Tulisan ini berangkat dari sebuah obrolan santai di warung kopi. Meski sederhana, percakapan itu memunculkan refleksi yang menarik tentang suka duka menjadi seorang katekis. Tulisan ini sekaligus ingin menepis anggapan bahwa menjadi katekis adalah tugas yang mudah.
Menjadi katekis kerap menghadirkan dilema. Di satu sisi, ada panggilan untuk mengabdikan diri dalam pelayanan iman. Namun di sisi lain, ada tekanan dari berbagai pihak yang sering kali membebani pelayanan tersebut.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang siapa pun. Penulis hanya ingin berbagi pengalaman dan refleksi secara jujur tentang realitas yang dialami para katekis.
Pengabdian dalam Pelayanan Iman
Seorang katekis dapat berasal dari kalangan awam yang terlatih maupun dari komunitas religius tertentu. Mereka memiliki peran penting dalam membangun kehidupan iman umat dan komunitas Gereja.
Tugas utama katekis adalah mewartakan Injil dan ajaran Kristus. Pewartaan itu tidak hanya dilakukan melalui pengajaran, tetapi juga melalui teladan hidup sehari-hari.
Katekis diharapkan menjadi contoh bagi umat, terutama bagi anak-anak. Dengan demikian, ajaran yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan dihayati.
Selain itu, katekis membantu umat membangun kehidupan rohani yang lebih baik. Hal ini dilakukan melalui pendidikan iman, pembinaan, serta berbagai kegiatan rohani lainnya.
Untuk menjalankan tugas tersebut, katekis biasanya mendapatkan pembinaan khusus di bidang katekese. Pembinaan ini dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun pelatihan informal.
Katekis juga diharapkan memiliki kehidupan rohani yang kuat. Hal ini ditunjukkan melalui kebiasaan berdoa, keterlibatan dalam sakramen, serta relasi yang mendalam dengan Allah.
Di era digital, katekis bahkan dituntut mampu memanfaatkan media sosial dan teknologi informasi. Tujuannya agar pesan iman dapat disampaikan secara lebih kreatif dan menjangkau lebih banyak orang.
Tekanan dari Ekspektasi Umat
Namun, realitas di lapangan sering kali tidak sesederhana gambaran ideal tersebut. Para katekis kerap terjebak dalam berbagai ekspektasi umat. Pengabdian yang seharusnya menjadi bentuk pelayanan iman justru terasa seperti tekanan yang terus-menerus.
Ketika tidak sesuai dengan harapan umat, seorang katekis dapat dengan mudah menjadi sasaran kritik, gunjingan, bahkan penilaian negatif. Dalam situasi seperti ini, katekis sering kali merasa tidak memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Pelayanan iman akhirnya lebih banyak diarahkan pada upaya memenuhi kepuasan umat.
Akibatnya, esensi pewartaan Injil terkadang menjadi kabur. Kebenaran pewartaan sering dinilai bukan dari kedalaman pesannya, tetapi dari sejauh mana pesan itu sesuai dengan harapan umat.
Tidak jarang katekis dipandang seolah-olah harus mengetahui segala hal tentang iman. Ketika tidak mampu menjawab semua pertanyaan, mereka justru menghadapi kritik yang tajam.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah esensi pewartaan iman sungguh tercapai? Ataukah pewartaan hanya dianggap berhasil jika sesuai dengan ekspektasi umat?

Tekanan dari Struktur Gereja
Selain tekanan dari umat, para katekis juga sering menghadapi tuntutan dari pihak internal Gereja. Para religius, termasuk hierarki Gereja, kerap menuntut loyalitas dan totalitas dalam pelayanan para katekis. Dalam praktiknya, tuntutan ini dapat berubah menjadi tekanan yang tidak ringan.
Pewartaan iman terkadang bergeser menjadi kepentingan yang bersifat dogmatis. Ungkapan seperti “semua untuk Tuhan” sering digunakan sebagai alasan untuk menuntut pengorbanan yang semakin besar dari para katekis.
Secara teoritis, menjadi katekis memang merupakan pilihan bebas. Namun dalam praktiknya, para katekis sering merasa tidak memiliki banyak ruang untuk bernapas.
Pengabdian dan panggilan dijadikan dasar untuk menuntut komitmen yang tanpa batas. Beban pelayanan pastoral pun sering kali dilimpahkan kepada para katekis. Sementara itu, para pemimpin Gereja lebih banyak menunggu hasil dari pelayanan tersebut.
Ketika terjadi kegagalan atau muncul perbedaan pandangan di antara umat, katekis sering menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal iman sendiri bersifat universal dan berkembang melalui pengalaman pribadi setiap orang. Namun dalam praktiknya, sering muncul tuntutan keseragaman dalam kehidupan iman umat.
Situasi ini memunculkan apa yang disebut sebagai “jubahsentrisme”. Dalam pola ini, otoritas religius menjadi pusat perhatian, sementara umat dipandang sebagai hasil atau produk dari proses pembinaan iman.
Akibatnya, para religius sering kali berlomba-lomba menanamkan pengaruh dan otoritas mereka dalam kehidupan umat. Tekanan tersebut pada akhirnya kembali diarahkan kepada para katekis sebagai pelaksana di lapangan.
Ironi dalam Pelayanan
Secara formal, katekis sering disebut sebagai rekan kerja dalam pelayanan Gereja. Namun dalam kenyataan, posisi mereka tidak selalu setara.
Para katekis kerap menjadi pihak yang menanggung beban pelayanan paling berat, tetapi memiliki ruang yang terbatas untuk menyampaikan suara mereka. Ironinya, pelayanan yang seharusnya menjadi wujud kasih justru dapat berubah menjadi beban yang menyesakkan.
Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk meniadakan nilai luhur pelayanan iman. Sebaliknya, tulisan ini ingin mengajak semua pihak untuk melihat secara lebih jujur realitas yang dihadapi para katekis.
Dengan memahami realitas tersebut, diharapkan pelayanan iman dapat dijalankan secara lebih manusiawi, adil, dan setia pada semangat Injil. ***
Marselinus Eligius Kurniawan Dua








