Sanctuary adalah wilayah suci dalam sebuah bangunan religius. Juga berarti tempat untuk berdoa. Namun, juga bisa dimegerti sebagai tempat perlindungan atau suaka. Ke dalam bahasa Indonesia, sanctuary mungkin bisa diterjemahkan dengan “bilik suci”, yang mencakup pengertian “suaka”, “tempat perlindungan dan pengungsian” yang menenteramkan.
G.P. Sindhunata, SJ
Banyak orang membutuhkan suaka bilik doa semacam itu. Lebih-lebih, ketika ditimpa pelbagai kesulitan dan masalah. Atau, karena ingin memperbarui dirinya. Ada yang mencari bilik suci itu dengan melakukan ziarah ke tempat suci, bahkan di luar negeri. Ada yang mencarinya dengan menyepi di tempat sunyi atau melakukan retret.
Bagi Marion F. Ash, seorang umat dari Kota Newton, Illinois, Amerika, sanctuary atau bilik doa itu tidaklah perlu dicari jauh-jauh. Bilik suci itu adalah doa sendiri. Ia meyakini hal ini, awalnya karena pesan bibinya sendiri. Kata bibinya, bilik suci paling baik bagi orang yang terlalu menyandang banyak beban adalah “melepaskan diri dalam doa”. Dengan cara itu, orang bisa membagi bebannya dengan “Seseorang” yang menanggungnya dalam setiap kesulitan.
Untuk itu, bibinya berpegang pada sabda Tuhan sendiri: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Kitab suci sendiri juga banyak bercerita tentang orang-orang yang menemukan sanctuary-nya dalam doa. Mazmur jelas berisi banyak tentang doa-doa, yang membantu orang untuk menemukan _bilik sucitersebut. Pribadi utama yang menemukan bilik sucidalam doa itu adalah Yesus sendiri: Dan setelah orang banyak itu pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri (Mat. 14:23).
Marion bercerita, ia sendiri menemukan sanctuary itu ketika ia selesai sekolah SMA. Ibunya menghendaki agar ia menempuh pendidikan guru. Ibunya memang guru dan ingin agar anaknya mengikuti jejaknya. Ini sebenarnya berlawanan dengan keinginan Marion yang ingin melanjutkan studinya di pendidikan tinggi. Namun, ia menerimanya.
Sementara itu terjadilah The Great Depression, krisis eknonomi terbesar yang melumpuhkan Amerika dan juga dunia, yang diawali pada tahun 1929. Keluarga Marion juga terbenam dalam krisis. Mereka hanya petani. Uang tidak cukup tersedia, walau untuk makan sehari-hari tidak kekurangan. Ini membuat pendidikan Marion terputus pula.
Ibu Marion adalah orang beriman yang taat. Tiap hari ia mengajak keluarganya untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan. Mereka berdoa dengan sederhana. Langsung menyampaikan kesulitan dan permohonannya. Mereka tidak memikirkan Tuhan sebagai Pribadi yang jauh dan tak terjangkau, tetapi sebagi Dia yang dekat dan bersama dengan mereka, ketika mereka berdoa.
Semula Marion ragu akan doanya. Namun, ibunya selalu meyakinkannya dengan kata-kata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat. 9:29). Juga, harapannya dikuatkan karena sabda, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan menemukan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat. 7:7).
Begitulah Marion dan ibunya menemukan sanctuary dalam doanya. Ternyata, Tuhan mengabulkan doa mereka. Marion mendapat beasiswa setempat untuk melanjutkan pendidikannya.
Namun, hidup tidak selalu mudah. Marion sempat gelisah dengan situasi keuangannya. Gajinya sebagai guru ternyata kurang untuk menutup cicilan rumah yang dibelinya. Waktu itu Joe, pamannya, datang dan menasihatinya, ia harus mengubah sikapnya. Sekarang, jangan ia bersedih karena kekuranganya, tetapi mengisi pikirannya dengan ingatan akan kekuasaan Tuhan, kebaikan dan pertolongan-Nya. “Sisihkan 15 menit setiap hari, dan isilah pikiranmu dengan Tuhan. Dengan pikiran itu, rasakanlah bahwa kamu sedang berada dalam sanctuary Tuhan,” pesan Joe.
Sambil mempraktikkan anjuran itu, Marion juga meyakinkan pada dirinya sendiri, “Setiap hari dalam hidupmu, berpikirlah bahwa kamu hidup dalam kehadiran Kristus; jika senyatanya Ia berjalan di sampingmu, apa alasannya kamu masih gelisah? Ingatlah, ia tak meninggalkan kamu dan mengguncangkan kamu.”
Marion sadar, selama ini ia selalu hidup dalam kegelisahan. Dengan doa itu, ia perlahan-lahan terlepas dari kegelisahannya. Ia merasa bodoh ketika ia merasa kurang dengan gajinya. Tahun berikutnya, ternyata gajinya naik dan ia bisa mencukupi kebutuhannya. Ia sungguh bersyukur, karena mempunyai keluarga yang demikian berusaha untuk membangun sanctuary dalam doanya.
Ia juga bercerita tentang otpimisme temannya yang sakit, tetapi tetap percaya pada kekuatan doa. Teman itu mempunyai sakit jantung dan diingatkan agar berhati-hati. Namun, ia tidak khawatir dan melakukan hobi yang membuatnya relaks. Pada Marion, ia mengatakan kutipan Mazmur ini: “Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya” (Mzm. 121:7-8). Ternyata, doa itu yang menjadi isi dari sanctuary-Nya, dan ia bisa menemukan hiburan serta kekuatan dalam menanggung bahaya sakitnya.
Dari pengalaman dan perjumpaannya, Marion menyimpulkan, betapa dahsyat daya sabda dari Kitab Suci, bila orang mau memelihara sabda itu dalam sanctuary doanya. Dalam bilik suci doa pribadi itulah kita bisa merasakan kebenaran sabda Tuhan ini: “… Jika tidak demikian, tentulah aku mengatakan kepadamu” (Yoh. 14:2). Tuhan takkan mengatakan yang tidak benar bagi kita, tetapi kebenaran-Nya takkan kita rasakan, bila kita tidak meresapinya dalam sanctuary doa kita.
Maka, perlulah kita membangun bilik suci doa itu dalam diri kita masing-masing. Dengan mudah, hal itu dapat kita lakukan. Modalnya hanyalah doa setiap hari, dan dalam doa itu kita mau tinggal, seperti kita tinggal dalam bilik suci atau sanctuary kita. Di sana kita merasakan, betapa doa itu membantu kita, dalam setiap urusan hidup kita. Lebih-lebih, bila kita ditimpa kesulitan, menanggung banyak masalah, bingung, dan menderita sakit. Tuhan tidak hanya akan menguatkan kita, tetapi juga “meringankan” beban kita, bahkan perlahan-lahan juga akan menghapusnya, tanpa kita rasa.
Jika kita mau masuk ke dalam sanctuary doa kita, kita akan merasakan, betapa indahnya bahwa kita boleh berbicara pada Tuhan, seakan-akan Ia bisa kita lihat. Kita boleh berkata pada-Nya, “Bapa yang baik, terima kasih aku dapat bicara dengan-Mu, Kaulah tempatku yang paling akrab. Aku ingin doaku makin dan makin menjadi bagian dari hidupku sehingga apa saja yang aku kerjakan akan menjadi doa yang mengikatkan aku makin dekat pada-Mu. Amin.”




