Rut, Anarki dan Cinta

Kitab Suci292 Views

Kitab Rut merupakan sebuah karya teologis yang tertulis dan termasuk dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Di antara 46 kitab Perjanjian Lama Kitab Rut adalah kitab yang tersingkat dan romantis. Kendati sesingkat 3 halaman kertas kitab suci, di dalamnya memuat sebuah perjalanan cinta Rut yang menjadi bagian dari proses perjalanan cinta Allah pula.

Peristiwa yang terjadi di dalam Kitab Rut menjembatani cerita di kitab sebelumnya, yakni Kitab Hakim-Hakim. Artinya, penulisan Kitab Rut berlatar belakang situasi dan kondisi yang ada pada Kitab Hakim-Hakim.

Kitab Rut melukiskan perjalanan hidup seorang gadis berkebangsaan Moab bernama Rut yang menemukan cinta sejatinya di tengah sesak perih kehidupan yang ia alami bersama mertuanya, Naomi.

Kisah ini diawali dengan penggambaran situasi terpuruk bangsa Israel pada masa kejayaan para hakim. Pada masa itu poros roda nasib bangsa Israel tengah berada di bawah, kemalangan. Bangsa Israel tengah dilanda kelaparan hebat karena pengaruh rezim para hakim.

Di tengah-tengah situasi yang sedemikian malang tersebut terdapat sebuah keluarga yang berdarah-darah supaya tetap bertahan hidup. Keluarga itu terdiri dari Naomi dan kedua anak lelakinya bernama Mahlon dan Kilyon.

Oleh sebab masa paceklik yang tak kunjung berakhir di tanah asalnya, Naomi dan kedua anaknya mengambil risiko besar untuk merantau ke tanah Moab yang merupakan musuh bebuyutan bangsa Israel dengan membawa harapan supaya dapat tetap bertahan hidup.

Pada akhirnya, mereka tinggal dan menetap di Moab sebagai orang asing. Di awal masa perintisan hidup sebagai orang asing di tanah anarki, kedua anak Naomi bertemu dan mempersunting dua gadis Moab.

Sebagai seorang ibu, besar harapan Naomi supaya di tanah tersebut nasib baik berpihak pada keluarganya. Akan tetapi, tak lama setelah peristiwa bahagia itu Naomi kehilangan kedua anaknya dan hanya tersisa dirinya serta kedua menantunya, bernama Orpa dan Rut. Seketika Naomi merasakan hidupnya adalah reruntuhan pilu. 

Naomi menganggap seluruh hidupnya adalah peristiwa tragis, karena ia banyak mengalami kehilangan orang-orang yang amat ia cintai sehingga ia ingin mengubah namanya menjadi Mara, yang berarti kepahitan. Kepahitan itu semakin terasa pahit karena Orpa memilih meninggalkannya.

Di tanah anarki itu ia telah menjatuhkan buliran air mata yang tak terbilang banyaknya. Di tanah anarki itu ia hanya memiliki Rut seorang. Naomi tidak mengerti bahwa Rut adalah orang yang tidak akan meninggalkannya, maka ia meminta Rut untuk meninggalkannya karena tidak ada gunanya bila Rut terus tinggal bersama Naomi.

Di sinilah titik awal pelangi itu muncul. Rut dengan tekad kerasnya memilih untuk tetap tinggal bersama Naomi hingga maut memisahkan, apa pun yang terjadi. Kata Rut, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku akan pergi, dan di mana engkau bermalam di situ jugalah aku akan bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” 

Bersama angin malam, taburan bintang, dan dedaunan kering yang berjatuhan, Rut melayangkan sebuah sajak indah kepada Naomi, dan Naomi telah mendengarkan sebuah sajak terindah itu masuk ke telinganya. Rut telah melahirkan harapan baru bagi Naomi untuk bangkit kembali. Harapan itu menemani hati Naomi yang sebatang kara itu. Ia kembali hidup dalam harapan. 

Dengan kesediaan hati, perempuan Moab itu telah memilih untuk tetap tinggal sebagai bagian mutlak dari hidup seorang janda Israel. Pada masa itu di Moab sedang masa panen jelai, maka banyak ladang bertanamkan sumber pangan. Karena Naomi sudah lanjut umurnya, ia mengarahkan Rut untuk bekerja sebagai buruh di pengirikan jelai. Rut menyambut arahan itu dengan ringan hati dan pada akhirnya di situlah Rut bekerja.

Singkat cerita ia bertemu dengan seorang pria pemilik pengirikan jelai bernama Boas. Boas dikenal sebagai pria yang berhati mulia. Siapa sangka tempat pengirikan itu adalah prasasti yang akhirnya tertulis nama Boas dan Rut dan tanggal perjumpaan mereka. Dari atas Allah menaburkan benih cinta yang akan mengikat mereka melalui perjumpaan dan dialog antara Boas dan Rut pada akhirnya sulur-sulur tersebut mulai mengikat hati mereka berdua.

Apa yang telah ditaburkan oleh Allah dirawat dan dituai oleh mereka berdua. Di dalam perjumpaan dan dialog mereka saling berbagi, saling menyembuhkan, saling menumbuhkan. Mereka telah mengalami cinta.

Kabar bahagia itu sampai ke telinga Naomi. Menurut tradisi bangsa Israel, seorang janda adalah kaum terpinggirkan, karena mereka tak dapat lagi melahirkan keturunan untuk melanjutkan garis generasi, dan hal itu selaras seperti yang telah dialami oleh Naomi.

Betapa bahagianya ia karena Rut telah berjumpa dengan seorang pria berhati mulia. Besar harapan Naomi supaya Rut dan Boas dapat bersatu dan membangun bahtera keluarga, karena dengan demikianlah hal itu berarti perubahan nasib, dan dengan demikianlah Naomi dapat semakin berdamai dengan masa lalunya.

Di dalam keheningan panjang, Naomi menghabiskan waktunya mengejawantahkan seluruh isi hati dan harapannya kepada Tuhan Allah. Di dalam doa ia mendamba dan mengetuk pintu Hati Allah supaya kiranya Allah mendengar ketukannya dan mewujudkan doa-doanya.

Seiring berjalannya waktu, cinta itu makin mengikat Boas dan Rut. Sulur-sulurnya makin kuat mengikat dan menyatukan mereka. Mereka tidak terlena oleh perasaan pun tidak terbuai oleh kata-kata romantis.

Mereka mengalami proses yang tidak sepele. Mereka menyadari adanya cinta itu, tak terburu-buru, merawat cinta itu, dan merasakan cinta itu tumbuh membuahkan keputusan mantap bagi Boas untuk mempersunting gadis Moab itu menjadi bagian hidupnya.

Mereka membangun keluarga dan lahirlah dari mereka seorang anak bernama Obed yang menjadi garis keturunan Daud yang adalah garis keturunan Yesus Kristus. Itulah yang dialami pada Boas dan Rut, dan Tuhan memberkati mereka berdua. Tuhan menerima cinta mereka berdua. Dari atas, Tuhan Allah tersenyum melihat romansa di tanah anarki itu, karena Ia menghendaki hal itu terjadi pada mereka.

What a happy ending! Peristiwa bahagia itu membasuh lega hati Naomi dan mengubah pedih air matanya menjadi air mata paling bahagia sepanjang hidupnya. Peristiwa baik ini telah menjadi detik kebahagiaan Naomi yang dapat mengalahkan mozaik-mozaik kebahagiaan yang pernah ia alami sebelum ia berjumpa dengan Rut.

Rut telah menjadi istri Boas, dan Boas pun telah menjadi bagian mutlak dari hidup Naomi. Hal itu berarti bahwa Naomi pun turut mengalami pembaruan hidup. Di sisa-sisa usia Naomi yang tak lagi lama itu, ia baru menyadari mengapa nama itu diberikan padanya, karena Naomi berarti membahagiakan.

Ia telah menemui bahagianya dan membahagiakan Rut sebagai bagian dari hidupnya kendati harus melalui pedihnya peristiwa hidup, bahkan harus merobek harga dirinya dari bangsa yang besar menjadi seorang asing supaya dapat tinggal di tanah anarki bangsanya.

Rut, seorang perempuan Moab telah mengantarkan Naomi, seorang janda berkebangsaan Israel, untuk menemui bahagianya. Kisah ini tidak hanya dinikmati oleh mereka bertiga semata, melainkan banyak orang pada akhirnya turut merasakan dan merayakan, bahkan hingga membuat mata mereka tertuju pada Tuhan yang membuat itu terjadi dan memuji-Nya. 

“Terpujilah Tuhan, yang rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyurlah kiranya nama anak itu di Israel. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh laki-laki” (Rut 4: 13). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed