Ekskul Jurnalistik: Belajar Bicara Lewat Tulisan

Papan Tulis1068 Views

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jurnalistik berarti yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran. Selain itu, masih dalam KBBI, jurnalistik berarti seni kejuruan yang bersangkutan dengan pemberitaan.

Menurut Kustadi Suhandang, jurnalistik adalah seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, serta menyajikan pemberitaan mengenai peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani orang banyak. Jadi, dari berbagai definisi tersebut, jurnalistik dapat dikatakan sebagai sebuah salah satu bentuk kegiatan literasi.

Di SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ekstrakurikuler (ekskul) jurnalistik hadir sebagai wadah bagi kami sebagai siswa yang berminat mengembangkan diri di bidang literasi.

Kegiatan ini diikuti oleh beberapa siswa dari berbagai kelas dan diampu Ibu Nulifara Sekar Arum Sari, S.S. atau yang biasa dipanggil Bu Eva. Ekstrakurikuler jurnalistik dilaksanakan setiap Rabu pukul 14.00 hingga 15.30.

Tujuan hadirnya ekstrakurikuler jurnalistik adalah mengembangkan kemampuan literasi kami, khususnya dalam hal mencari, menemukan, memahami, dan menuangkan informasi dalam bentuk tulisan yang berisi informasi bagi orang lain dan sebagai wadah bagi kami yang memiliki hobi membaca dan menulis.

Mengapa membaca dan menulis? Karena dengan membaca, kita memasukkan informasi ke dalam diri, memahami, dan menampungnya dalam pikiran. Setelah itu, barulah kita dapat menulis dari bahan yang telah dibaca.

Hadirnya ekstrakurikuler jurnalistik ini mampu melatih kami berpikir kritis, jujur, inovatif, kreatif, dan komunikatif. Seiring perkembangan zaman, ketika siapa saja dapat membuat berita atau konten, keterampilan jurnalistik menjadi makin penting. Ekstrakurikuler ini membekali kami sebagai siswa dengan dasar-dasar jurnalistik agar mampu menghasilkan karya yang bernilai.

Berlangsungnya proses pembelajaran ekstrakurikuler.

Ekstrakurikuler jurnalisik juga mampu membantu kami untuk belajar mengkritisi berbagai peristiwa sosial di sekitar, sebagai peran perwujudan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan media. Selain itu, ekstrakurikuler jurnalistik mampu melatih kejujuran kami dalam menuliskan berita dan informasi sesuai sumber yang jelas dan akurat.

Hal ini diwujudkan ketika membuat berita, kami dilatih menulis berita berdasarkan fakta, bukan rekaan. Hal inilah yang ditangkap SMP Kanisius Kalasan dalam upaya membekali kami sebagai siswa untuk memfasilitasi, memberikan ruang, serta mendampingi bakat dan minat dalam ekstrakurikuler jurnalistik.

Tak kalah penting, ekstrakurikuler jurnalistik juga membentuk sikap tanggung jawab dalam diri. Kami diajarkan untuk menyadari dan mempertanggungjawabkan setiap tulisan yang dihasilkan.

Tentu saja, ada tantangan yang harus kami hadapi, misalnya, kemampuan menulis kami yang perlu terus diasah, minat baca yang masih perlu ditingkatkan, serta keterbatasan media untuk mempublikasikan karya kami yang saat ini baru sebatas majalah dinding (mading).

Harapan kami sebagai siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler ini, ke depannya karya kami bisa diterbitkan dalam bentuk majalah cetak, koran sekolah, atau bahkan majalah daring.

Sebagai penutup, kami dapat mengingat sebuah kutipan dari Seno Gumira Ajidarma: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Kutipan ini menggambarkan betapa kuatnya suara jurnalistik hingga terkadang harus dibungkam.

Seperti teriakan keras yang menggema, ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Kanisius Kalasan ini menjadi bekal penting bagi kami, para siswa, untuk menyiapkan masa depan dalam mengarungi perkembangan zaman dan teknologi saat ini dan yang akan datang.

Lidwina Kenanga Ayu Prameswari (Siswi SMP Kanisius Kalasan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *