Dari Porta Sancta ke Doa Sehari-hari

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia Hadir di Paroki Katedral Jakarta

News1517 Views
Tahun Yubileum membawa arus peziarah yang tak pernah surut ke Paroki Katedral Jakarta. Ribuan orang datang setiap hari, melewati Porta Sancta, membawa harapan, luka, syukur, dan kerinduan akan pembaruan hidup. Data panitia menunjukkan bahwa dari Januari akhir Desember 2025, hampir 220.000 peziarah telah melintasi pintu suci ini—sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan kisah iman umat Allah yang terus berjalan bersama.

 

Dalam dinamika inilah Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia (Pope’s Worldwide Prayer Network – PWPN) menemukan momentumnya. Sabtu – Minggu, 31 Januari dan 1 Februari 2026 lalu, PWPN secara intensif diperkenalkan kepada umat Paroki Katedral Jakarta melalui rangkaian tujuh Perayaan Ekaristi. Pengenalan PWPN ini adalah sebagai bagian dari upaya meneguhkan kembali identitas Gereja sebagai komunitas doa yang hidup dan terhubung secara global.

Promosi dan pendalaman makna PWPN dilakukan oleh Antonius Sumarwan, SJ, Koordinator Nasional PWPN Indonesia. Ia hadir dari Yogyakarta dan memimpin serta berhomili dalam Misa Sabtu pukul 16.00 serta Misa Minggu pukul 11.00 dan 19.00. Pada empat Misa lainnya, ia memberikan penjelasan singkat tentang PWPN di akhir perayaan, mengajak umat melihat doa mereka dalam cakrawala Gereja universal.

Dalam homilinya, Sumarwan menjelaskan satu fakta bahwa setiap peziarah yang melewati Porta Sancta diminta untuk mendoakan intensi doa Bapa Suci. Menurutnya tanpa disadari hal ini para peziarah itu sesungguhnya telah menjalani misi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia.

“Tahun Yubileum ini membantu kita menyadari bahwa Gereja adalah komunitas doa global. Kita tidak berdoa sendirian. Kita berdoa bersama Gereja universal, dipandu oleh ujud doa Paus,” ungkapnya.

Frater Serikat Jesus membagikan flyer Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. (Dok. PWPN)

Doa yang Menjadi Hidup

PWPN sendiri adalah karya Gereja yang telah berusia lebih dari 175 tahun. Lahir dari tradisi rohani Serikat Jesus di Prancis pada abad ke-19, dan diteguhkan Paus Fransiskus sebagai karya kepausan pada tahun 2018.

Dipandu dan disemangati oleh spiritualitas Hati Kudus Yesus, PWPN yang dulu dikenal sebagai Kerasulan Doa mengajak umat Katolik untuk menyatukan doa, hidup sehari-hari, dan misi Gereja bagi dunia.

Hal ini tampak nyata ketika dalam homili, Romo Sumarwan menyanyikan lagu “Doa Persembahan Harian, yang digubah oleh Damian Alma dan diperkenalkan saat kunjungan Pater Cristóbal Fones, SJ, Direktur Internasional PWPN, ke Indonesia pada Februari 2025 lalu. Doa ini mengajarkan bahwa seluruh hidup—pekerjaan, kelelahan, kegembiraan, konflik, kesabaran—dapat dipersembahkan dan dipersatukan dengan Ekaristi Kristus.

Menurut Romo Sumarwan, dengan Doa Persembahan Harian, doa tidak lagi terbatas pada ruang gereja. Doa hadir di dapur, kantor, sekolah, jalan macet, ruang perawatan, dan ruang kelas. Doa menjadi cara hidup.

Dalam terang Injil Sabda Bahagia, Romo Sumarwan menegaskan bahwa persembahan harian adalah jalan konkret menuju kebahagiaan sejati. Bukan kebahagiaan karena sukses atau kenyamanan, melainkan kebahagiaan yang lahir dari kasih, pengampunan, dan kepedulian.

Sejumlah tim PWPN berfoto bersama seusai bertugas. (Dok. PWPN)

Antusiasme dan Dukungan Umat

Promosi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia ini didukung oleh tiga puluh Promotor PWPN di Jakarta, termasuk di dalamnya 18 frater Serikat Jesus dari Kolese Hermanum. Tim promotor dikoordinasi oleh Anastasia Fetria, yang juga merupakan anggota Koor Caecilia Katedral dan memahami dengan baik dinamika liturgi serta kebiasaan umat.

Sebelum memasuki Gereja untuk Misa, umat menerima kartu Doa Persembahan Harian yang juga memuat informasi tentang PWPN Indonesia. Di akhir Misa, umat diajak membawa pulang buku doa tahunan PWPN 2026 berjudul Mengasih Maria, disusun oleh Romo Leo Sardi, SJ ahli Spiritulitas Ignasian yang saat ini menjadi pembimbing rohani di Collegio Internazionale del Gesu, Rome.

Kehadiran promosi PWPN selama dua hari ini mendapat apresiasi dan sambutan umat sungguh luar biasa. Setidaknya hampir 2.000 eksemplar booklet dibeli dalam dua hari kegiatan ini. Booklet ini berisi sebagai panduan doa sekaligus dukungan konkret bagi pelayanan PWPN di Indonesia dan dunia. Hampir 5.000 eksemplar kartu Doa Persembahan Harian pun dibawa pulang oleh umat.

Minat umat semakin besar ketika dalam homili diperkenalkan Doa “Berhenti Marah” karya Romo G.P. Sindhunata, SJ. Salah satu kalimatnya menyentuh banyak hati: “Berilah aku rahmat untuk menyadari, asal aku tak menganggap diri penting dan tinggi, aku justru bisa tertawa atas hal-hal yang menyulut marah.” Doa ini terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari umat kota besar.

Romo Antonius Sumarwan, SJ saat berhomili. (Dok. PWPN)

Dukungan Paroki yang Menggembirakan

Kehadiran PWPN di Katedral Jakarta tidak lepas dari dukungan penuh Romo Paroki Maharsono, SJ dan Romo Deo Datus, SJ. Di Paroki Katedral, intensi doa Bapa Suci telah menjadi bagian dari Doa Umat setiap Misa Minggu, dan Doa Persembahan Harian didoakan dalam Misa harian.

Tak hanya itu, Paroki Katedral secara khusus memesan 1.000 eksemplar booklet Mengasih Maria untuk dibagikan kepada para aktivis Gereja dan umat. Hal ini juga dimaksudkan untuk sarana pendalaman doa sekaligus ajakan untuk terlibat dalam Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia.

Harapan dan Langkah ke Depan

Menurut Romo Sumarwan, pengalaman kehadiran PWPN di Paroki Katedral Jakarta iji telah menumbuhkan harapan besar bahwa paroki-paroki lain dan berbagai lembaga Gereja dapat memberikan dukungan serupa bagi PWPN. Dukungan itu bukan pertama-tama soal kegiatan besar, melainkan kesediaan untuk mengintegrasikan intensi doa Paus dan Doa Persembahan Harian ke dalam kehidupan liturgi dan pastoral sehari-hari.

“Dalam bulan-bulan mendatang, Tim PWPN Indonesia akan melanjutkan safari pastoral ke sejumlah paroki dan komunitas di Keuskupan Jakarta dan Keuskupan Semarang. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan dan meneguhkan spiritualitas doa yang menggerakkan aksi ini,” terang Romo Sumarwan.

Seperti ditegaskan dalam homilinya di Paroki Katedral Jakarta ini, Gereja yang berdoa adalah Gereja yang hidup. Gereja yang hidup adalah Gereja yang bertindak. Dan Gereja yang bertindak adalah Gereja yang memberi harapan—bagi dunia yang sedang haus akan belas kasih, keadilan, dan kedamaian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *