Di pagi hari mestinya kita gembira. Apalagi bila paginya cerah. Kita pasti ingin memulai hari kita dengan sukacita. Namun, apa yang sering terjadi malah sebaliknya. Wajah kita cemberut dan kita berpikir hanya akan menjalankan itu-itu saja.
Oleh: Romo G.P. Sindhunata, SJ
Bahkan kerap juga terjadi, sepagi itu masalah-masalah datang bermunculan. Kita tidak tahu bagaimana mengatasinya. Perasaan tak berdaya melanda. Bahkan putus asa. Sedapnya kopi pagi tak lagi terasa. Hilang dalam ruwetnya masalah-masalah. Rasanya tak ingin kita melangkah, walau pagi sedang cerah.
Suasana demikian dialami banyak orang. Beginilah seorang ibu, Miriam Sequeira, menuturkan, pagi itu ia mendengarkan berita pemogokan. Ia terlibat di dalamnya, karena pemogokan itu dilakukan oleh rekan-rekan di tempat kerjanya. Memang sedang ada ketidakpuasan di antara mereka.
Miriam juga tidak puas. Belum lagi ia masih harus menghadapi masalah-masalah, entah rumah tangga entah kerja, yang setiap hari berlangganan menghampirinya. Ia tidak tahu bagaimana bisa menjaga perasaannya. Padahal pagi itu ia juga sudah berdoa dan memohon pertolongan dari Tuhan. Toh, seruan doanya seperti tak terdengar. Ia tetap dilanda kegelisahan.
Di tengah kejengkelan, kebingungan, dan kemarahan itu, tiba-tiba anaknya yang kedua, Aaron, datang dan bersenandung:
Ubahlah hatiku ya Tuhan,
jadikan hatiku baru,
ubahlah hatiku ya Tuhan,
bolehkan aku jadi seperti diri-Mu.
Aaron memang suka menghafalkan potongan-potongan lagu. Di pagi hari, begitu ingin, ia langsung menyenandungkannya. Kebetulan pagi itu ia menyenandungkan potongan lagu Hati Yesus di atas itu. Lagu itu dipelajarinya di sekolah dan dinyanyikan pada perayaan Ekaristi. Sambil lewat di depan Miriam, ibunya, demikian ia melanjutkan lagu itu:
Kau tukang periuknya,
aku tanah liatnya,
bentuklah dan jadikan aku
itulah doaku.
Miriam tergugah. Ia ikut menyenandungkannya. Sesungguhnya, ia sendiri telah berkali-kali menyanyikan lagu itu. Dengan menyanyikannya, ia merasakan kehangatan. Demikian juga dengan pagi itu. Mengikuti anaknya bernyanyi, hatinya jadi ringan dan lega. Hilang segala gelisahnya.
Katanya, jika menyanyikan “ubahlah hatiku ya Tuhan”, sebenarnya kita diingatkan bahwa kita diciptakan sesuai dengan citra Tuhan. Tuhan ingin agar kita menjadi sempurna bersama Dia.
Untuk mengerti hal itu, cukuplah bila kita kenangkan kembali masa kanak-kanak kita ketika belajar katekismus: Kita diciptakan Tuhan, supaya kita mengenal Dia, mencintai-Nya, dan mengabdi-Nya.
Apakah kita sungguh sudah paham akan hal itu? Dengan menyanyikan “ubahlah hatiku ya Tuhan”, kita dibantu untuk memahami maksud kita diciptakan Tuhan. Pemahaman itu akan membuat kita tenang, damai, juga dalam menghadapi masalah-masalah yang menghampiri kita di pagi hari dan selanjutnya.
