Jiwa Kemanusiaan, Cermin Nilai-nilai Ketuhanan

Pelita802 Views

Sebelum membahas Indonesia Emas, mari kita pahami dulu tentang manusia Indonesia. Menurut ilmu antropologi budaya, leluhur bangsa Indonesia berasal dari Yunan selatan di Tiongkok.

Jadi, orang-orang yang pertama kali mendiami Indonesia datang dari sana, bukan dari pengaruh Hindu, pedagang Islam, atau penjajah Eropa seperti Spanyol (Kristen).

Bangsa Indonesia terbentuk karena adanya nasib yang sama, yaitu penjajahan. Keinginan untuk bersatu karena pernah dijajah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Indonesia.

Hal ini sesuai dengan pemikiran Ernest Renan yang mengatakan bahwa syarat sebuah bangsa adalah adanya keinginan untuk hidup bersama (le désir d’être ensemble). Lebih jauh lagi, sebuah bangsa lahir ketika sekelompok orang memiliki keinginan dan kesadaran untuk bersatu.

Namun, persatuan yang hanya didasarkan pada nasib dan perjuangan yang sama bisa menimbulkan masalah. Kita bisa terjebak dalam anggapan bahwa bangsa kita yang paling baik, seperti yang terjadi pada Hitler dengan paham chauvinismenya, yang merendahkan dan memerangi bangsa lain.

Oleh karena itu, para pendiri bangsa kita memberikan solusi melalui sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (yang juga mengandung semangat internasionalisme). Ini berarti kita bersatu bukan hanya karena nasib yang sama, tetapi karena kita sama-sama manusia.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi bahkan mengatakan, “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah kemanusiaan dan kemakmuran.”

Sayangnya, rasa nasionalisme yang didasari kemanusiaan ini hanya bisa tumbuh jika ada kesadaran akan keberadaan bangsa dan manusia lain di sekitar kita. Kita tidak bisa menjadi negara maju jika masih sombong dan merasa diri paling unggul.

Sejarah kelam Jerman dengan paham senasibnya bisa terulang di Indonesia. Contohnya, cita-cita Indonesia Emas terasa jauh dari kenyataan negara ini yang masih diwarnai perpecahan.

Seseorang akan benar-benar mencintai Indonesia jika mereka mengenal sejarah bangsa ini dan tujuan utama didirikannya negara ini, yaitu atas dasar gotong royong, Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, dan nasib yang sama.

Nasib yang sama ini salah satunya terwujud dalam pengalaman pahit penjajahan. Berabad-abad lamanya, berbagai kekuatan asing datang dan menindas masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

Kita bisa mengingat bagaimana Belanda mencengkeramkan kekuasaannya, mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia Indonesia melalui berbagai kebijakan yang merugikan.

Sistem tanam paksa, kerja rodi, dan pembatasan gerak adalah sebagian kecil dari penderitaan yang dialami oleh nenek moyang kita di bawah penjajahan Belanda.

Selain Belanda, jejak penjajahan juga pernah diukir oleh bangsa lain, meskipun dalam skala yang lebih terbatas. Kedatangan Spanyol di beberapa wilayah, terutama di bagian utara Sulawesi dan Maluku, meskipun tidak berlangsung lama, juga membawa dampak dan perlawanan dari masyarakat setempat.

Namun, yang paling membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia, selain Belanda, adalah pendudukan Jepang pada Perang Dunia II. Meskipun Jepang datang dengan propaganda “saudara tua”, kenyataannya mereka juga melakukan eksploitasi yang kejam dan meninggalkan luka yang mendalam bagi bangsa Indonesia.

Pengalaman kolektif di bawah tekanan penjajahan Belanda, Spanyol (secara historis), dan terutama Jepang inilah yang kemudian menumbuhkan kesadaran akan nasib yang sama dan mendorong keinginan kuat untuk bersatu dan merdeka.

Mari kita wujudkan Indonesia Emas dengan memahami latar belakang dan tujuan negara ini dibentuk. Indonesia memang terasa “gelap”, tetapi kegelapan ini bukan pada negaranya, melainkan pada manusianya yang belum sepenuhnya memahami arti kemanusiaan (internasionalisme).

Contoh nyatanya adalah kasus korupsi yang mencapai ratusan triliun rupiah hingga menyengsarakan banyak orang seperti seorang penjajah yang menjajah bangsanya sendiri, yang menunjukkan betapa “gelapnya” sebagian perilaku di Indonesia.

Mari kita bersama-sama mendidik generasi penerus bangsa, baik sebagai orang tua, guru, maupun pemerintah, dengan menanamkan pemahaman tentang kemanusiaan.

Jika seseorang memiliki jiwa kemanusiaan, pasti ia akan mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dan beriman. Namun, belum tentu orang yang beriman secara otomatis mencerminkan kemanusiaan. Karena itu, Indonesia tidak akan menjadi Indonesia Emas, melainkan tetap menjadi Indonesia yang “gelap” jika manusianya tidak mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *