Rm. Paul Suparno SJ: Menguatkan dan Dikuatkan Orang Muda

Jendela1042 Views

Saat masih sebagai frater, Rm. Paul Suparno, SJ masuk Kolsani tahun 1980. Waktu itu, ceritanya, fraternya banyak sekali. “Kamar para frater itu hampir penuh. Ramai, sangat meriah,” kenang Rm. Paul ceria.

Namun, setiap pagi suasana Kolsani men­jadi sepi, karena semua frater pergi kuliah ke Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan. Pada masa itu, para frater pergi kuliah dengan me­ngendarai sepeda. Berbeda dengan se­karang, para frater mengendarai skuter.

“Hanya satu atau dua orang diperbolehkan naik sepeda motor, terutama yang agak tua,” sebut dosen Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta sekaligus Prefek Spiritual Kolsani ini.

Di antara rekan seangkatan, Rm. Paul ter­masuk yang agak tua karena baru masuk setelah lulus kuliah S-1 Keguruan Eksakta (Fisika). Namun, kesempatannya untuk me­makai sepeda motor tidak boleh setiap hari, melainkan hanya hari tertentu.

“Waktu itu sepeda motornya DKW (Dampf-Kraft-Wagen). Sepeda motor kuno ini dipakai berdua, saya dengan Fr. Alex yang belajar Islam,” ungkap mantan Rektor USD periode 2001-2006 ini.

“Kami boncengan dan sering macet. Maka saya lebih senang ikut dosen, karena dosen diantar pakai mobil,” lanjut Rm. Paul sembari tertawa.

Sebagai frater di Kolsani, kegiatan ekstra­kurikuler yang Rm. Paul ikuti ialah kelompok Christian Life Community (CLC). Hampir setiap minggu ia berjumpa dengan para mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan USD yang bergabung dengan CLC. “Jadi, Kolsani zaman itu terbuka sekali untuk mahasiswa luar untuk macam-macam kegiatan,” tunjuk Rm. Paul yang pernah menjadi rektor Kolsani (1997-2001) ini.

Dalam rentang tugasnya sebagai rektor Kolsani, Rm. Paul mengalami masa jatuhnya Presiden Soeharto. Kala itu beberapa frater ikut terlibat dalam aksi politik, bergabung dengan mahasiswa UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), serta USD. “Ada orasi di depan kampus. Bahkan, waktu demo mereka baris di depan, termasuk demo dari Mrican ke Alun-alun Utara. Ditunggu Sri Sultan di sana,” ingat Rm. Paul.

Sebagai pimpinan, Rm. Paul mendukung sekaligus memiliki kekhawatiran kalau mereka ditangkap. “Tapi para frater konsultasi, kami berdiskusi sebaiknya bagaimana,” tegas Rm. Paul.

Sebagai pendamping rohani, kebahagiaan Rm. Paul adalah melihat bagaimana para frater bergulat dengan panggilan. “Itu justru membuat saya yang tua ini juga dikuatkan. Dikuatkan dalam panggilan bukan orang tua menguatkan orang muda, tapi banyak juga orang tua dikuatkan orang muda. Itu juga yang membuat relatif banyak frater ingin setia dalam panggilan,” ujar pengasuh rubrik Kaul Biara di Majalah ROHANI ini.

Rm. Paul pun berharap agar Kolsani, se­bagai rumah pendidikan, terbuka untuk macam-macam hal. Sebab, penting bagi orang mu­da membuka diri untuk macam-macam pengaruh, situasi, dan sebagainya.

“Saya merasa frater-frater sekarang sangat terbuka juga pada macam-macam kegiatan dan perjumpaan dengan kelompok-kelompok lain. Itu sesuatu yang bagus. Kelak kalau jadi pastor ‘kan harus terbuka. Sesuai nasihat Paus Fransiskus, yakni harus terbuka kepada siapa pun karena kita bersaudara dengan siapa pun,” pungkasnya. (Kolsani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *