“Bapa, saya merasakan malam-malam yang selalu gelap, napas tercekat terasa sesak di dada dengan amat sangat. Rasanya ingin saya bertanya pada Tuhan, ‘Kenapa tidak selesai hidup saya sampai di sini saja? Mampukah saya berjalan di lorong gelap tanpa terlihat cahaya sama sekali?’”
Inilah sepotong kalimat dalam surat seorang ibu yang disampaikan kepada Paus Fransiskus, bertepatan dengan kunjungannya ke Indonesia, awal Agustus 2024 ini. Ibu tersebut diceraikan suaminya yang pergi dengan perempuan lain. Ia menjadi janda, yang harus membesarkan seorang putrinya. Kepada Paus Fransiskus ditumpahkannya segala kepedihan hidupnya.
Masih banyak lagi tumpahan isi hati kepada Paus, yang bisa kita baca dari kumpulan surat dalam buku ini. Surat-surat itu terjadi atas inisiatif Majalah UTUSAN dan ROHANI. Untuk memicu peminat agar mau menuangkan isi hatinya, kedua majalah itu mengadakan sayembara menulis surat kepada Paus. Di luar dugaan, lebih dari 500 surat datang di meja redaksi. Setelah diseleksi, terkumpullah 95 surat yang dianggap layak untuk diterbitkan dalam buku Whispers of Hope: Curahan Hati untuk Bapa Suci.
Surat, atau menulis surat, adalah perihal yang rasanya sudah usang di zaman ini. Yang pada umumnya dibuat orang sekarang adalah mengirim messages, e-mail, atau WhatsApp. Ketiga cara berkirim kabar ini bisa dilakukan dengan cepat dan spontan. Lain dengan surat, yang harus ditulis lewat permenungan dan pemilihan kata yang menyentuh dan tepat untuk mencurahkan isi hati. Ini tentu membutuhkan proses, dan tidak bisa tergesa-gesa.
Menarik, di tengah usangnya zaman atau kebiasaan menulis surat itu, ada sedemikian banyak orang mau menulis surat kepada Paus. Sebetulnya, mereka juga bisa menyampaikan isi hatinya, kapan saja dan pada siapa saja. Tapi mengapa baru kali ini mereka merasa menemukan saat dan mendapatkan kesempatan untuk mencurahkan isi hatinya yang terdalam?
Isi surat-surat mereka adalah jawaban bagi pertanyaan di atas. Dalam surat-surat itu tampak bahwa Paus Fransiskus adalah pribadi yang demikian mereka cintai. Pada pribadi seperti inilah, mereka bisa memercayakan diri dan rahasia hidupnya. Sosok seperti Paus Fransiskus mungkin jarang atau sulit mereka temukan. Itulah sebabnya mereka membiarkan isi hatinya terpendam. Sekarang sosok Paus Fransiskus itu benar-benar datang, maka mereka pun tak lagi ingin membendung isi hati yang selama ini tersimpan.
Kita telah mengenal pribadi Paus Fransiskus lewat berita, televisi, video, dan bacaan. Pribadinya demikian menarik, penuh pesona, dan memancarkan inspirasi. Kedalaman dan kekayaan pribadinya seakan takkan habis digali, dan tak berhenti memancarkan pesona serta inspirasi. Walau sebenarnya hanya merupakan curahan hati, surat-surat yang terkumpul dalam buku ini diam-diam menambahkan pengenalan akan pribadi Paus Fransiskus secara lebih personal dan autentik.

Para penulis surat kiranya belum pernah bertatap mata dengan Paus. Tapi dari curahan hati mereka terkesan, betapa Paus demikian dekat di hati mereka. Paus Fransiskus yang tak pernah mereka jumpai ternyata adalah bapak, sahabat, teman, yang dirasa bisa merasakan segala persoalan, kemalangan, atau kegembiraan diri mereka. Dan dalam setiap surat, Paus seakan hadir secara autentik dan personal pada masing-masing pribadi, sesuai dengan kondisi dan persoalan hidup invidual mereka.
Lebih dari itu semuanya, dengan membaca surat-surat ini, jadi terbukalah hati dan mata kita terhadap pelbagai persoalan dan pergulatan umat, warga Gereja Katolik di Indonesia, dengan seasli-aslinya. Selama ini kiranya kita tahu atau mengandaikan saja akan adanya persoalan-persoalan tersebut. Tapi begitu dibuka dan dituturkan dalam surat-surat, persoalan tersebut jadi mempunyai bobot dan nilai yang tidak boleh kita sepelekan. Apalagi semuanya itu diungkapkan pada pemimpin tertinggi Gereja, Paus Fransiskus, yang amat mereka cintai dan patuhi. Surat-surat itu sesungguhnya adalah pengaduan akan demikian banyaknya persoalan-persoalan personal maupun kelompok, yang harus dihadapi oleh Gereja di Indonesia.
