Cuaca mendung, saya mengeluarkan sepeda kuning saya. Saya mengira hujan belum akan turun. Rupanya, tebakan saya meleset. Baru sebentar mengayuh sepeda, hujan deras bak tumpah dari langit.
Saya langsung menepikan sepeda saya dan berteduh di bangku panjang. Di sebelah saya, duduk bapak bertubuh subur dan putri kecilnya yang kira-kira berusia 10 tahun.
Saya berusaha membuka percakapan. “Kamu kelas berapa, Dik?” tanya saya.
Ia tidak menjawab, hanya tertawa memamerkan gigi-giginya yang tidak rapi. Justru bapaknya yang menjawab, “Dia baru saja lulus SDLB, Mbak.”
Saya terbelalak heran. Bapak itu menjelaskan anak bungsunya yang spesial itu. Sejak lahir, putrinya itu tidak bisa bergerak selincah anak-anak yang lain. Tangannya terkepal sehingga memegang sendok dan garpu pun kesulitan. Kakinya lemah jadi harus digendong atau menggunakan tongkat.
Ajaibnya, bapaknya kala bercerita tidak menampakkan wajah sedih, melainkan tersenyum. “Putri saya ini memang spesial, Mbak. Tidak seperti anak-anak lain yang gesit berlari ke sana kemari. Namun, bagi saya, ia anugerah dari Tuhan,” ujarnya seraya tersenyum.
Bapak itu menatap putri kecilnya penuh kasih. Ia dikaruniai tiga anak perempuan. Kedua kakaknya sudah berkeluarga. Tinggallah si bungsu menemani kedua orang tuanya yang usianya beranjak senja. “Mungkin bagi orang lain, memiliki anak spesial itu sebuah beban. Tetapi tidak bagi saya dan istri, Mbak. Ia sarana kami mendapat pahala,” ceritanya.
“Kok bisa dapat pahala, Pak?” tanya saya heran.
“Ya, Mbak. Saya dan istri melayaninya, menyuapinya makan, mengantarkannya ke kamar mandi, dan menggendongnya. Itulah pengorbanan orang tua. Kami belajar sabar, tekun, dan memberi kasih sayang dengan tulus. Senyumnya mengembirakan kami di masa tua kami. Memang, ia tidak bisa berbicara. Namun, kami mengerti keinginannya. Ia satu-satunya anak yang menemani hingga kami meninggal nanti. Bukankah itu anugerah Tuhan?”
Ia melanjutkan ceritanya. “Saya menyayangi putri spesial saya, bahkan melebihi dua kakaknya. Saya sangat bersyukur. Mereka sudah berkeluarga dan mendapat pasangan hidup yang baik dan mapan. Tapi, putri bungsu saya tidak seberuntung kakak-kakaknya. Namun, justru lewat kekurangannya, cinta saya dan istri sebagai orang tua ditempa. Sejauh mana kami bisa menerima kondisinya yang berkebutuhan khusus.”
Tak terasa, setitik air mata menetes di pipi saya. Tuhan membuka mata dan hati saya lewat cerita bapak itu bahwa menerima kelebihan dan prestasi anak merupakan hal yang mudah. Namun, bagaimana bila buah hati kita tidaklah sempurna? Apakah kita bisa mencintainya dengan tulus? Ataukah, kita malah ingin menyingkirkan dan menyembunyikannya?
Bapak bertubuh subur itu berkisah, tadinya ia memiliki tiga toko bahan material. Pandemi membuat usahanya gulung tikar. “Sekarang banyak toko material di desa-desa, Mbak, sementara toko saya di kota. Pembeli lebih suka membeli di toko desa yang dekat. Saya pun terpaksa menutup tiga toko saya. Saya lalu berjualan sayur di kampung,” ceritanya pilu.
Iman manusia teruji lewat menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan. Bapak itu berusaha bangkit kembali setelah mengalami kebangkrutan. Justru putrinya itu menyalakan semangat hidup orang tuanya. Kasih sayang suami istri itu kian bertumbuh subur. Mereka tulus dan tekun merawat anak bungsu mereka yang spesial.
Hujan pun reda. “Saya pulang dulu, Pak. Terima kasih atas cerita Bapak yang indah.”
Ia menjawab, “Sama-sama, Mbak. Saya senang membagikan kisah saya pada Mbak.”
Ia lantas mengajak anaknya pulang. “Ayo pulang, Nak.”
Anak itu lalu digendongnya. Sunguh, kasih sayang orang tua sepanjang masa. Mereka hanya memberi tak mengharapkan kembali.
Saya menatap kedua orang itu dari kejauhan. Mereka mengajarkan saya nilai kehidupan, yakni menerima kekurangan sesama dan tidak putus asa menghadapi kegagalan dan kenyataan pahit.













