Benarkah Orang yang Tercerahkan Tidak Pernah Marah atau Sedih?

Cermin369 Views

Bacaan Injil dalam misa hari Minggu kemarin di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Sleman, Yogyakarta membicarakan mengenai gandum dan ilalang. Saya pun sangat terkesan dengan homili Romo saat itu. Gandum dan ilalang ada di dalam diri kita. Keduanya melambangkan berbagai hasrat dan afeksi yang tumbuh di dalam hati manusia. Allah sendirilah yang akan membersihkan ilalang di antara gandum yang tumbuh.

Beberapa saat setelahnya, saya membaca tulisan tentang seorang romo senior yang tidak lagi merasakan hal-hal negatif. Beliau senantiasa bahagia selagi masih bisa bernyanyi. Hidupnya pun dipenuhi syukur dan sukacita, walaupun dalam usia senja.

Muncullah suatu pertanyaan: Mungkinkah seorang manusia tidak lagi bisa merasakan sedih, galau, kesepian, gelisah, maupun berbagai emosi lain yang tidak menyenangkan?

Saya pernah mengikuti kelompok meditasi yang mempelajari tingkat kesadaran manusia. Saat saya berbincang dengan praktisi spiritual yang ada di sana, mereka mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat kesadarannya, semakin berkurang dan tidak tidak lagi merasakan emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Dalam tradisi lain, seorang pengajar agama juga menyatakan bahwa seseorang yang telah mencapai pencerahan tidak lagi mengalami berbagai emosi tersebut. Bagi saya, klaim tersebut menurut saya sulit diverifikasi secara objektif dalam kehidupan sehari-hari.

Saya sendiri belum memahami apakah hal itu memang mungkin terjadi. Bagi saya, yang menjadi persoalan bukanlah emosinya sendiri, melainkan kemelekatan terhadap emosi. Karena itu, tulisan ini bukan hendak menyangkal pandangan tersebut, melainkan mempertanyakan apakah hilangnya emosi-emosi tidak menyenangkan dapat dijadikan ukuran kematangan rohani.

Yesus yang kita imani sebagai pribadi yang kudus, tetap mengalami ketakutan saat di Taman Getsemani, bahkan Injil menggambarkan bahwa peluhnya seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Yesus juga meminta murid-murid untuk menemani-Nya. Bahkan, saat disalibkan, Yesus pun mengalami penderitaan tiada tara. Dia pun mengalami haus, bahkan mempertanyakan apakah Allah meninggalkan-Nya. Yang membedakan Yesus bukanlah karena Ia tidak mengalami ketakutan, melainkan karena ketakutan itu tidak menentukan tindakan-Nya. Di tengah pergulatan itu, Ia tetap menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.

Dalam “Buku Hidup” dan “Kesaksian“, St. Teresa Avila beberapa kali mengungkapkan rasa kesepian karena masih ada kerinduan untuk berelasi dengan manusia. Namun, St. Teresa kemudian menyadari bahwa Allah-lah sumber penghiburan yang sejati. St. Teresa Avila mengungkapkan bahwa Allah hadir dalam doa dan kejadian yang kita alami sehari-hari.

Siddhartha Gautama pun bisa sakit kemudian meninggal. Dalam Kanon Pali, Buddha tetap mengalami sakit fisik dan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Yang berubah bukan munculnya pengalaman-pengalaman itu, melainkan lenyapnya kemelekatan dan penderitaan batin yang ditimbulkannya. Perumpamaan tentang anak panah sungguh mencerahkan (SN 36.6).

Meskipun dasar teologis maupun filosofis tradisi-tradisi tersebut berbeda, saya melihat adanya titik temu bahwa persoalan utama bukanlah munculnya pengalaman batin, melainkan bagaimana manusia berelasi dengan pengalaman tersebut.

Bagi saya, merasakan kemarahan, kesepian, maupun kesedihan, tidak bisa disederhanakan begitu saja sebagai masih menghidupi ego. Segala pengalaman batin yang muncul merupakan konsekuensi hidup sebagai manusia. Penderitaan yang dilambangkan sebagai salib dalam tradisi Kristiani merupakan konsekuensi inkarnasi. Justru kesadaran kita akan pengalaman-pengalaman itu bisa memicu rasa belas kasih dan kebersediaan untuk mengampuni.

