Suatu hari, Seminari Mertoyudan mengadakan kegiatan EKM (Ekaristi Kaum Muda). Ekaristi ini dihadirkan oleh para pemuda Katolik sekitar Kevikepan Kedu. Namun, yang terjadi banyak remaja tidak mengikuti Misa dan rangkaian acara dengan sungguh-sungguh, melainkan menunduk dan asyik sendiri dengan gawainya.
Kehidupan generasi muda tak jauh dari kata “gadget” atau gawai. Sering kita jumpai, setiap generasi muda akan menunduk, diam, dan asyik sendiri dengan gawai milik pribadinya ketika berada di tempat-tempat umum. Salah satunya di halte. Generasi Z kerap kali akrab disebut sebagai “anak zaman now”¾sebenarnya istilah ini sudah usang pada tahun 2024 ini. Perilaku anak zaman now ini akan menimbulkan ketidakpekaan terhadap sesama dan diferensiasi sosial. Bahkan, anak-anak muda ini tidak menganggap eksistensi setiap individu yang ada di sekitarnya.
Mengapa diferensiasi sosial bisa timbul? Merek gawai sangat memengaruhi diferensiasi sosial di suatu komunitas ataupun circle. Sebagian anak zaman now yang menggunakan gawai dengan merek iPhone akan menghina mereka yang menggunakan ponsel berbasis Android. Fenomena ini kerap kali ditemukan di kalangan siswa SMA maupun mahasiswa. Hal ini akan menimbulkan perasaan insecure, covetous (tamak), dan fear out missing out (FOMO).

Generasi muda mengalami regenerasi
Kehidupan akan terus mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat. Baik perubahan secara internal maupun eksternal. Begitu juga dengan manusia. Setiap pribadi memerlukan transformasi untuk bertumbuh daripada mengalami proses transformasi itu sendiri.
Transformasi merupakan sarana untuk membantu mengantar setiap pribadi untuk memasuki dimensi hidup. Saat ini, Indonesia sedang mengalami situasi modernisasi. Modernisasi merupakan transformasi kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial dari yang tradisional ke arah pola-pola ekonomis yang didahului oleh negara yang telah stabil (Wibert R. Moore).
Indonesia sudah mengalami empat regenerasi. Dimulai dari Baby Boomers, Generasi X, Millennials, dan Generasi Z. Tiap generasi memiliki kecenderungan dalam menggunakan media sosial. Bahkan, setiap generasi memiliki platform media sosial favorit.
Baby Boomers merupakan generasi yang tumbuh dan berkembang sebelum era digital. Namun, generasi Baby Boomer menggunakan Facebook sebagai platform media sosial yang paling populer untuk memudahkan terhubung dengan keluarga dan kerabat lainnya.
Generasi X adalah generasi In Medio.Generasi yang berada di tengah-tengah antara Generasi Baby Boomer dengan Generasi Millennials. Generasi X menggunakan YouTube dan Facebook sebagai platform media sosial yang dipergunakan untuk networking professional dan mencari peluang karier.
Millennials adalah generasi yang tumbuh bersama dengan kemajuan teknologi dan internet. Millennials menggunakan YouTube, Facebook, dan TikTok sebagai sarana untuk mencari hiburan, menemukan komunitas untuk menunjang hobi, dan mencari edukasi melalui YouTube.
Sedangkan Generasi Z merupakan generasi digital native yang memiliki akses luas terhadap internet dan teknologi. Generasi Z menggunakan Instagram dan TikTok sebagai sarana untuk mengikuti tren terbaru dan mendapatkan referensi yang inovatif dan kreatif. Arus Globalisasi memudahkan manusia untuk menemukan ide dan terobosan yang baru.
Tahun 2024, ada data yang diperoleh dari survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Survei APJII mengatakan bahwa presentasi generasi Baby Boomers dalam menggunakan platform Facebook sebesar56,59%.Generasi X dalam menggunakan platform Facebook sebesar66,3%, YouTube(62,9%).Sedangkan generasi Millennialsmenggunakan platformFacebook sebesar 74,09%, YouTube (53,42%), dan TikTok (31,72%).
Generasi Z menggunakan platformInstagram sebesar 51,9%, Facebook (51,64%), dan TikTok (46,84%). Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa setiap generasi mengenal bahkan menggunakan platform media sosial. Meskipun mengalami perbedaan fungsi dan tujuan dalam menggunakan media sosial, tetapi yang menjadi pertanyaan saat ini, “Apakah media sosial menjadi kebutuhan atau menjadi kelekatan yang terjadi di setiap generasi, khususnya di Generasi Z?”

Implikasi media sosial bagi generasi muda
Perbedaan tiap generasi memengaruhi cara pikir dan cara bertindak seseorang. Dampak media sosial sangat kelihatan bagi para penggunanya, yaitu mengalami perubahan kepribadian secara signifikan.
Di dalam ilmu psikologi, kepribadian kerap kali dikaitkan dengan karakter. Karakter adalah sifat maupun kualitas yang tetap terus-menerus dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seseorang. Kepribadian juga dikaitkan dengan watak. Artinya, seseorang memiliki kecenderungan psikofisik, individu untuk mereaksi dengan satu cara tertentu.
Kepribadian pun dikaitkan juga dengan temperamen, yaitu adanya reaksi dan disposisi batin seseorang dalam menghadapi suatu peristiwa. Reaksi tiap pribadi pun memengaruhi cara berpikir dan bertindak dalam mengambil suatu pilihan.
Suatu kebiasaan juga kerap kali dikaitkan dengan kepribadian, yakni pola pikir seseorang yang relatif tetap terus-menerus dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama. Kebiasaan sangat memengaruhi cara respons otak yang akan saved di memori. Hal ini yang perlu diperhatikan generasi muda. Kebiasaan keliru yang dilakukan secara terus-menerus akan berdampak pula dengan yang lain.
Perubahan kepribadian yang dialami oleh generasi muda kerap kali tidak disadari. Perkembangan zaman makin membuat generasi muda kehilangan kesadaran diri. Generasi muda sering kali melakukan kegiatan secara spontan tanpa ada rasa kesadaran diri.
Seorang pastor Seminari Mertoyudan bertanya kepada seorang pemuda Millennial, “Apakah kamu sadar bahwa kamu bernapas? Berapa kali kamu bernapas dalam sehari?” Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi sulit dijawab oleh pemuda tersebut.
Akar permasalahan yang terjadi adalah generasi muda menjalankan kehidupan menggunakan sistem autopilot. Maksudnya, generasi muda menjalankan kegiatan yang seharusnya dilakukan tanpa ada kesadaran. Sistem autopilot merupakan sistem dilakukan secara otomatis. Sistem autopilot ini akan menimbulkan perasaan monoton, kejenuhan, kesal, dan kebosanan.
Sering kali ketika generasi muda menggunakan sistem autopilot akan muncul kemurkaan di dalam diri. Rasa murka itu mudah diketahui melalui ekspresi muka. Kemurkaan itu hadir dikarenakan generasi mudah merasakan kekosongan dan kehampaan.
Rasa hampa itu muncul karena diri kita menyadari apa yang sedang kita alami. Tidak sadar dengan apa yang kita lakukan. Ketika kita sedang merasakan kehampaan, kita perlu meneliti dan mengecek kembali diri dengan cara hening. Kemurkaan merupakan sifat buruk yang terdapat di dalam diri manusia yang mampu menghancurkan hubungan antar manusia.

Imam hadir sebagai pemberi solusi?
Untuk apa kehadiran imam di dunia? Imam merupakan para rasul Kristus yang memiliki tujuan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Selain itu, imam memiliki tanggung jawab atas permasalahan yang terjadi pada jemaatnya.
Imam mempunyai rahmat tahbisan yang secara sah mewakili nama Gereja di dalam sebuah persekutuan jemaat Katolik. Konteks permasalahan yang terjadi pada zaman arus teknologi ini adalah kurangnya kesadaran diri bagi generasi muda. Permasalahan ini bisa diatasi secara bersama-sama. Sebab, setiap orang memiliki eksistensi dan peran penting.
Manusia bereksistensi, berarti pada kodratnya harus keluar dari dirinya sendiri. Tidak ada seorang yang telah menerima rahmat baptisan, rahmat tahbisan, kekayaan, dan kenyamanan bebas dari pencarian rasa aman. Perlu kita ketahui dan sadari bahwa manusia memiliki kecenderungan alam bawah sadar yang menyukai rasa aman yang selalu berusaha melanggengkannya dengan berbagai alasan.
Imam perlu mengajak jemaatnya untuk mau mengatasi permasalahan yang terjadi. Perlu ada kerja sama semua pihak untuk mencapai pertumbuhan kematangan jiwa dan kesadaran reflektif sebagai seorang hamba Allah. Pencapaian kesadaran diri akan mampu menghayati proses “Internal Hermeneutic”, yaitu suatu proses berefleksi untuk menyadari bahwa di dalam diri tiap individu memiliki potensi narcissistic.
Fenomena narcissistic merupakan kecenderungan dasariah dan alamiah di dalam diri manusia. Kecenderungan yang berupa insting bawah sadar yang mau menjadi diri menjadi populer. narcissistic merupakan salah satu dampak dari media sosial yang dialami oleh pengguna.
Dampak narcissistic adalah menginginkan dunia berpusat pada diri sendiri, merasa nyaman ketika dirinya diutamakan dan tahu-menahu segala persoalan di dunia. Kecenderungan narcissistic ini sudah dianggap wajar dan tidak bersifat asing ataupun lugu. Kecenderungan ini sudah menjadi bagian siklus alamiah yang terjadi dalam proses pertumbuhan manusia dari tahap kanak-kanak hingga dewasa.
Imam terbiasa untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh generasi muda. Para imam sudah dilatih dan mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan. Para imam menempuh pendidikan sekitar 8-10 tahun yang bertujuan untuk bisa menyelesaikan segala persoalan yang terjadi pada jemaatnya. Selain itu, imam mempunyai karunia Roh Kudus yang bisa membantu persoalan yang terjadi.
Para imam perlu memberikan cara untuk melatih kesadaran kepada generasi muda. Sesungguhnya, rasa hampa dan kekosongan yang dialami generasi muda dipengaruhi dengan faktor rindu akan Allah. Namun, mereka tidak mengetahui cara dan sarana untuk memenuhi kerinduan tersebut.
Melatih kesadaran itu memiliki banyak sarana, antara lain pemeriksaan batin, refleksi, dan hening. Tiga sarana ini sudah dipelajari dan dilatih secara terus-menerus oleh para imam sehingga kemungkinan besar dapat membantu generasi muda untuk semakin sadar. Dalam tradisi Gereja terdapat berbagai macam cara pemeriksaan batin.
Ada empat cara sederhana yang dapat dilakukan di tengah kesibukan kita. Pertama, kita perlu bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menjaga kita sepanjang waktu yang telah berlalu. Kedua, kita perlu melihat kembali apa yang telah kita pikirkan pada waktu-waktu yang telah berlalu. Contohnya, mengingat tempat, waktu, dan dengan siapa kita berjumpa.
Ketiga, jika kita menemukan dan melakukan hal-hal baik, perlu kita syukuri kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita menemukan hal-hal buruk, hendaknya dengan rendah hati mohon ampun kepada Tuhan. Keempat, serahkan hidup dan keluarga serta semua sanak saudara kita kepada Allah dan memohon bantuan penyertaan selalu kepada Allah.
Generasi muda bisa mengatasi segala fenomena, dampak, dan kelekatan dengan kesadaran diri. Bagaimana caranya? Solusinya adalah imam. Melalui para imam yang ada, generasi muda bisa dibantu untuk mempelajari dan melatih diri melalui kesadaran diri.
Kesadaran menghasilkan buah melalui diri sendiri yang mampu mengontrol diri. Gambarannya adalah diri kita mempunyai remote control sehingga kita menjadi tuan atas diri kita yang mengontrol segalanya. Sering kali kita menjadi budak ata diri kita karena kita tidak memegang remote control sehingga kita sulit mengontrol keinginan diri kita. Generasi muda saat ini senang memenuhi keinginan daging dibandingkan keinginan roh.
Kerinduan akan Allah adalah kesadaran diri akan kebaikan Allah yang memanggil dan menuntun menuju keselamatan. Keselamatan adalah dasar yang mendorong diri manusia untuk mau terus-menerus masuk dalam relasi dengan-Nya. Menjadi pertanyaan saat ini, apakah generasi muda mau membenah diri dan belajar mengontrol diri? Atau, membiarkan diri menjadi budak arus teknologi dan terus-menerus mengejar keinginan semu? Temukan jawaban ini di dalam realitas kehidupan anda, Wahai Generasi Muda.
J. Christiano Putra Alpa Regineus (Seminaris Tahun Keempat, Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan)













