Tidak terasa aku baru saja bertambah usia. Usia 22 tahun ini menjadi usia baru yang sekarang yang akan aku jalani. Rasanya masih sedikit sulit untuk dipercaya bahwa aku sudah sampai di titik ini.
Kalau mengingat kembali perjalanan di usia 21 tahun, ada banyak hal yang ternyata sudah aku lewati. Ada kebahagian, kesedihan, kekecewaan, rasa takut, penyesalan, bahkan beberapa hal yang sampai sekarang masih menjadi pelajaran untuk diriku sendiri.
Jujur, ketika aku di usia 21 tahun kemarin, aku merasa diriku belum benar-benar dewasa. Secara umur mungkin sudah bertambah, tetapi secara sikap dan cara aku untuk berpikir, masih sering merasa seperti anak kecil. Ada banyak hal yang belum bisa aku kendalikan, terutama perasaan dan pikiranku sendiri.
Di usia 21 tahun, aku menyadari aku belum menjadi pribadi yang sepenuhnya baik. Bukan berarti aku tidak pernah berusaha, tetapi ada banyak sikap dan kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Aku terkadang menyepelekan sesuatu, menunda pekerjaan, kurang menghargai waktu, dan berpikir bahwa semuanya masih bisa dilakukan nanti.
Padahal, tidak semua kesempatan akan datang dua kali. Ada beberapa hal yang akhirnya membuatku menyesal karena terlalu santai, kurang serius, atau tidak memanfaatkan kesempatan yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Usia sebelumnya juga mengajarkanku bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ada rencana yang berhasil, tetapi ada juga harapan yang harus aku terima ketika tidak berjalan sesuai keinginan. Ada orang-orang yang datang membawa kebahagiaan, ada pula keadaan yang membuatku harus belajar menerima kekecewaan.
Dari semua itu, aku belajar bahwa tidak semua hal bisa aku kendalikan. Aku tidak bisa memaksakan sesuatu agar selalu berjalan sesuai keinginanku. Terkadang, yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan menerima hasil.
Aku juga belajar bahwa menjadi dewasa ternyata bukan hanya tentang bertambahnya umur. Menjadi dewasa berarti belajar bertanggung jawab atas pilihan sendiri, berani mengakui kesalahan, tidak selalu menyalahkan keadaan, dan mampu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensinya.
Memasuki usia 22 tahun, aku tidak ingin hanya menjadikan pertambahan umur sebagai perayaan setiap tahunnya. Aku ingin menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku ingin belajar mengendalikan emosi, tidak mudah menangis karena hal-hal yang seharusnya bisa dihadapi dengan tenang, serta tidak terlalu keras terhadap diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Aku menyadari bahwa proses menjadi dewasa tidak selalu mudah. Perubahan tidak cukup hanya diucapkan melalui harapan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan kecil setiap hari.
Aku ingin lebih berani mencoba hal-hal baru, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, dan belajar mengakui kesalahan tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Di usia 22 tahun ini, aku juga ingin lebih mengenal diriku sendiri. Aku ingin berhenti terlalu sering membandingkan perjalanan hidupku dengan orang lain. Setiap orang mempunyai waktu dan prosesnya masing-masing. Ada yang mungkin sudah mencapai banyak hal di usia 22 tahun, sementara aku masih berusaha menyelesaikan beberapa hal dalam hidupku. Namun, aku ingin percaya itu bukan berarti aku tertinggal. Aku hanya sedang menjalani perjalanan yang berbeda dengan versiku sendiri.
Aku berharap bisa lebih menghargai orang-orang yang masih ada di sekitarku, terutama keluarga dan orang-orang yang selama ini sudah memberikan dukungan. Aku ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk mereka, belajar mendengarkan, dan tidak menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang biasa saja. Sebab, semakin bertambah usia, aku semakin menyadari bahwa waktu bersama orang-orang terdekat adalah sesuatu yang sangat berharga.
Aku juga tidak berharap bahwa di usia 22 tahun semuanya akan berjalan sempurna. Aku tahu akan ada hari-hari ketika aku kembali merasa lelah, kecewa, menangis, atau bahkan meragukan diriku sendiri.
Namun, aku berharap kali ini aku bisa menghadapinya dengan cara yang lebih baik. Aku ingin belajar bahwa menangis bukan berarti lemah, gagal bukan berarti akhir dari segalanya, dan melakukan kesalahan bukan berarti aku tidak bisa berubah menjadi lebih baik.
Sebab, bagiku, bertambah usia bukan tentang seberapa jauh aku sudah melangkah dibandingkan orang lain, melainkan tentang seberapa banyak aku belajar dari perjalanan yang sudah aku lalui. Aku ingin menjadi lebih baik, bukan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, melainkan karena aku tahu bahwa diriku pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Emeriks Noviana Endah Purwati