Bila seseorang benar-benar tidak lagi mampu tersentuh oleh penderitaan sesama, hal itu juga perlu direfleksikan secara kritis. Belas kasih tanpa kemelekatan bukan berarti ketidakpedulian, melainkan kemampuan untuk memahami penderitaan tanpa menjadikannya drama identitas pribadi. Kita bukanlah tubuh, perasaan, maupun pikiran kita.

Di dalam hati kita terdapat benih-benih yang melambangkan berbagai hasrat dan afeksi. Sebagian mengarahkan kita kepada Allah, sementara sebagian lain dapat menjadi tidak teratur karena membuat kita melekat pada diri sendiri, orang lain, maupun berbagai hal duniawi. Allah membiarkan semuanya tumbuh sampai masa penuaian. Allah bahkan tidak mengizinkan ilalang dicabut karena mungkin ada gandum yang ikut tercerabut.

St. Yohanes Salib mengutip Aristoteles: “Tidak mungkin hal yang berlawanan berada dalam tempat yang sama.” Dalam konteks ini, saya memaknainya bukan sebagai berbagai bentuk emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Saya memaknainya sebagai persoalan kemelekatan hati. Seseorang tidak bisa berpasrah dan bergantung pada Allah bila masih melekat pada keduniawian. Ini bukan berarti kita mengabaikan hal-hal duniawi, melainkan menyadari bahwa segala yang ada di dunia merupakan sarana kehadiran Allah. Kita bersandar pada Allah saja, bukan pada hal-hal duniawi. St. Yohanes Salib tidak menuntut pengabaian daya jiwa dan afeksi, melainkan pemurnian dengan rahmat Allah, baik secara pasif maupun aktif.

Karena itu, berbagai pengalaman batin, termasuk emosi-emosi yang tidak menyenangkan, juga tidak selalu perlu disangkal atau ditekan. Yang menentukan bukanlah munculnya emosi itu sendiri, melainkan bagaimana kita menanggapinya. Emosi dapat menjadi pintu menuju belas kasih, tetapi juga dapat berkembang menjadi kemelekatan dan menguatkan hasrat-hasrat yang tidak teratur apabila tidak dimurnikan oleh rahmat Allah. Justru ketika dihayati dengan jujur dan dikelola dengan baik, berbagai pengalaman batin dapat menjadi pelajaran serta lahan tempat rahmat Allah bekerja untuk memurnikan hasrat dan kemelekatan kita.

Ada kata-kata yang sering dikaitkan dengan Rumi: “Luka adalah tempat di mana cahaya dapat memasuki diri.” Tidak jarang berbagai karya indah lahir dari penderitaan yang luar biasa. Tradisi mistik memandang penderitaan sebagai ruang transformasi diri. Rumi menulis banyak karya setelah ditinggal Syams Tabrizi. Viktor Frankl menulis Logoterapi, terinspirasi pengalamannya saat ditawan tentara Nazi.

Saya sendiri masih belum mengalami keadaan ketika kesedihan, kesepian, rasa marah, maupun emosi-emosi lain yang tidak menyenangkan benar-benar tidak muncul. Yang dapat saya lakukan hanyalah berusaha tidak melekatinya dan mengandalkan rahmat Allah agar dapat melaluinya. Saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang yang mengalami emosi-emosi tersebut jauh lebih jarang atau mampu melepaskannya dengan sangat cepat. Namun, bagi saya, hal itu tidak serta-merta menjadi ukuran kematangan. Justru keyakinan bahwa seseorang tidak lagi mungkin tergoda atau terjatuh perlu disikapi secara hati-hati karena bisa jadi merupakan akar dari kesombongan rohani.

“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12)

Sebagai penutup, saya kembali merenungkan homili Romo di Paroki Banteng itu. Di dalam batin saya ada gandum dan ilalang. Meskipun demikian, saya selalu bersyukur bahwa Allah tetap berkarya di tengah gandum dan ilalang yang ada dalam batin saya. Saya perlu menyadari diri akan keduanya. Kekuatan dan kelemahan justru bisa menjadi sarana untuk menyadari kehadiran-Nya. Saya juga perlu bersabar dalam membuka diri terhadap rahmat Allah. Kerapuhan yang masih ada biarlah menjadi pengingat agar saya senantiasa rendah hati dan berserah diri kepada Allah semata. Saya pun membiarkan Sang Pemilik Ladang memurnikan gandum dari ilalang yang masih bertumbuh di dalam hati saya.

Sleman, 20 Juli 2026

Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed