Pukat nasional adalah salah satu komunitas Katolik yang berdiri sejak tahun 1988 dan telah berkembang sampai saat ini. Pukat merupakan komunitas yang didirikan dengan tujuan utama yaitu sebagai wadah pelayanan masyarakat.
Pelayanan kategorial para Profesional dan Usahawan Katolik (Pukat) pertama kali terbentuk di Kota Surabaya. Saat ini Pukat sudah berada di beberapa kota, seperti Jakarta, Bogor, Malang, Makassar, Ambon, Bali, Bandung, dan Merauke. Pukat di Indonesia berjumlah 24 komunitas, yang terdiri dari Pukat keusukupan berjumlah 21, Pukat kevikepan berjumlah 4.
Selasa, 04 April 2023, komunitas Pukat mengadakan webinar dengan tema “Mengapa Perlu Menjadi Anggota Pukat?”. Webinar menghadirkan dua narasumber, yakni Julius Yunus Tedja (Ketua Pukat Nasional/PukatNas) dan Monica Kusjanti (Ketua Pukat Bogor).
Komunitas ini banyak mendapatkan dukungan dari pimpinan Gereja Katolik dan umat Katolik karena memiliki sikap toleransi, peduli, dan melayani sesama. Komunitas ini sudah banyak melakukan hal seperti pendampingan keuskupan, membangun yayasan seminari, dan membangun yayasan peduli pendidikan. Pukat mempunyai ciri khas di bidang pendidikan, kesehatan, dan bakti sosial.
Julius Yunus Tedja sangat senang bisa bergabung dalam komunitas Pukat. Ketika bergabung bersama komunitas Pukat tentunya harus siap memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan materi. Saat bergabung dalam komunitas Pukat, sebut Julius Yunus Tedja, anggota bisa saling mengenal dan berkumpul dengan rekan-rekan yang berasal dari daerah, bahasa, adat, dan budaya berbeda.
“Pukat adalah kumpulan dari usahawan beragama Katolik. Kami berkumpul dalam komunitas Gereja Katolik dengan menyadari bahwa kami adalah sebagian dari umat agama Katolik. Kami diutus untuk melayani sesama dengan menerapkan sumber daya yang ada di Gereja Katolik. Bergabung bersama Pukat tentunya kami harus mampu memberikan waktu, tenaga, pemikiran dan materi. Bagi yang bergabung dalam komunitas ini, tidak dibatasi dari komunitas mana pun,” tutur Julius Yunus Tedja.
Komunitas Pukat bekerja sama dengan keuskupan dan akan siap membantu apabila keuskupan meminta bantuan, baik dalam segala hal seperti bidang pemberdayaan, sarana, dan prasarana. Pukat hanyalah sebagai konsilator dan mediator dalam hubungan kerja sama dengan keuskupan.
Salah satu komunitas Pukat yang ikut dalam webinar ini adalah Pukat Bogor. “Sebetulnya ini suatu misteri bagi saya karena tidak ada dalam perencanaan hidup saya untuk menjadi pelayan dalam komunitas Pukat. Dalam ayat firman Perjanjian Baru yang berisi tentang saling menolong, menyapa, mendoakan, dan membantu sesama makhluk sosial. Pukat merupakan wadah untuk membangun spiritual dan sosial daripada kita semua,” ungkap Monica Kusjanti.
Salah satu program Pukat adalah mengembangkan bisnis dan juga sekolah. Pukat memiliki SMK Unggul sebagai tempat belajar yang sudah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk menjembatani lulusan SMK untuk langsung bekerja. Komunitas Pukat berusaha untuk menjadi tempat yang dapat menjadi contoh bagi komunitas-komunitas lainnya. Pukat harus dapat melakukan hal yang baik tapi tetap berhati-hati. Pukat akan berusaha terlibat secara langsung dalam membantu masyarakat dengan memberikan fasilitas.
“Melihat masih banyaknya masyarakat kita yang prasejahtera. Pukat bisa mengambil bagian untuk membantu menaikkan kelas dan saya sangat bersyukur karena kita bisa bertemu juga dengan komunitas-komunitas lain. Salah satu lembaga yang mau bekerja sama dengan kami yaitu lembaga dari kota Makassar,” tutur Wernar.
“Pukat dalam perjalanannya sama seperti individu selalu ada naik turunnya. Di Pukat kita diajarkan untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Pukat ini komunitas yang menjadi tempat perkumpulan orang-orang, bukan kumpulan program. Kita perlu untuk terus melangkah maju beriringan dengan perkembangan teknologi,” ungkap Feri.








