Bermain Musik dan Bernyanyilah dengan Hati

News537 Views

YOGYAKARTA-Pusat Musik Liturgi Yogyakarta kembali membuka Kursus Musik Gereja (KMG) tahun ajar 2026/2027. Acara ini ditandai dengan Ibadat Sabda dipimpin oleh Bendahara PML dan Toko Puskat Agustinus Hartono yang diikuti para peserta dan bertempat di aula PML, Sabtu 29 Agustus 2026.

Kursus Musik Gereja PML tahun ini total berjumlah 102 siswa yang meliptui KMG (dewasa ) sebanyak 37 siswa tingkat satu dan dua, kelas ORVO (anak) 38 siswa, kelas CONBRIO (remaja) 20 siswa dan kelas CONCERTO sebanyak 7 siswa.

Dengan tema kursus tahun ini “Berani Melangkah dalam Panggilan Tuhan  sepeti dikatakan Hartono, para peserta diajak untuk memandang pilihan mengikuti kursus musik gereja bukan sekadar sebagai kegiatan belajar musik, tetapi juga sebagai bagian dari panggilan untuk melayani Tuhan.

Menurut Hartono kursus di PML mempunyai kelebihan khusus di banding dengan lainnya. Para siswa telah berani mendaftar dan memilih kursus di PML. Hal ini perlu disyukuri sebab sudah terpanggil untuk mengembangkan talenta yang nantinya akan berguna untuk melayani Tuhan.

“Kursus di PML mempunyai kelebihan khusus dibandingkan dengan kursus di tempat lain. Berani mendaftar dan memilih kursus di PML dapat dimaknai sebagai sebuah panggilan yang perlu disyukuri dalam mengembangkan talenta yang termasuk jarang ditemukan dalam pelayanan kepada Tuhan,” ujar Hartono.

Lebih lanjut Hartono mengungkapkan peserta kursus music di PML untuk menyiapkan peserta untuk tidak hanya dididik menjadi siswa yang bisa bermain organ atau musik, dirigen dan pemazmur gereja saja.

Hartono staf PML Yogyakarta tengah memimpin Ibadat Sabda pembukaan Kursus Musik Gereja di PML Yogyakarta. (Dok. PML).

“Peserta di kursus musik PML juga dididik untuk menjadi manusia yang berkepribadian, bersemangat, bermental, tangguh, trampil, berani, mempunyai hati dan mau bekerja sama.  Kesemuanya diwujudkan dalam permainan musik yang secara spiritual untuk mendukung umat berdoa kepada Tuhan melalui musik gereja di masa mendatang,” jelas Hartono.

Hartono menyadari bahwa proses untuk mencapainya tidaklah mudah dan tidak bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan proses dan ketekunan dan proses panjang. Salah satu tantangannya adalah menjaga semangat belajar di tengah berbagai kesibukan siswa.

“Hal ini kentara sekali bila musim penghujan tiba. Sering kali kemalasan  itu tiba untuk tidak berangkat kursus. Inilah yang menghambat dalam kursus. Belum lagi kesibukan sekolah yang sekarang lebih banyak menyita waktu dengan berbagai les tambahan. Semuanya menjadi semakin kompleks dan membutuhkan pengorbanan yang sesungguhnya,” katanya.

Pimpinan PML Yogyakarta, Elisabet Twitien Sezi Colasina saat memberikan sambutan mengatakan, belajar di Pusat Musik Liturgi adalah suatu keberuntungan. Para siswa tidak saja belajar menjadi organis tetapi juga belajar disilplin.

“Di sini siswa selain menjadi organis Gereja siswa juga dididik disiplin, tepat waktu, tekun dan setia dalam belajar. Mereka kita ajak untuk belajar berjiwa sabar dalam berproses. Disiplin berarti, harus tepat waktu, bila masuk jam 15.45 mestinya siswa sudah masuk lima menit sebelumnya. Tekun dan setia, belajar mestinya secara berurutan, tidak putus di jalan dan tidak mangkir. Sedangkan berjiwa sabar, mestinya siswa perlu menyadari adanya proses belajar dalam berlatih music. Semua butuh proses tidak bisa instan. Sebuah keuntungan belajar di PML didampingi oleh guru yang sabar dan berpengalaman di bidangnya”, katanya.

Pada kesempatan ini Elis menyemangati dan mengajak para siswa dalam dalam bermain musik maupun bernyanyi untuk membiasakan dengan hati. Hal ini juga dimaksudkan bahwa hasilnya semua akan didipersembahkan untuk Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *