraan antar-Kelompok Doa) Kevikepan Semarang.

Rm. FX Endro Wijayanto, Pr selaku Pastor Paroki Mater Dei Lampersari, menyampaikan kegembiraan dan dukungannya bagi panitia dan seluruh peserta yang datang dari berbagai paroki di Semarang. Sementara Br. FX Bayu, CSA sebagai pembicara mengajak peserta untuk melihat bersama gerakan ego yang sering kali menjadi penghalang dalam meditasi.

Ego, jelas Br. Bayu, bisa menyusup dan mengakar dalam keinginan rohani untuk bisa berdoa tanpa gangguan dan pelanturan. Jika kedamaian dan hiburan rohani yang dicari, orang harus kritis dan merenung dalam hati “Mungkin selama ini saya tidak mencari Allah, tetapi mencari (kepuasan) diri saya sendiri dalam berdoa,” tuturnya.

Lebih lanjut biarawan kongregasi Santo Aloisius ini menjelaskan, “Bisa jadi pusat doa kita bukanlah Tuhan, tetapi sang ego. Ketekunan atau disiplin dalam melakukan praktik meditasi yang begitu sederhana ini sebenarnya ‘senjata’ ampuh melawan egoisme rohani. Itu saja sudah suatu alasan untuk tidak berhenti menjalankan doa hening. Walaupun hati terasa kering, bosan, dan serasa tidak mendapat dan mengalami apa-apa, tetaplah berdoa hening,” saran biarawan asal Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, Semarang ini.

Para peserta Meditasi Kristiani.

Meditasi Kristiani disebut juga Doa Hati. Artinya, doa kerinduan akan Allah. Maka, orang yang belum mencintai Allah tak akan bisa berdoa dengan hatinya. Ia belum mampu merindukan Allah, karena tumpukan keinginan yang menutupi hatinya. Oleh sebab itu, dalam praktik meditasi tidak ada intensi apa pun. Yang ada hanya atensi/perhatian penuh akan kehadiran Allah, kini dan di sini. Br Bayu CSA menutup sharing the gift malam itu dengan kutipan dari St. Vincentius A Paulo, “Jika Allah adalah pusat hidupmu, tak perlu kata-kata. Kehadiranmu saja akan mampu menyentuh hati.”

Di pengujung acara, Ratna Tusita koordinator MK Kota Semarang mengundang Lia, wakil JARKOD, untuk menjelaskan program JARKOD dalam waktu dekat. Acara ditutup dengan doa Novena Malaikat Agung yang baru-baru ini dirumuskan oleh Kevikepan Kategorial KAS untuk menjadi gerakan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *