Aku adalah seorang perempuan berusia 21 tahun yang masih terus belajar memahami arti kehidupan. Jika melihat kembali perjalanan yang sudah kulewati, ada banyak hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ada kebahagiaan, pengalaman menyenangkan, kekecewaan, air mata, bahkan masa-masa ketika aku merasa tidak cukup kuat untuk menghadapi semuanya.
Namun, dari setiap peristiwa itu, aku belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang, kita harus melewati jalan yang sulit sebelum akhirnya memahami arti sebuah kekuatan.
Sejak kecil, aku tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuaku mengajarkanku untuk menjadi perempuan yang mandiri, bertanggung jawab, dan tidak mudah bergantung kepada orang lain. Aku memahami, kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan.
Ada kalanya kita harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan sesuatu. Didikan tersebut perlahan membentuk diriku menjadi pribadi yang berusaha kuat dalam menghadapi berbagai keadaan.
Namun, perjalanan masa kecil hingga remajaku tidak sepenuhnya dipenuhi pengalaman menyenangkan. Ketika duduk di bangku SMP, aku pernah mengalami perundungan dari teman-teman sekelas. Penampilanku menjadi bahan ejekan mereka. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan kepada seseorang justru sering kudengar.
Awalnya, aku berusaha menganggap semuanya sebagai candaan. Akan tetapi, semakin lama, perkataan itu semakin membekas dalam pikiranku.
Aku mulai merasa tidak percaya diri ketika berada di lingkungan pertemanan. Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain dan merasa diriku tidak cukup baik. Perlahan, keberanian untuk menunjukkan diri sendiri semakin berkurang. Aku lebih memilih diam daripada harus mendengar komentar yang menyakitkan. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kusampaikan, tetapi aku memilih menyimpannya sendiri.
Aku berharap masa-masa tersebut akan berakhir ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Namun, kenyataannya tidak selalu sesuai dengan harapan. Saat SMA, pengalaman perundungan kembali terjadi. Aku melanjutkan pendidikan di sebuah asrama di Kutoarjo.
Bagiku, masa SMA seharusnya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru, membangun pertemanan, dan mengenal lebih banyak hal. Akan tetapi, aku justru kembali berhadapan dengan pengalaman yang membuatku kehilangan kepercayaan diri.
Perkataan dan perlakuan orang lain terkadang terasa lebih menyakitkan daripada yang terlihat. Aku mulai menarik diri dari lingkungan sekitar dan lebih sering menyimpan perasaan sendiri. Ada masa ketika aku merasa lelah, sedih, dan bertanya-tanya mengapa pengalaman seperti itu harus kembali terjadi dalam hidupku. Aku bahkan sempat merasa ingin menyerah karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi keadaan tersebut.
Meskipun demikian, aku perlahan menyadari bahwa perkataan orang lain tidak seharusnya menjadi ukuran untuk menentukan nilai diriku. Aku mungkin tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukanku, tetapi aku masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana aku memandang dan menghargai diriku sendiri.
Proses untuk memahami hal tersebut memang tidak mudah. Ada banyak hal yang harus kupelajari, terutama menerima bahwa aku juga memiliki kekurangan dan tetap berhak mendapatkan penghargaan sebagaimana orang lain.
Di tengah pengalaman yang tidak menyenangkan itu, aku bersyukur karena masih memiliki keluarga dan Tuhan sebagai tempat untuk berharap. Ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa, aku berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa. Aku menceritakan segala hal yang kurasakan, mulai dari kesedihan, ketakutan, hingga harapan yang belum mampu kuwujudkan.
Terkadang, aku memang tidak langsung menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang ada dalam pikiranku. Namun, doa membantuku untuk kembali menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian untuk menjalani hari berikutnya.
Aku percaya Tuhan tidak selalu menghilangkan kesulitan dalam kehidupan seseorang, tetapi Tuhan memberikan kekuatan agar kita mampu melewati setiap prosesnya.
Seiring berjalannya waktu, aku kembali dihadapkan pada persoalan lain. Keluargaku pernah mengalami penurunan kondisi ekonomi. Situasi ini membuatku semakin memahami bahwa kehidupan orang dewasa memiliki tanggung jawab dan tantangan yang tidak sederhana. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada keadaan yang harus diterima, dan ada berbagai hal yang terkadang tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Persoalan ekonomi keluarga bukan satu-satunya hal yang harus kuhadapi. Dalam perjalanan pekerjaan, aku juga pernah mengalami masalah yang membuat pikiranku semakin terbebani. Ketika beberapa persoalan datang dalam waktu yang berdekatan, aku merasa seolah-olah harus menghadapi semuanya sekaligus. Pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya kulupakan, keadaan keluarga, dan persoalan pekerjaan membuatku kembali berada dalam masa yang tidak mudah.
Namun, aku berusaha mengingat kembali semua perjalanan yang pernah kulewati. Aku pernah melewati masa SMP yang penuh dengan ejekan. Aku pernah menjalani masa SMA dengan berbagai pengalaman yang membuatku kehilangan kepercayaan diri. Aku juga pernah menghadapi keadaan keluarga yang tidak selalu baik-baik saja. Jika dulu aku merasa tidak akan mampu melewati semuanya, ternyata sampai hari ini aku masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidup.
Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah merasa takut, atau selalu mampu menyelesaikan masalah seorang diri. Menjadi kuat berarti berani mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, tetapi tetap memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan. Aku juga belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Setiap manusia membutuhkan dukungan dan tidak harus memikul seluruh persoalannya sendirian.
Kini, di usiaku yang ke-21 tahun, aku belum bisa mengatakan bahwa seluruh persoalan hidupku telah selesai. Masih ada banyak hal yang harus kuperjuangkan, cita-cita yang ingin kuraih, serta pengalaman baru yang mungkin akan kembali menguji kesabaranku.
Namun, aku tidak ingin terus-menerus melihat masa lalu sebagai sesuatu yang hanya menyisakan luka. Aku ingin menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Aku juga ingin belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diri sendiri. Tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah. Tidak apa-apa jika membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami keadaan. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Aku tidak perlu membandingkan proses kehidupanku dengan pencapaian orang lain.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai keberhasilan, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap berusaha ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Aku mungkin tidak memiliki kehidupan yang sempurna, tetapi aku memiliki banyak alasan untuk tetap bersyukur.
Terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberiku kesempatan untuk bangkit, bahkan ketika aku merasa tidak memiliki cukup kekuatan. Terima kasih juga kepada keluargaku yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.
Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya. Namun, satu hal yang ingin terus kupegang adalah keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti membawa pelajaran. Aku tidak ingin membiarkan pengalaman buruk menentukan masa depanku. Sebaliknya, aku ingin terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan menjadi perempuan yang lebih kuat tanpa kehilangan kelembutan hatinya.
Sebab, aku percaya bahwa selama masih ada harapan, selalu ada alasan untuk melangkah. Dan dalam setiap perjalanan itu, aku percaya Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Joesephine Manika Risa Saputri







