Setiap umat Katolik tentu memiliki kewajiban untuk mengikuti Perayaan Ekaristi atau Misa di gereja setiap hari Sabtu atau Minggu. Hal ini menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan iman umat Katolik.
Namun, jika melihat dari pengalaman pribadiku sendiri, mengikuti Ekaristi setiap minggu masih menjadi hal yang terkadang sulit aku lakukan secara konsisten. Aku sendiri lebih sering mengikuti Misa pada Sabtu sore dibandingkan hari Minggu.
Karena bagiku, hari Minggu terkadang bukan menjadi hari yang benar-benar tenang untuk beristirahat. Ada perasaan yang timbul, yaitu perasaan tidak tenang karena aku sudah mulai memikirkan kegiatan dan tanggung jawab apa yang harus aku jalani pada hari Senin. Biasanya, pikiran aku mulai tertuju pada tugas kuliah.
Namun, meskipun aku lebih sering memilih Misa pada Sabtu sore, kenyataannya aku juga masih sering melewatkan Misa. Ada kalanya aku merasa lelah, malas, memiliki kegiatan lain, atau berpikir bahwa aku masih bisa pergi ke gereja pada minggu berikutnya.
Bahkan, pernah dalam satu bulan aku tidak pergi ke gereja sama sekali. Jika dipikirkan kembali, sebenarnya ada banyak alasan yang membuat aku menunda atau melewatkan waktu untuk Tuhan. Tanpa aku sadari, ketika satu minggu aku melewatkan Ekaristi, terkadang minggu berikutnya aku juga masih melakukan hal yang sama.
Ketika merenungkan kebiasaan itu, aku merasa terkadang aku lebih mudah menyediakan waktu untuk hal-hal yang aku sukai daripada menyediakan waktu untuk Tuhan. Aku bisa menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman, bermain, tetapi untuk pergi ke gereja saja terkadang masih harus berpikir panjang.
Dari pengalaman ini, aku mulai bertanya kepada diri sendiri dan terlintas di dalam pikiran aku, mengapa aku lebih mudah melewatkan waktu untuk Tuhan? Apakah karena terlalu sibuk, lelah, atau malah justru karena aku belum benar-benar menjadikan Tuhan sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan itu membuat aku sadar, terkadang aku masih menempatkan kepentingan pribadi di atas kehidupan imanku.
Aku juga mulai memahami, mengikuti Ekaristi bukan hanya tentang menjalankan kewajiban sebagai umat Katolik setiap hari Minggu. Lebih dari itu, Ekaristi merupakan kesempatan bagiku untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.
Di tengah kesibukan dan berbagai persoalan yang aku hadapi, gereja menjadi tempat untuk berhenti sejenak, berdoa, bersyukur, mendengarkan Sabda Tuhan, dan mengingat kembali bahwa dalam menjalani kehidupan, aku tidak berjalan sendirian.
Aku menyadari, terkadang aku baru mencari Tuhan ketika sedang menghadapi masalah, merasa sedih, atau membutuhkan sesuatu. Namun, ketika keadaan sedang baik-baik saja, aku justru sering lupa untuk meluangkan waktu bersama-Nya.
Padahal, hubungan dengan Tuhan seharusnya tidak hanya dibangun ketika kita membutuhkan pertolongan, tetapi juga ketika kita sedang bahagia dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Bagiku, rajin pergi ke gereja bukan berarti aku sudah menjadi pribadi yang sempurna atau paling dekat dengan Tuhan. Justru, aku datang karena masih banyak hal yang perlu aku pelajari, masih banyak kekurangan yang perlu aku perbaiki, dan aku masih membutuhkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupku.
Ke depan, aku berharap bisa lebih menghargai waktu untuk Tuhan dan menjadikan Ekaristi sebagai bagian penting dalam kehidupan aku. Aku ingin datang ke gereja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kesadaran bahwa aku membutuhkan Tuhan.
Sebab, jika aku bisa meluangkan waktu untuk banyak hal dalam kehidupan ini, seharusnya aku juga bisa meluangkan waktu untuk Tuhan yang selalu hadir dan menyertai kehidupanku.
Emeriks Noviana Endah Purwati