Selain masalah-masalah dan krisis personal, ada juga surat-surat yang mengungkapkan persoalan-persoalan sosial. Juga tentang lingkungan, pendidikan, pekerja migran, dan sederet masalah lainnya.
Para penulis surat kiranya merasa, Bapa Suci adalah alamat yang tepat untuk memahami isi hati dan persoalan hidup mereka. Memang mereka tidak salah alamat. Sebab dalam kesehariannya, Bapa Suci Fransiskus jelas-jelas menampilkan bahwa dirinya sanggup untuk menjadi tampungan bagi demikian banyak perkara yang disampaikan tidak hanya umatnya, tapi juga orang-orang lainnya.
Bapa Suci sendiri pernah mengatakan, hidup memang penuh dengan cobaan yang menceburkan kita ke dalam krisis. Keluar dari krisis, kita menjadi lain. Bisa menjadi lebih baik, bisa menjadi lebih jelek. Tentu sebagai orang beriman, kita berharap, bahwa krisis itu membuat kita tumbuh dan menjadi lebih baik (Pope Francis, Let Us Dream, 2020, hlm. 1).

Menurut Paus Fransisikus, ada gunanya kita mengalami cobaan. Dalam cobaan, kita akan menyatakan isi hati kita apakah hati itu keras atau penuh belas, berbesar atau berkecil hati. Dalam waktu normal, kita tak terpikir untuk mengeluarkan isi hati itu. Kita tertawa, kita mengatakan apa yang kita kira benar, kita bergaul dengan tanpa rasa takut, dan semuanya kita lakukan tanpa menunjukkan siapa diri kita. Tapi bila kita berada dalam krisis, yang terjadi sebaliknya. Sebab, krisis menantang kita untuk harus memilih. Dan dengan memilih, mau tak mau kita harus menyatakan hati kita.
Surat-surat kepada Paus Fransiskus yang ditulis sebagai curahan hati dalam buku Whispers of Hope: Curahan Hati untuk Bapa Suci, maupun sebagian surat yang dimuat dalam Majalah UTUSAN ini, kiranya boleh kita tangkap sebagai surat yang menyatakan krisis. Jika demikian, di mata mereka, Bapa suci adalah pribadi yang dipercaya bisa menerima dan memahami persoalan serta krisis mereka.
Kita bisa merasakan kelegaaan yang dialami oleh para penulis surat, karena mereka merasakan hadirnya sosok yang tepat dalam menanggapi krisis dan masalah mereka, walau tentu mereka tahu, Bapa Suci tidak bisa segera menjawab, apalagi menolong. Kelegaan itu sendiri kiranya sudah merupakan rahmat Tuhan. Dan, rahmat ini menjadi makin berarti dan diteguhkan, karena keyakinan bahwa Bapa Suci pasti akan mendengarkannya dan mengangkat mereka dalam dalam doa-doanya.
Memang tidak semua surat-surat dalam buku ini berisi krisis dan masalah. Banyak juga ungkapan syukur yang disampaikan. Dan, tentu saja, banyak juga rasa terima kasih dan kagum atas keteladanan yang diberikan oleh Bapa Suci. Bagi mereka, Bapa Suci adalah saksi hidup dan nyata dalam hal kesederhanaan, sosok ideal yang memiliki empati dan perhatian terhadap kaum yang menderita, dan manusia yang sangat peduli terhadap keutuhan semesta hingga berani terus-menerus menegur dan mengingatkan, agar kita semua tidak merusak lingkungan.
Jika dirasakan dalam-dalam, surat-surat kepada Paus Fransikus sungguh mengharukan. Surat-surat itu bisa mengajak kita untuk ikut menjerit pada Bapa Suci. Kita pun ikut berlega, karena kita merasa boleh menjerit pada sosok yang kita percaya sungguh bisa memahami dan merasakan persoalan kita. Dengan membaca surat-surat itu, kita akan ikut merasakan apakah sesungguhnya curahan hati yang boleh kita ungkapkan dalam iman dan kepercayaan pada seorang pimpinan Gereja yang pantas dan berwenang.