Karena kita adalah citra Tuhan, janganlah kita mengecilkan diri kita. Namun, kita masih harus bertanya: sudahkah kita sempurna dalam pandangan-Nya? Jawabnya pastilah “tidak”. Untuk itulah kita harus mengubah hati kita. Namun, kita sendiri pasti tidak dapat melakukannya. Apa yang dapat kita lakukan hanyalah meminta dan memohon, agar Tuhanlah yang bekerja dan mengubah hati kita. Kita yakin, Tuhan akan mengerjakannya, karena “bagi Tuhan, semuanya adalah mungkin” (Mat. 9:26). Tidakkah Dia sendiri bersabda, “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku …” (Yer. 18:6).
Kita kerap kali gelisah dan habis ditelan masalah, karena hati kita tidak mau berubah. Jika kita membolehkan Tuhan untuk mengubah hati kita, kita akan tabah dalam menghadapi masalah. Sebab, dengan hati yang telah diubah itu, kita akan merasa diri kita dan semuanya ada di dalam tangan Tuhan. Kita tidak lagi tergantung pada diri kita, tetapi pada Tuhan. Tuhanlah yang akan mengerjakan apa yang tidak bisa kita kerjakan.
Itulah yang terjadi pada Nabi Ayub, Abraham, dan Daud. Mereka semua bukanlah orang yang tanpa dosa. Mereka tetaplah orang berdosa, tetapi mereka mau bahwa hatinya diubah dan menjadi baru. Sekali lagi, hati yang berubah dan baru itu adalah hati yang mau memercayakan semuanya kepada Allah. Dengan hati demikian itu, mereka dikuatkan untuk menghadapi segala masalah.
Jika kita membiarkan Tuhan mengubah hati kita, perlahan-lahan kita akan dibimbing untuk membuka rahasia yang ada dalam hati kita. Dengan terbukanya rahasia itu, kita akan merasa bahwa seperti Yesus Putra Allah, kita ini dilahirkan bukan untuk mencintai diri kita sendiri, tetapi untuk mencintai sesama. Dengan berkembangnya cinta kita pada sesama, akan berkembang pula cinta pada diri kita sendiri. Bukan sebaliknya.
Maka, sesungguhnya tak ada yang bisa benar-benar membuka rahasia hati kita kecuali Hati Kudus Yesus sendiri. Karena itu, janganlah kita menunda untuk datang kepada Hati-Nya. Kata Miriam, Hati Kudus Yesus itu menyala dengan cinta pada kita. Yesus menunggu kita untuk datang ke Hati-Nya, yang penuh dengan cinta dan bela rasa. Apa yang kita minta pada Hati Kudus, takkan ditolak-Nya. Tidakkah Ia berkata, “Tinggallah dalam Aku, dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4) dan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku, dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7).
Kita harus terus berusaha untuk percaya, bila hati kita berubah, dan kehendak kita disatukan dengan kehendak-Nya, kita pasti akan dipenuhi dengan kegembiraan dan kedamaian Tuhan yang tiada henti dan berlimpah-limpah. Kita akan merasa terjamin bahwa Tuhan selalu memelihara kita dan memperhatikan kebutuhan kita.
Sedemikian banyak kekayaan hati kita, bila kita rela membiarkan Tuhan mengubah hati kita, dan terus mendekatkan hati kita pada Hati Kudus-Nya. Kita sering lupa bahwa dengan cara itulah kita akan diringankan untuk menghadapi segala masalah. Kita langsung menggebrak sendiri. Padahal jika kita mau bersandar di Hati-Nya, hati kita akan diubah dan berubah. Dengan hati baru kita akan melihat masalah kita. Kita akan dibuat terkejut karena masalahnya tak sebesar yang kita sangka. Atau, masalahnya tetap ada, tetapi kita mampu menanggungnya. Sebab, sekarang Tuhan ikut menanggungnya, pastilah juga Ia akan menyelesaikannya.
Itulah sebabnya di bulan Juni ini Gereja mengajak untuk mendekatkan hati kita pada Hati-Nya.
Terima kasih Anda telah membaca artikel ini. Untuk mendapatkan pengalaman iman lebih banyak dan referensi lainnya, silakan hubungi kami. Langganan edisi cetak (0812 2522 5423) dan untuk versi digital (klik di sini).




